Iman Yang Memindahkan Gunung

Evening view of Ama Dablam on the way to Everest Base Camp - Nepal

Ayat Bacaan: Matius pasal 17 ayat 12

Kerangka Bacaan: 

Ada satu kebenaran yang luar biasa dari ayat ini, bahwa tiada yang mustahil bagi orang percaya. Ketika kita percaya, Tuhan mampu melakukan segala sesuatu yang mustahil. Itulah makna iman yang mampu memindahkan gunung. Setiap kita pasti merindukan untuk memiliki iman yang mampu memindahkan gunung. Bagaimana memiliki yang mampu memindahkan gunung.

Ada tiga prinsip yang dapat kita pelajari dari ayat ini.

  1. kita harus memiliki keberanian untuk beriman memindahkan gunung.

Sering kali kita mengukur iman kita secara manusia. mustahil mempercayai iman seukuran biji sesawi yang mampu memindahkan gunung. Secara logikanya. Untuk memindahkan gunung ya, diperlukan iman sebesar gunung. Seimbang, sesuai atau sebanding. Tetapi Yesus berkata lain. Untuk memindahkan gunung bukan soal ukaran iman kita. akan tetapi untuk memindahkan gunung diperlukan iman yang berani memindahkan gunung. Iman yang berani bertindak untuk melakukan sesuatu yang besar. Mengharapkan sesuatu yang besar atau mencapai sesuatu yang besar. Apa yang menjadi gunung kita? apakah masa depan gemilang, kehidupan yang sukses, kehidupan yang membawa berkat banyak orang, pemulihan keluarga, mencapai pendidikan tertinggi. Semua itu dapat terjadi asalkan saja kita memiliki iman didalam Yesus. Yesus mampu melakukannya, selama kita terus beriman kepadanya.

Apakah ini masuk akal? ini jelas masuk akal kalau dibandingkan dengan keyakinan orang dunia. orang-orang dunia saja ketika mereka memiliki keyakinan, mereka mampu mencapai sesuatu yang besar. Lihat saja para penemu. Seperti Thomas Edisson, Albert Einstein atau Wright bersaudara. Dengan keyakinan akan potensi yang mereka miliki mereka mampu menciptakan sesuatu yang besar seperti: lampu, rumus fisika atau pesawat terbang. Bukankah iman kita lebih dari pada sekedar keyakinan. Jika keyakinan orang dunia berdasarkan kemampuannya sendiri mampu mencapai sesuatu yang besar. Bukankah iman kita melebihi keyakinan itu karena kita mendasarkan iman kita pada Yesus juruselamat dunia dan berkuasa atas kehidupan kita.

  1. jangan pernah meremehkan iman kita, karena Yesus tidak pernah meremahkan iman kita.

Dalam firman-Nya ia berkata, “iman sebesar biji sesawi.” Bukan sekecil biji sesawi atau secukup biji seawi. Dalam arti lain, Yesus mengatakan bahwa iman seukuran biji sesawi sudah lebih dari cukup untuk memindahkan gunung. Iman seukuran biji sesawi lebih dari cukup untuk membuat gunung beranjak dari tempatnya. Yesus tidak pernah sekalipun meremahkan iman orang yang percaya kepada-Nya.

Kita dapat melihat bukti tersebut dalam Alkitab. Seorang anak kecil yang membawa 5 roti dan 2 ikan dengan imannya mampu memberkati 5000 orang. Seorang perempuan tua yang mandul seperti Hana, ketika ia berdoa dengan penuh iman di bait Allah, Tuhan menjawab doanya dengan memberinya seorang anak bernama Samuel. Atau perempuan yang bertahun-tahun sakit pendarahan. Ketika ia beriman, meskipun ia belum mengenal Yesus sebelumnya. Tuhan memulihkan keadaannya. Jangan pernah takut untuk beriman kepada Tuhan. selama kita beriman disitu selalu ada pertolongan.

  1. iman harus menjadi dasar dari kehidupan kita.

Pada kenyataannya, hidup ini penuh misteri. Banyak hal didalam dunia ini yang tidak bisa kita jawab dengan pengetahuan, pengalaman dan material. Seperti sakit penyakit, kejahatan, penderitaan atau keputuasaan. Dan semuanya itu hanya dapat dijawab oleh iman. Oleh sebab itu dalam menjalani kehidupan kita, kita tidak hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan manusia, tetapi kita juga harus mengandalkan iman kita. iman harus menjadi dasar dari kehidupan kita, untuk kita mengenal dan belajar tentang segala sesuatu sebagai perbuatan Allah atas manusia.

Lalu iman yang bagaimana? Iman dalam bahasa yunani adalah pistis. Pistis memiliki arti mempercayakan diri atau mengantungkan hidup kepada siapa yang kita percayai. Berarti ketika kita beriman, kita hidup mempercayakan diri dan mengantungkan seluruh hidup kita kepada Tuhan.

Gambarannya seperti ini, ada seorang pasien yang telah sakit sangat parah dan hampir mati. Suatu kali ia pergi kedokter dan dokter ini dengan cekatan memeriksa, mendiaknosa penyakitnya dan memberikan resep obat. Jika kita diposisi pasien, apa yang kita lakukan? pasti kita akan mengikuti saran dokter dan melakukan apa yang diperintahnya, karena kehidupan kita tergantung ditangannya.

Demikian juga arti beriman. Ketika kita beriman berarti kita mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. yang seolah-olah tanpa Tuhan, hidup kita akan mati. Itu mempercayakan diri atau mengantungkan hidup kepada Tuhan. kita menjalani kehidupan ini dengan ketaatan dan ketundukan penuh kepada perintah Tuhan yang memberi kehidupan.

Kesimpulan: janganlah takut untuk beriman. Berimanlah sebesar mungkin. pidahkanlah gunung-gunung yang merintangi jalan kita kepada kehendak dan rencana Tuhan yang besar atas hidup kita. selama kita beriman, disitulah Tuhan juga akan menolong kita.

Related posts