Kuasa Kasih Yang Kekal

  • Whatsapp

AYAT UTAMA:
1 Korintus 13:13 (TB): Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Shalom saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Pagi ini kita berdiri di tengah dunia yang terus berubah. Apa yang hari ini menjadi tren, besok lusa sudah usang. Apa yang hari ini kita kejar mati-matian—harta, kekuasaan, bahkan pencapaian spiritual tertentu—suatu hari nanti akan memudar atau berakhir. Paulus, dalam suratnya yang indah kepada jemaat di Korintus, memberikan kita sebuah jangkar yang teguh, sebuah kebenaran yang tidak akan lekang oleh waktu.

Read More

Ia berbicara tentang tiga pilar yang akan tetap ada: iman, pengharapan, dan kasih. Namun, setelah mendaftar semua hal besar dan mulia, ia memberikan penekanan luar biasa pada satu hal: Kasih adalah yang terbesar. Mengapa kasih jauh lebih unggul dan abadi dibandingkan dua yang lain? Jawabannya terletak pada hakikatnya: kasih adalah sifat dasar Allah sendiri. Hari ini, mari kita gali mengapa kasih Kristus bukan sekadar emosi yang menyenangkan, tetapi adalah kuasa kekal yang harus menjadi fondasi hidup kita sebagai orang percaya.

1. Kasih Melampaui Karunia dan Pengetahuan (Ref: 1 Korintus 13:2 (TB): Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengerti segala rahasia dan segala pengetahuan, dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.)
Seringkali, kita tergoda untuk mengukur kedewasaan rohani kita berdasarkan seberapa banyak yang kita ketahui (pengetahuan), atau seberapa kuat manifestasi spiritual yang kita miliki (karunia). Paulus mengingatkan jemaat Korintus, yang sangat membanggakan karunia-karunia roh, bahwa tanpa kasih, semua keunggulan tersebut hanyalah kebisingan belaka (gong yang berkumandang).

Nubuatan akan berhenti, bahasa roh akan lenyap, dan pengetahuan akan digantikan oleh realitas yang sempurna. Mengapa? Karena karunia dan pengetahuan adalah alat bantu kita menuju kedewasaan, sementara kasih adalah tujuan akhirnya. Jika kita melayani, menginjil, atau bahkan berkorban besar (memberikan seluruh harta atau tubuh kita) tetapi didorong oleh motif kebanggaan, kewajiban, atau keuntungan pribadi—bukan kasih—maka catatan di surga menyatakan: “sama sekali tidak berguna” (ayat 3). Nilai dari perbuatan kita di mata Tuhan diukur dari kualitas kasih di belakang tindakan tersebut.

2. Kasih adalah Karakter Allah yang Dinyatakan (Ref: 1 Yohanes 4:8 (TB): Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.)
Jika iman adalah keyakinan kita terhadap janji Allah, dan pengharapan adalah antisipasi kita akan masa depan yang dijanjikan, maka kasih adalah esensi dari Allah itu sendiri. Alkitab tidak mengatakan ‘Allah memiliki kasih,’ tetapi ‘Allah adalah kasih’ (Yunani: *Agape*). Kasih inilah yang membuatnya rela turun ke dalam dunia, mengenakan daging, dan mati di kayu salib, sementara kita masih menjadi musuh-Nya (Roma 5:8).

Kasih yang Paulus bicarakan bukanlah kasih romantis (*eros*) atau kasih persahabatan (*phileo*), melainkan kasih *agape*: kasih yang berkorban, tidak menuntut balasan, dan mencari kebaikan objeknya tanpa syarat. Ketika Paulus mengatakan kasih adalah yang terbesar, ia mengatakan bahwa karakter Allah adalah fondasi terhebat yang harus kita miliki. Kita tidak bisa mengatakan kita mengenal Allah jika kita gagal mempraktikkan karakter *agape* ini dalam interaksi sehari-hari kita, baik terhadap sesama orang percaya maupun terhadap mereka yang membenci kita.

3. Kasih: Tali Pengikat Kesempurnaan (Ref: Kolose 3:14 (TB): Di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.)
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenakan berbagai pakaian: kesabaran, kemurahan, kerendahan hati, dan kebaikan (Kolose 3:12). Semua sifat baik ini adalah benang-benang yang indah. Namun, jika benang-benang tersebut tidak diikat, maka pakaian tersebut akan mudah terlepas. Kasih berfungsi sebagai ‘pengikat’ (tali penyempurna) yang menjaga semua kebajikan lainnya tetap utuh dan berfungsi.

Dalam konteks jemaat, kasih adalah perekat yang mencegah perpecahan. Tanpa kasih, kesabaran menjadi kepura-puraan, kerendahan hati menjadi manipulasi, dan pelayanan menjadi ajang persaingan. Kasih memastikan bahwa seluruh gereja, yang terdiri dari individu yang berbeda dengan karunia yang berbeda, dapat berfungsi secara harmonis, bergerak menuju tujuan tunggal: kesempurnaan di dalam Kristus. Jika kita ingin mencapai kematangan rohani, kita harus memprioritaskan kasih, karena ia menyempurnakan dan menyatukan segala sesuatu.

Saudara-saudara, iman adalah kebutuhan kita untuk memulai perjalanan, pengharapan adalah mesin yang membuat kita terus maju, tetapi kasih adalah tujuan akhir dan karakter yang akan kita bawa selamanya di hadapan Bapa. Ketika semua karunia lenyap, ketika penantian berakhir dan kita melihat Kristus muka dengan muka—hanya kasih, yang merupakan esensi dari Allah, yang akan kekal. Oleh karena itu, Paulus menantang kita: Kejar dan usahakanlah kasih itu melebihi pengejaran akan hal-hal lainnya.

Kasih adalah yang terbesar karena ia tidak berkesudahan, ia adalah wujud nyata dari karakter Allah yang berkorban (*agape*), dan ia berfungsi sebagai pengikat yang menyempurnakan seluruh kehidupan Kristen kita. Mari kita hidup hari ini dengan memprioritaskan kasih dalam setiap perkataan dan perbuatan kita.

DOA PENUTUP:
Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas anugerah *agape* yang telah Engkau tunjukkan di kayu salib. Ampuni kami jika seringkali kami memprioritaskan karunia, pengetahuan, atau pencapaian, daripada mempraktikkan kasih yang sejati. Kuatkan kami hari ini untuk mengenakan kasih sebagai tali pengikat yang menyatukan. Biarlah hidup kami memancarkan keagungan kasih-Mu yang kekal. Di dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Related posts