<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kumpulan khotbah kristen &#8211; Kerangka Khotbah Kristen</title>
	<atom:link href="https://drijie1.kokris.com/tag/kumpulan-khotbah-kristen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://drijie1.kokris.com</link>
	<description>Memuridkan Untuk Memberkati</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Jun 2023 01:06:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://drijie1.kokris.com/wp-content/uploads/2021/03/image-1-60x60.jpg</url>
	<title>kumpulan khotbah kristen &#8211; Kerangka Khotbah Kristen</title>
	<link>https://drijie1.kokris.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketekunan Dalam Doa</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/ketekunan-dalam-doa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Jun 2023 01:06:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[ketekunan]]></category>
		<category><![CDATA[ketekunan dalam doa]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan dan khotbah kristn]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen pagi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan orang kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=2715</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: Roma 12:12 &#8220;Tetaplah bertekun dalam doa&#8221; &#8211; Roma 12:12 Dalam perjalanan hidup Kristen,&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Ayat Bacaan: Roma 12:12</strong></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tetaplah bertekun dalam doa&#8221; &#8211; Roma 12:12</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan hidup Kristen, doa adalah salah satu aspek yang tak dapat diabaikan. Doa adalah sarana yang diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk berkomunikasi dengan-Nya, mencurahkan hati, memohon petunjuk, dan mengungkapkan syukur. Namun, seringkali kita dapat terjebak dalam kehidupan yang sibuk, tuntutan sehari-hari, atau bahkan rasa malas yang menghalangi kita untuk meluangkan waktu dalam doa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam surat Roma, kita diajak untuk tetap bertekun dalam doa. Ketekunan ini menunjukkan komitmen yang kuat dan ketekunan yang gigih dalam berhubungan dengan Tuhan. Ketekunan dalam doa mengimplikasikan adanya keyakinan yang teguh bahwa Tuhan mendengarkan dan akan menjawab doa kita. Ketekunan ini melibatkan kesabaran, kegigihan, dan keuletan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, mengapa kita harus bertekun dalam doa? Ketekunan dalam doa memberikan manfaat yang tak terukur bagi hidup kita sebagai orang percaya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama,</strong> doa yang tekun membantu kita menjaga hubungan intim dengan Tuhan. Ketika kita meluangkan waktu yang konsisten dalam doa, kita mendekatkan diri kepada-Nya, memperkuat ikatan kita dengan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya dengan lebih jelas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua,</strong> ketekunan dalam doa membantu kita untuk meningkatkan kepekaan spiritual kita. Dalam doa yang tekun, kita dapat mengenal lebih dalam kehendak Tuhan, memperhatikan panggilan-Nya, dan mengarahkan hidup kita sesuai dengan rencana-Nya. Doa yang tekun memungkinkan Roh Kudus untuk bekerja dalam hidup kita dengan lebih aktif, membimbing dan memberkati kita dalam segala hal.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga,</strong> ketekunan dalam doa memperkuat iman kita. Ketika kita terus mempersembahkan doa kita kepada Tuhan, walaupun jawaban-Nya tidak selalu langsung atau sesuai dengan harapan kita, kita tumbuh dalam kepercayaan bahwa Tuhan mendengar dan memperhatikan kita. Doa yang tekun mengasah keberanian kita untuk terus berharap, percaya, dan bergantung pada-Nya dalam setiap situasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertekun dalam doa bukanlah tugas yang mudah. Dalam dunia yang sibuk dan penuh tantangan ini, kita sering kali merasa tergoda untuk mengabaikan waktu doa atau bahkan menyerah. Namun, ketekunan adalah kunci untuk mempertahankan hidup doa yang sehat. Ia membutuhkan disiplin, fokus, dan keinginan yang tulus untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan sepenuh hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketekunan dalam doa adalah sebuah perjalanan yang terus-menerus. Saat kita melangkah maju dalam ketekunan ini, kita akan mengalami pertumbuhan rohani yang mendalam, keterhubungan yang lebih dalam dengan Tuhan, dan pengalaman yang luar biasa dalam kehadiran-Nya. Marilah kita melangkah maju dengan ketekunan dalam doa, menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada-Nya, dan membiarkan-Nya membentuk hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya yang sempurna.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Jangan Mengandalkan Diri Sendiri</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/jangan-mengandalkan-diri-sendiri/</link>
					<comments>https://drijie1.kokris.com/jangan-mengandalkan-diri-sendiri/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2020 02:33:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen 2020]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan renungan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan agama kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen 2020]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[renungan orang kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan rohani kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=1568</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan : Yeremia 17:1-18 &#8220;Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ayat Bacaan : Yeremia 17:1-18</strong></p>



