Ayat Utama
Yohanes 21:21-22 (TB)
“Apabila Petrus melihat dia, ia bertanya kepada Yesus: ‘Ya Tuhan, bagaimana dengan orang ini?’ Yesus menjawab: ‘Aku ingin dia tetap hidup sampai Aku datang, apakah itu urusanmu? Ikutilah Aku!’”
Pendahuluan
Dalam era media sosial ini, kita dilanda oleh banjir informasi tentang kesuksesan, kebahagiaan, dan kemajuan orang lain hanya dengan sentuhan jari. Kita melihat ‘highlight reel’ kehidupan teman-teman, rekan kerja, atau bahkan orang asing: karir yang melesat, rumah impian yang dibeli, pernikahan yang harmonis, pelayanan yang berkat, atau pemulihan yang instan. Tanpa sadar, hati kita mulai bergumam: “Mengapa jalan mereka begitu mulus, sedangkan jalanku penuh batu bata? Mengapa mereka sudah sampai, sedangkan aku masih terjebak di titik nol?” Perbandingan itu seperti racun yang perlahan mencuri sukacita, menaburkan rasa tidak syukur, dan yang paling berbahaya: membuat kita buta terhadap karya Allah yang sedang terjadi dalam hidup kita sendiri.
Kisah Petrus dan Yohanes di akhir Injil Yohanes memberikan gambaran yang sangat tajam tentang jebakan perbandingan. Petrus, yang baru saja dipulihkan dan dikomisionasikan oleh Yesus untuk “mengasahi domba-Dua”, justru mengalihkan fokus ke Yohanes: “Ya Tuhan, bagaimana dengan orang ini?” Pertanyaan itu lahir dari hati yang cemas, mungkin iri, atau sekadar ingin tahu soal nasib orang lain. Jawaban Yesus adalah pedang yang memotong kebodohan kita: “Apakah itu urusanmu? Ikutilah Aku!” Khotbah ini mengundang kita untuk berhenti menatap jalur orang lain, dan mulai menatap Pemilik Jalur, Yesus Kristus, yang merancang perjalanan unik bagi setiap anak-Nya.
Isi Khotbah
1. Perbandingan Adalah Loncatan Dari Panggilan Pribadi
Ayat Pendukung: Galatia 6:4-5 (TB) “Tetapi masing-masing uji pekerjaannya sendiri, maka ia akan memiliki bangga bagi dirinya sendiri saja, dan tidak bagi orang lain; karena masing-masing akan memikul beban sendiri.”
Paulus dalam surat ke jemaat Galatia mengajarkan prinsip fundamental: probatio (pengujian/bukti) pekerjaan sendiri. Kata Yunani phortion (beban) di ayat 5 merujuk pada beban tentara yang harus dipikul sendiri—peralatan perang, tenda, makanan. Tidak ada tentara lain yang bisa memikulkan peralatanmu. Begitu juga panggilan Allah. Ketika Petrus bertanya, “Bagaimana dengan orang ini?”, ia sebenarnya meninggalkan pos jagaannya. Ia ditugaskan mengasahi domba (penggembalaan), tetapi ia berperan sebagai inspektur jalur temannya.
Perbandingan membuat kita mengabaikan “beban” atau tugas spesifik yang Allah serahkan. Kita menghabiskan energi emosional untuk mengkhawatirkan jalur orang lain, sehingga kita kehabisan tenaga untuk berlari di jalur kita sendiri. Ibraniya 12:1 mengingatkan: “Berlari dengan ketabahan pada perlombaan yang ditetapkan untuk kita.” Perhatikan frasa “ditentukan untuk kita”—bukan untuk orang lain. Allah merancang kurva, naik turun, dan panjang jalur yang unik untuk membentuk karakter Kristus di dalam kita. Menyalahkan Allah karena jalur kita tidak mirip orang lain, berarti menuduh Allah tidak adil dalam merancang rencana-Nya.
Ilustrasi: Bayangkan seorang pemain orkestra yang seharusnya memainkan biola. Di tengah konser, dia berhenti bermain dan menatap pemain selo di sebelahnya, berkata dalam hati: “Dia mainnya lebih lancar,bogenya lebih mahal, posisinya lebih strategis.” Siapa yang mengharmonikan musik? Tidak ada. Pemusik (Allah) menatapnya kecewa bukan karena kemampuannya, tapi karena ketidakhadiran hati. Kita dipanggil untuk memainkan ‘partitur’ kita sendiri, bukan mengkritik partitur orang lain.
2. Kedaulatan Allah atas Waktu dan Musim Setiap Orang
Ayat Pendukung: Prediger 3:11 (TB) & Mazmur 139:16 (TB) “Segala-galanya dijadikan-Nya indah pada waktunya… Kehiduпан-Ku masih tidak berbentuk, sudah dilihat oleh-Mu; di kitab-Mu sudah tertulis segala hari yang ditetapkan untuk aku, sebelum ada satupun di antaranya.”
Yesus menjawab Petrus: “Aku ingin dia tetap hidup sampai Aku datang, apakah itu urusanmu?” Jawaban ini mengungkap kedaulatan mutlak Kristus atas sejarah dan biografi setiap orang. Yohanes hidup lama, mati natural di Patmos setelah menulis Wahyu. Petrus hidup lebih pendek, mati tersalib terbalik. Keduanya setia, keduanya mulia, tapi jalannya beda. Musa memimpin 40 tahun di padang gurun, Yosua memimpin penaklukan 7 tahun. Yusuf 13 tahun di sumur dan penjara sebelum jadi pemimpin Mesir, sedangkan Daud disalbkan muda tapi jadi raja 15 tahun kemudian.
