AYAT UTAMA:
Ibrani 11:1 (TB): Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Shalom saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Pernahkah kita memikirkan bagaimana kita menjalani hidup ini? Setiap hari, kita menekan saklar lampu, percaya bahwa listrik akan mengalir meskipun kita tidak melihat elektron. Kita masuk ke pesawat terbang, menyerahkan hidup kita kepada pilot dan insinyur yang tidak kita kenal. Kehidupan manusia selalu berjalan berdasarkan keyakinan—keyakinan bahwa hal-hal yang tidak terlihat atau yang ada di masa depan itu pasti.
Namun, ketika kita berbicara tentang iman Kristen, kita berbicara tentang jenis keyakinan yang jauh lebih tinggi dan lebih fundamental. Iman adalah mata rohani yang memungkinkan kita melihat apa yang Tuhan kerjakan, bahkan ketika keadaan fisik menunjukkan sebaliknya. Iman bukan sekadar optimisme buta, melainkan keyakinan yang kokoh berdasarkan janji dan karakter Allah yang sempurna. Hari ini, mari kita gali kebenaran mendalam dari Ibrani 11:1, bagaimana iman menjadi ‘bukti yang pasti’ dalam hidup kita.
1. Iman Sebagai Dasar Yang Diharapkan (Hipostasis) (Ref: Roma 8:24)
Ayat Ibrani 11:1 menggunakan kata Yunani ‘hypostasis’ yang diterjemahkan sebagai ‘dasar’ atau ‘hakikat’. Dalam konteks hukum zaman itu, hypostasis bisa berarti ‘akta kepemilikan’ atau ‘title deed’. Ini berarti iman adalah bukti nyata, dokumen kepemilikan, untuk hal-hal yang kita harapkan di masa depan. Kita belum menerima keselamatan penuh atau tubuh mulia, tetapi iman kita adalah jaminan di masa kini bahwa hal-hal itu pasti akan terjadi.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berharap. Tetapi harapan duniawi mudah runtuh. Iman Kristen, sebaliknya, menancapkan harapan kita pada realitas ilahi, bukan pada situasi duniawi yang fana. Iman memberikan kepadanya substansi kepada harapan kita; ia mengubah harapan yang kabur menjadi kepastian yang kokoh. Ketika dunia berkata, “mustahil,” iman berkata, “Tuhan sudah menjaminnya.”
2. Iman Sebagai Bukti Yang Tidak Dilihat (Elenkhos) (Ref: 2 Korintus 5:7)
Bagian kedua dari ayat kunci kita menyatakan iman sebagai ‘bukti’ (elenkhos) dari hal-hal yang tidak kita lihat. Elenkhos berarti konfirmasi atau pembuktian yang tidak dapat dibantah. Iman bertindak sebagai lensa yang membawa realitas Allah yang tak terlihat ke dalam fokus yang tajam. Ini adalah kebalikan dari hidup berdasarkan penglihatan (2 Korintus 5:7).
Iman memampukan kita untuk melihat kebenaran rohani di balik penampilan fisik. Saat menghadapi penyakit, iman melihat penyembuhan Kristus. Saat menghadapi kekurangan, iman melihat janji pemeliharaan-Nya. Tanpa bukti iman ini, kita akan selalu goyah dan didorong oleh kekhawatiran yang hanya didasarkan pada apa yang dilihat oleh mata jasmani. Iman adalah bukti yang meyakinkan jiwa kita bahwa kehadiran dan janji Tuhan adalah nyata, meskipun tidak terindra.
3. Iman: Kunci Untuk Menyenangkan Allah (Ref: Ibrani 11:6)
Mengapa iman begitu penting? Ibrani 11:6 memberikan jawaban tegas: “Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” Iman adalah bahasa yang dipahami dan dihargai oleh Tuhan. Kita tidak dapat datang kepada-Nya dengan usaha keras kita, melainkan hanya dengan percaya sepenuhnya pada siapa Dia dan apa yang telah Dia lakukan melalui Kristus.
Ayat ini juga menjelaskan bahwa iman memiliki dua komponen: pertama, percaya bahwa Allah itu ada; kedua, percaya bahwa Dia memberi upah (reward) kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Ini bukan iman pasif, melainkan iman yang aktif mencari, yang giat beribadah, dan yang taat. Iman adalah respons hati kita yang menyerahkan kendali, percaya bahwa Tuhan itu baik dan bahwa segala rencana-Nya, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat saat ini, adalah yang terbaik bagi kita.
Saudara-saudara, iman adalah mata uang Kerajaan Surga. Apakah tantangan hidup hari ini membuat Anda tergoda untuk hidup berdasarkan apa yang Anda lihat? Apakah kesulitan membuat Anda lupa akan ‘bukti’ kepemilikan janji Allah yang sudah ada dalam hati Anda? Marilah kita hari ini memperbarui pandangan kita, menguatkan ‘hypostasis’ (dasar) kita, dan mengizinkan ‘elenkhos’ (bukti) Tuhan memimpin langkah kita.
Iman adalah jaminan hari ini atas pengharapan masa depan, dan bukti nyata bagi realitas Allah yang tak terlihat. Hidup yang beriman adalah hidup yang berkenan kepada Tuhan dan yang pasti menerima janji-janji-Nya.
DOA PENUTUP:
Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas anugerah iman yang Kau berikan kepada kami. Kami akui, sering kali kami hidup oleh penglihatan dan bukan oleh keyakinan. Hari ini, kuatkanlah ‘bukti yang pasti’ di dalam hati kami. Tolong kami ya Roh Kudus, agar kami dapat melihat janji-Mu melampaui kesulitan kami, melihat kesetiaan-Mu di balik ketidakpastian kami, sehingga kami menjadi orang-orang yang senantiasa berkenan di hadapan-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.