<p class="has-text-align-justify wp-block-paragraph"><strong><em>&#8220;Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!&#8221;</em>  Yeremia 17:5</strong></p>



<p class="has-text-align-justify wp-block-paragraph">Lembaran tahun 2020 hampir saja usai.  Begitu cepatnya waktu berlalu, kini setahun sudah terlewati.  Sementara segala angan dan impian belum juga terwujud, kaki kita sudah melangkah di penghujung tahun.  Hari-hari berat telah kita jalani, sedangkan dunia ini makin sarat dengan ujian, tantangan, penderitaan dan goncangan.  Sungguh, perjalanan hidup yang begitu melelahkan.  Itulah sebabnya Pemazmur menasihati,  <strong><em>&#8220;Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.&#8221;</em>  (Mazmur 90:12).</strong>  Tidak perlu meratapi nasib dan larut dalam penyesalan.  Waktu tak bisa diputar kembali, akan terus melaju dan melaju.</p>



<p class="has-text-align-justify wp-block-paragraph">     Hari-hari yang telah kita lewati kemarin biarlah menjadi pengalaman yang berharga dan koreksi bagi kita.  Mungkin selama ini kita telah mengabaikan Tuhan dan lebih memilih mengandalkan manusia atau kekuatan sendiri dalam segala hal.  Mengandalkan diri sendiri sama artinya mengandalkan apa yang ada pada diri sendiri:  uang, deposito, kekayaan, status, pendidikan, jabatan dan sebagainya.  Kita merasa bahwa segala yang kita raih ini adalah semata-mata hasil dari jerih lelah sendiri, bukan karena Tuhan.  Namun, siapakah kita ini sehingga kita begitu membanggakan diri dengan apa yang kita miliki?  Daud berkata,  <strong><em>&#8220;&#8230;kita ini debu.  Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga;  apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.&#8221;</em>  (Mazmur 103:14-16)</strong>.  Kita harus sadar bahwa segala hal yang melekat pada diri kita ini tidak akan mampu menolong dan melepaskan kita dari goncangan-goncangan yang ada di dunia ini, sebab kita ini hanyalah debu!  Seberapa kuatkah kita, sehingga dalam segala perkara kita mengandalkan diri sendiri?  Umur, kekuatan, kemampuan atau pun kepintaran kita adalah terbatas, bersifat fana dan pada akhirnya akan lenyap.</p>



<p class="has-text-align-justify wp-block-paragraph">     Jadi di dalam diri manusia tidak ada satu pun yang dapat diandalkan.  Karena itu jangan sekali-kali berharap kepada sesama manusia, kita pasti akan kecewa!  Ada tertulis:  <strong><em>&#8220;Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?&#8221;</em>  (Yesaya 2:22).</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sebab tanah liat, kita tidak memiliki alasan untuk membanggakan apa yang kita miliki!&nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://drijie1.kokris.com/jangan-mengandalkan-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lihat Prioritas Kita</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/lihat-prioritas-kita/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2020 03:01:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[lihat prioritas kita]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=1370</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: Kejadian 19 Kita perlu menjaga mata kita, karena mata indra yang begitu penting.&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ayat Bacaan: Kejadian 19</strong></p>