Kita sering ingin ‘menyalin-tempel’ musim orang lain. Kita melihat musim panen mereka, tapi tidak melihat musim menabur di air mata, musim menunggu dalam diam, musim pukulan hujan badai yang mereka lewati. Prediger 3:11 (TB) mengatakan Allah menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya (be’itto). Bukan pada waktumu, bukan pada waktu temanmu, tapi pada waktu-Nya. Mazmur 139:16 menegaskan hari-hari kita sudah tercatat di kitab-Nya sebelum kita lahir. Membandingkan perjalanan berarti memprotes penulisan Tuhan di kitab kehidupan kita. Itu adalah pemberontakan terhadap penulis cerita.
Ilustrasi Alkitabiah: Pekerja di kebun anggur (Matius 20:1-16). Pekerja jam pertama mengeluh karena menerima upah sama dengan pekerja jam kesebelas. Pemilik kebun menjawab: “Apakah aku tidak berhak berbuat baik dengan harta ku? Atau apakah engkau iri karena aku baik?” Perbandingan mematikan kasih karunia. Kita lupa bahwa semua yang kita terima adalah karunia, bukan hak. Karunia Allah untuk orang lain tidak mengurangi karunia Allah untukmu.
3. Fokus Utama: “Ikutilah Aku” – Yesus Sebagai Teladan dan Tujuan
Ayat Pendukung: Ibrani 12:2 (TB) & Filipi 3:13-14 (TB) “Tataplah pada Yesus, pemimpin dan penyempurna iman kita… Saudara-saudaraku, aku sendiri menganggap bahwa aku belum telah mencapainya; tetapi satu hal yang kulakukan: aku melupakan apa yang di belakang dan mencatat apa yang di depan, aku berlari menuju garis finis…”
Perintah terakhir Yesus kepada Petrus adalah puncak khotbah ini: “Ikutilah Aku!” (Yohanes 21:22). Kata Yunani akolouthei (ikuti) bersifat imperatif present active: “Teruslah mengikuti-Ku, tetap mengikuti-Ku.” Bukan sekali jalan, tapi gaya hidup. Petrus tidak perlu tahu rincian nasib Yohanes. Dia hanya perlu tahu siapa yang di depannya. Saat mata kita menatap Yesus, perspektif berubah: dari “Mengapa dia?” menjadi “Tuhan, apa kehendak-Mu untukku hari ini?”
Paulus di Filipi 3 memberikan model yang sempurna. Dia memiliki ‘resume’ yang layak dibangga-banggakan (paragraf 4-6), tapi dia menganggap itu segala kotoran (skubala) demi kenal Kristus. Dia tidak bandingkan diri dengan Petrus, Yakobus, atau Yohanes. Dia “melupakan apa yang di belakang”—baik keberhasilan maupun kegagalan, baik nasib orang lain—dan “menatap ke depan” (epekteinomai: meregangkan badan ke depan seperti pelari). Garis finis bukanlah kesuksesan duniawi, bukan pula menjadi seperti orang lain, tapi menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29).
Ilustrasi Kehidupan: Seorang pendaki gunung yang terus menatap kaki pendaki di depannya (bandingan) akan terpeleset karena tidak melihat jejak kaki sendiri. Pendaki yang bijak menatap puncak (Yesus) sambil sesekali memeriksa jejak kaki itself (evaluasi diri Gal 6:4). Yesus adalah Puncak, Dia adalah Jalan (Yoh 14:6), dan Dia adalah Pendamping yang berjalan bersamamu melalui Roh Kudus. Kamu tidak sendirian di jalurmu. Dia yang memulai pekerjaan baik di dalammu akan menyempurnakannya (Fil 1:6).
Penutup
Jemaat yang dikasihi, hentikanlah permainan perbandingan yang merusak jiwa ini. Jalanmu bukan salah, jalanmu bukan terlambat, jalanmu bukan lebih rendah. Jalanmu adalah janji. Setiap lukanya dibiarkan oleh Tuhan yang mencintaimu untuk membentuk karakter-Nya. Setiap tikungan tajam adalah pelajaran ketergantungan pada-Nya. Setiap malam gelap adalah kanvas bagi bintang-bintang kasih-Nya bersinar lebih terang. Yohanes punya jalannya, Petrus punya jalannya, dan kamu punya jalanku. Yang ditanyakan Tuhan di akhir zaman bukan: “Mengapa kamu tidak seperti dia?” Tapi: “Apakah kamu setia mengikuti-Ku di jalan yang Kuberikan untukmu?” Pilihlah hari ini untuk menutup mata dari jalur orang lain, dan membuka mata lebar-lebar menghadap Yesus. Katakan dalam hati: “Tuhan, aku percaya rancangan-Mu. Aku akan berlari di jalanku, menatap pada-Mu, sampai garis finis.”
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Pemilik segala jalan dan Waktu. Kami datang mengakui dosa kami yang sering mencuri perhatian dari Engkau untuk menatap orang lain. Ampunilah rasa iri, kecemasan, dan rasa tidak percaya pada kebaikan rancangan-Mu. Ajari kami untuk percaya bahwa Engkau terlalu bijak untuk salah berbuat dan terlalu baik untuk berbuat kejam. Kirimkan Roh Kudus-Mu untuk meneguhkan langkah kami di jalur yang khusus Engkau tentukan. Jadikan hati kami tenang seperti anak yang dudok di pelukan ibunya (Mazmur 131:2). Biarkan kami berlari dengan ketabahan, menatap pada Engkau, pemimpin dan penyempurna iman kami. Demikian kami doakan dalam nama Yesus yang mulia. Amin.






