Benih Untuk Menabur

Ayat Bacaan:  Pengkhotbah 11:1-8

“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.”  Pengkhotbah 11:6

Read More

Adalah sia-sia orang Kristen berkata memiliki kasih namun tidak dibuktikan dengan tindakan;  Rasul Paulus menyebut  “…sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”  (1 Korintus 13:1).  Kasih itu memberi.  Ada kata bijak:  “Hidup kita akan selalu penuh makna jika hati kita selalu mau memberi.”  (anonim).  Karena kekristenan adalah kasih maka setiap orang percaya harus suka memberi/menabur, bukan menerima saja.  “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”  (1 Kisah 20:35b).

     Memberi sama seperti orang yang sedang menabur.  Untuk dapat memberi atau menabur kita memerlukan benih.  Tuhan tahu akan hal itu, karena itu  “Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;”  (2 Korintus 9:10).  Dengan kata lain Tuhan telah menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan agar kita dapat memberi atau menabur.

Seperti ketika dulu pada saat saya mulai mendapatkan ide membuat aplikasi ini, yang ada dalam pikiran saya adalah apa saya bisa?, karena maintenancenya harus rutin sedangkan saya adalah pekerja biasa dan sabtu atau minggu bahkan habis waktu untuk pelayanan di gereja. Namun kerinduan saya adalah agar aplikasi sederhana ini dapat menjadi berkat bagi saudara pembaca semua, maka saya teguhkan hati dan akhirnya Tuhan sediakan semua sampai saat ini.

Benih sudah disediakan oleh Tuhan, jadi dari pihak kita hanya diperlukan kemauan dan kerelaan memberi atau menabur benih tersebut.  Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memberi atau menabur, yaitu mendukung pekerjaan Tuhan di muka bumi atau pun menolong sesama.  Banyak orang menunda-nunda waktu untuk memberi/menabur padahal benih sudah Tuhan beri.  Ada pula orang yang memberi tapi bertendensi bisnis yaitu memberi dengan harapan mendapatkan keuntungan yang berlipat dari setiap pemberian yang diberikan.  Bukankah tindakan ini tak ubahnya seperti seorang investor yang sedang menanamkan modalnya, yang berharap mendapatkan keuntungan dari saham yang ditanamnya?  Mereka menjadikan Tuhan hanya sebagai sarana untuk berinvestasi saja, tidak lebih.

     Jika alasan memberi seperti itu Tuhan pasti sangat kecewa. Pemberian yang berkenan kepada Tuhan adalah pemberian yang didasari karena kasih, bukan maksud terselubung.

Jika kita mengasihi Tuhan kita pasti akan memberi seberapa pun yang kita miliki untuk Tuhan, tanpa memperhitungkan balasan!

Related posts