AYAT UTAMA:
Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.”
Shalom saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan menekankan kebebasan individu, kata ‘ketaatan’ sering kali dianggap sebagai beban, bahkan sebuah bentuk pengekangan. Kita cenderung memandang perintah Allah sebagai daftar ‘jangan’ yang membatasi kesenangan kita, atau sebagai ritual keagamaan yang kering. Namun, Alkitab menunjukkan pandangan yang radikal berbeda. Ketaatan bukanlah tujuan akhir—ia adalah jembatan menuju hati Allah. Ketaatan adalah bahasa kasih yang paling murni, yang melampaui segala persembahan lahiriah yang bisa kita berikan, sebagaimana ditegaskan oleh nabi Samuel kepada Raja Saul. Tuhan mencari hati yang rela mendengarkan dan melakukan, bukan tangan yang hanya sibuk memberi persembahan.
1. Ketaatan: Ekspresi Cinta dan Kepercayaan (Ref: Yohanes 14:21)
Ayat ini berkata: ‘Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.’ Ketaatan kita bukanlah usaha untuk ‘mendapatkan’ kasih Allah, melainkan respons alami dari hati yang telah menerima kasih-Nya melalui Kristus.
Ketika kita taat, kita sedang menyatakan dua hal: Pertama, bahwa kita mempercayai hikmat Allah melebihi hikmat kita sendiri. Kedua, bahwa kasih kita kepada-Nya adalah nyata, bukan sekadar emosi yang diucapkan di bibir. Ketaatan yang sejati selalu lahir dari pengakuan bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita, dan bahwa jalan-Nya, meskipun kadang sulit, adalah jalan kehidupan yang sempurna. Ini adalah ketaatan yang memercayai, bukan ketaatan yang terpaksa.
2. Ketaatan Membuka Jalan Berkat dan Perlindungan (Ref: Ulangan 28:1-2)
Kitab Ulangan secara eksplisit menghubungkan ketaatan dengan berkat (pasal 28), menyatakan bahwa jika kita sungguh-sungguh mendengarkan dan melakukan firman-Nya, maka segala berkat akan mengikuti kita. Ini bukan sekadar janji kekayaan material, melainkan janji damai sejahtera, perlindungan dari musuh, dan keberhasilan dalam pekerjaan tangan kita. Ketaatan menjadi ‘pagar’ ilahi yang melindungi kita dari konsekuensi dosa dan keputusan buruk.
Ketika kita taat, kita berjalan dalam ‘zona aman’ Allah. Ketidaktaatan, di sisi lain, membawa kita keluar dari lindungan itu, membuka pintu bagi kehancuran. Kisah-kisah di Alkitab, dari Nuh hingga Abraham, membuktikan bahwa berkat Allah selalu terikat pada tindakan iman yang diwujudkan melalui ketaatan. Berkat itu bukan hadiah yang diberikan secara acak, melainkan hasil alami dari berjalan selaras dengan kehendak Pencipta kita.
3. Ketaatan Diuji Dalam Hal-Hal Kecil (Ref: Lukas 16:10)
Yesus bersabda, ‘Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.’ Seringkali kita menanti momen-momen heroik untuk menunjukkan ketaatan, namun Tuhan menguji karakter kita dalam hal-hal yang tampaknya sepele: bagaimana kita menggunakan waktu, bagaimana kita mengampuni orang yang menyakiti kita, atau bagaimana kita jujur dalam keuangan yang kecil.
Kesetiaan dan ketaatan dalam hal kecil adalah pelatihan rohani yang mempersiapkan kita untuk tanggung jawab yang lebih besar. Jika kita gagal taat dalam panggilan untuk berdoa secara teratur, membaca Firman setiap hari, atau mengendalikan lidah kita, bagaimana mungkin kita bisa berharap taat ketika menghadapi krisis besar atau tanggung jawab kepemimpinan? Marilah kita menyadari bahwa setiap detail hidup kita adalah ladang bagi kesempatan untuk mengatakan ‘ya’ kepada Tuhan.
Saudara, Yesus Kristus adalah teladan ketaatan yang sempurna. Dia taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib (Filipi 2:8). Ketaatan-Nya memberikan kita keselamatan. Sekarang, sebagai pengikut-Nya, kita dipanggil untuk merefleksikan ketaatan itu dalam hidup kita sehari-hari. Apakah ada area dalam hidup Anda saat ini yang Firman Tuhan ajak untuk Anda taati? Jangan tunda! Mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan.
Ketaatan bukanlah opsional; itu adalah inti dari iman yang hidup. Ketika kita memilih untuk taat—sekecil apa pun langkahnya—kita sedang memilih kehidupan yang diberkati, aman, dan memuliakan Allah. Ketaatan adalah penyembahan sejati.
DOA PENUTUP:
Bapa Surgawi, kami berterima kasih karena Engkau telah menyatakan kehendak-Mu melalui Firman-Mu. Kami mengakui bahwa sering kali kami keras kepala dan lamban untuk taat. Ya Roh Kudus, berikan kami kepekaan untuk mendengar suara-Mu dan keberanian untuk segera melakukannya, baik dalam hal besar maupun kecil. Biarlah hidup kami menjadi persembahan ketaatan yang harum di hadapan-Mu. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.






