AYAT UTAMA:
Tetapi jawab Tuhan kepadanya: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. (2 Korintus 12:9-10)
Shalom saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Setiap kita yang duduk di tempat ini, tanpa terkecuali, adalah pejuang. Bukan pejuang dalam arti militer, melainkan pejuang dalam arena kehidupan rohani, mental, dan fisik. Dunia ini, dan bahkan hati kita sendiri, adalah medan pertempuran. Kita bergumul dengan godaan, dengan keraguan, dengan penyakit, dengan kesulitan ekonomi, dan yang paling pelik, pergumulan abadi antara apa yang kita tahu benar dan apa yang didorong oleh kedagingan kita.
Seringkali, di tengah pergumulan itu, kita merasa sendiri dan kelelahan. Kita berpikir, ‘Mengapa hal ini harus terjadi padaku?’ Atau ‘Iman saya pasti tidak cukup kuat.’ Kita cenderung menyembunyikan kelemahan kita, mencoba tampil sempurna di hadapan sesama, bahkan di hadapan Tuhan. Namun, Alkitab menawarkan paradoks yang indah: Kelemahan bukanlah akhir cerita; ia adalah pintu masuk menuju demonstrasi kuasa Ilahi yang paling spektakuler. Khotbah hari ini mengajak kita merenungkan bagaimana pergumulan kita yang paling dalam justru menjadi titik tolak bagi kekuatan Kristus yang sempurna.
1. Pergumulan adalah Realitas Manusiawi dan Rohani (Ref: Roma 7:15, 19, 24)
Rasul Paulus, seorang raksasa iman, tidak malu mengakui pergumulannya sendiri. Dalam Roma pasal 7, ia menggambarkan dengan jujur konflik internal yang tak terhindarkan: “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Ini adalah ratapan batin setiap orang yang mencoba hidup kudus—adanya ketegangan terus-menerus antara roh yang ingin menaati dan daging yang melawan.
Pergumulan kita bukanlah tanda kegagalan iman, melainkan bukti bahwa kita sedang berjuang. Jika kita tidak bergumul, mungkin kita sudah menyerah atau tidak peduli lagi. Pengakuan Paulus, ‘Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?’, adalah pengakuan bahwa pembebasan tidak datang dari kekuatan tekad kita sendiri, melainkan dari sumber di luar diri kita. Dengan mengakui kelemahan, kita berhenti berpura-pura dan mempersiapkan hati untuk menerima bantuan sejati.
2. Kuasa-Nya Menjadi Sempurna Dalam Kelemahan Kita (Ref: 2 Korintus 12:9)
Ketika Paulus memohon agar ‘duri dalam dagingnya’ diangkat, jawaban Tuhan sangat mengejutkan: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” Tuhan tidak menghilangkan pergumulan itu, tetapi Dia menyediakan kasih karunia yang cukup untuk melewatinya. Ini mengajarkan kita bahwa fokus kita harus berpindah dari menghilangkan masalah, menjadi mengandalkan Kasih Karunia yang melampaui masalah itu.
Kasih karunia (charis) Allah adalah energi Ilahi yang aktif dan memampukan kita. Dalam teologi Kristen, kelemahan bukanlah penghalang bagi pekerjaan Allah; sebaliknya, kelemahan kita menyingkirkan ego dan ketergantungan diri kita, sehingga kuasa Kristus benar-benar dapat mengambil kendali. Ketika kita sampai pada titik di mana kita berkata, ‘Aku tidak bisa melakukannya lagi, Tuhan,’ di situlah kuasa-Nya yang tak terbatas mulai beroperasi. Kelemahan kita menjadi kanvas, dan kuasa Kristus menjadi kuas yang melukiskan kemenangan.
3. Pergumulan Menghasilkan Karakter dan Harapan (Ref: Roma 5:3-5)
Ayat Alkitab mengajarkan bahwa penderitaan (termasuk pergumulan) bukanlah pengalaman tanpa tujuan. Roma 5:3-5 menjelaskan proses Ilahi: penderitaan menghasilkan ketekunan, dan ketekunan menghasilkan karakter yang teruji, dan karakter yang teruji menghasilkan pengharapan. Tuhan menggunakan kesulitan kita sebagai alat tempa untuk membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus.
Jika kita tidak pernah bergumul, kita tidak akan pernah mengembangkan ketekunan. Jika kita tidak pernah menahan godaan, kita tidak akan pernah menguji kesetiaan kita. Oleh karena itu, mari kita lihat pergumulan bukan hanya sebagai beban yang harus ditanggung, tetapi sebagai laboratorium rohani di mana Allah sedang menyempurnakan kualitas rohani kita. Ketika kita melewati lembah kegelapan dengan berpegangan pada Kristus, kita keluar bukan hanya sebagai penyintas, tetapi sebagai pribadi yang lebih dalam, lebih sabar, dan penuh dengan harapan yang tidak mengecewakan, karena Roh Kudus telah mencurahkan kasih Allah di dalam hati kita.
Saudara-saudari, jangan pernah lari dari pergumulan Anda. Jangan pernah berpikir bahwa Anda harus menanggungnya sendirian. Paulus mengajarkan kita untuk bermegah atas kelemahan kita, bukan karena kelemahan itu indah, tetapi karena kelemahan itu memaksa kita bersandar pada Kristus sepenuhnya. Ketika badai datang, jangan fokus pada ukuran ombak, tetapi fokuslah pada jangkar yang telah diberikan Kristus kepada kita: Kasih Karunia-Nya yang Cukup. Pegang janji ini: jika kita lemah, maka Dia kuat di dalam kita.
Pergumulan bukanlah akhir, melainkan jembatan menuju kekuatan Kristus yang sempurna. Biarlah kelemahan kita menjadi saksi kemuliaan dan kuasa Allah yang bekerja melalui kehidupan kita yang rapuh.
DOA PENUTUP:
Bapa Surgawi, kami datang di hadapan-Mu dengan segala kelemahan dan pergumulan kami. Kami mengakui bahwa seringkali kami mencoba kuat dengan upaya kami sendiri, dan kami gagal. Ampuni kami. Curahkanlah Kasih Karunia-Mu yang cukup, sehingga di tengah badai, kami dapat mendengar suara-Mu yang berkata, ‘Aku bersamamu.’ Ubah pergumulan kami menjadi ketekunan, dan ketekunan menjadi karakter yang membawa pengharapan. Ya Tuhan Yesus, naungi kami dengan kuasa-Mu. Amin.






