Tuhan Pasti Mencukupkan

  • Whatsapp

Ayat Bacaan : Filipi pasal 4 ayat 10 sampai 20

Renungan :

Read More

Paulus mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Jemaat yang telah memberi perhatian kepadanya melalui pemberian yang dia butuhkan. Namun disini, Paulus tidak hanya sekedar mengungkapkan rasa terima kasihnya saja. Ada hal yang jauh lebih berharga, pengajaran yang kita dapat dari sini:


1.      Mencukupkan diri. Paulus ingin memberikan pemahaman tentang pemeliharaan Tuhan atas hambaNya dan juga kepada kehidupan umatNya. Bahwa orang yang hidup di dalam Tuhan sesungguhnya akan selalu dicukupkan oleh Tuhan. Dengan iman kepada Tuhan kita dimampukan untuk dapat mencukupkan diri dalam segala keadaan.
Sebagaimana Paulus mengungkapkan pengalaman hidupnya, dia telah merasakan bagaimana hidup yang berkelimpahan dan bagaimana hidup dalam kekurangan. Namun, semuanya itu dapat dilaluinya sebab ada Tuhan yang selalu memampukannya menjalani semuanya itu.


Sekalipun jemaat tidak memberikan suatu pemberian yang dibutuhkannya, dia tetap bisa hidup dan menjalani kehidupannya seperti biasa, sebab Tuhan memelihara dan mencukupkan kehidupannya.
Mencukupkan diri dalam segala keadaan adalah kebalikan dari sikap yang tidak pernah merasa cukup. Karena sikap yang tidak pernah merasa cukup ini lahirlah kekikiran dan keserakahan.
Nafsu duniawi akan mendorong kita untuk terus mengumpulkan dan menyimpan sebanyak-banyaknya, “kantong, dompet kita tidak akan pernah berkata cukup, tidak lagi menerima uang”; “jika kita membuka rekening Bank, yang ada hanyalah saldo minimal, tidak akan dikatakan pada kita batas maksimum uang yang bisa saudara simpan adalah sekian”. Maka akibat selanjutnya karena tidak ada kata cukup ini, kita akan berfikir 2x atau 3x untuk mengeluarkan simpanan untuk suatu pemberian kepada orang lain. Karena berapapun yang kita miliki selalu kurang.
Sikap yang selalu merasa kurang ini akan menjadi racun yang menyengsarakan kehidupan kita. Walaupun kita sudah memiliki sesuatu untuk kita nikmati, namun kita justru selalu menyusahkan diri untuk terus mencari dan mengumpulkan yang padahal sebenarnya sampai kapanpun sikap yang selalu kurang dan belum cukup itu tidak pernah dipuaskan.
Mencukupkan diri dalam segala keadaan adalah bentuk syukur dan iman kita kepada Tuhan yang selalu memelihara hidup kita. Kita diajak oleh firman Tuhan untuk mencukupkan diri, supaya kita tidak disusahkan oleh nafsu dunia ini. “tiba awal bulan dia pergi kemana-mana untuk mengikuti keinginannya, kemudian tiba pertengahan bulan dia pergi kemana-mana mencari tempat berhutang”; “tetangga punya TV baru, HP terbaru, kita juga tidak mau kalah dengan tetangga”. Kita percaya dengan iman kita kepada Tuhan, bahwa Tuhan akan mencukupkan hidup kita dengan penuh sukacita dalam situasi apapun itu. Inilah yang sikap yang dimiliki oleh Paulus, Tuhan yang mencukupkan kehidupannya sehingga dia menjalani hidup tetap dengan penuh rasa syukur.


2.      Mengambil bahagian dari kesusahan orang lain. Sukacita Paulus atas bantuan yang diterimanya dari jemaat Filipi justru adalah keterbukaan jemaat untuk ambil bagian dalam kesusahannya. Paulus mengucap syukur kepada Tuhan atas keterbukaan pikiran dan perasaan jemaat untuk memberi.
Paulus menguatkan sikap jemaat yang terbuka untuk memberi itu, bahwa sesungguhnya pemberian mereka itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan buah yang akan mereka terima dari ketulusan mereka memberi (ayat 17). Ketulusan umat untuk memberi kepada orang yang berkekurangan bukanlah hanya sekedar pemberian kepada sesama, namun itu juga adalah persembahan yang harum yang berkenan kepada Tuhan (ayat 18). Sebagaimana Tuhan Yesus berfirman “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius pasal 25 ayat 40).
Pikiran dan hati yang terbuka untuk ambil bagian dari kesusahan orang lain adalah yang diharapkan Tuhan kepada kita, sebagaimana Tuhan kita Yesus Kristus yang turut merasakan dan mengorbankan DiriNya untuk menyelamatkan kita. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Lukas 6: 36).


Kita tidak akan berkekurangan dan menjadi miskin karena memberi kepada yang berkesusahan, tetapi kita percaya bahwa Tuhan akan selalu mencukupkan dan yang akan memenuhi segala keperluan hidup kita. Uang pecahan Rp.100,- Rp.200,-, Rp.500,- “mungkin” tidak begitu berarti di rumah kita karena selalu tegeletak di tempat yang sama dari hari ke hari, namun diluar rumah kita ada orang yang begitu membutuhkan itu. Selisih harga Rp.500 dipasar tradisional begitu berharga bagi penjual, padahal sampai dirumah uang itu menjadi “tidak begitu berharga”. Maukah kita anak-anak Tuhan ambil bagian dari kesusahan orang lain?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 comments

    1. Shalom, sama2 semoga semua terberkati, dan mohon maaf saya hanya update berkala, karena membagi waktu antara bekerja dan pelayanan juga. Terima kasih, Tuhan Yesus Memberkati

  1. Terima kasih firmanMu pgi ini Tuhan. ajarlah aku untuk sllu bersyukur dlm segala hal dan dan memberi dgn tulus. Amin

  2. puji Tuhan, trima kasih buat segala yang saya ada saat ini bahkan buat masalah yang saya hadapi, di dalam Kau ada kekuatan yang baru