<p class="has-text-align-justify wp-block-paragraph">Kita perlu menjaga mata kita, karena mata indra yang begitu penting. Info tentang mata: 85% info kita dapat dari mata. Mata berkedip 12 kali/menit. Mata mampu melihat 10 juta warna dan bisa membedakan 500 warna abu-abu. Organ paling cepat sembuh dalam 48 jam setelah luka. Mata adalah otot yang paling kuat. Alkitab berbicara juga tentang perlu menjaga mata yang bila tidak dijaga akan membawa kita jatuh dalam dosa (Kej. 3: 6; Mat. 5: 38; Mat. 6: 2). Seperti halnya yang terjadi dengan Lot.</p>



<p class="has-text-align-justify wp-block-paragraph">Kejadian 13: 10 “Lot melayangkan pandangannya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti taman Mesir, sampai ke Zoar.” Jelas orientasi hidup Lot adalah kesenangan hidup duniawi. Dari bagian Firman Tuhan yang kit abaca, kita diingatkan jangan salah prioritas seperti Lot. Seperti apakah prioritas Lot?</p>



<ol class="wp-block-list"><li><strong>Kemakmuran hidup lenih dari keutuhan kekerabatan (Kej. 13: 10)</strong></li></ol>



<p class="has-text-align-justify wp-block-paragraph">Ketika terjadi pertengkaran antara gembala-gembala Abraham dengan gembala-gembala Lot, Abraham yang adalah paman Lot yang mempersilahkan Lot memilih wilayah tempat buat ternak-ternaknya. Seharusnya Lot yang mempersilahkan Abraham untuk memilih lebih dulu karena Abraham adalah pamannya. Tetapi Lot tidak perduli aturan seperti itu. Ia memilih bagian yang terbaik buat dirinya. Landasan pilihan Lot adalah keangkuhan, keinginan daging dan mata. Mari kita sadar, bahwa hubungan kekerabatan, keluarga, tman harus diprioritaskan di atas kebutuhan yang sementara sifatnya. Jangan karena kesenangan duniawi, harta, tahta hubungan, kekerabatan, kekeluargaan kita jadi rusak.</p>



<ol class="wp-block-list" start="2"><li><strong>Kemapanan hidup lebih dari kerohanian keluarga (Kej. 19: 1)</strong></li></ol>



<p class="has-text-align-justify wp-block-paragraph">Lot bukan saja kaya secara materi, tetapi ia juga mengejar kehormatan hidup. Orang yang berasa di depan pintu gerbang pada masa itu menandakan ia punya jabatan di masyarakat. Salah satu tugasnya ialah menyelesaikan masalah yang terjadi di masyarakat. Jadi, Lot sangat memprioritaskan kemapanan hidup (kekayaan dan kehormatan). Tetapi sayang sekali, ia mengabaikan kerohanian buat keluarganya. Ini terlihat dari, Lot menawarkan kedua putrinya untuk disetubuhi oleh laki-laki yang ada di Sodom (Kej. 19 : 8). Kedua calon mantu menertawakan kabar pemusnahan kota Sodom (Kej. 19: 14). Istrinya lebih terpikat pada harta, dan jadi tiang garam (Kej. 19: 26). Dan puncaknya, kedua anak Lot melakukan hubungan badan dengan Lot (Kej. 20: 32-34). Mari kita jangan salah prioritas, utamakan pertumbuhan kerohanian keluarga kita lebih dari keinginan kemapanan hidup.</p>



<ol class="wp-block-list" start="3"><li><strong>Pilih jadi orang benar lebih dari pemberita kebenaran (2 Petrus 2: 6-8)</strong></li></ol>



<p class="has-text-align-justify wp-block-paragraph">Dalam kitab 2 Pet. 2: 6-8, referensi yang tertulis dalam Perjanjian Baru menceritakan betapa Lot, setiap hari ia menderita dengan perilaku dan kelakuan orang-orang Sodom dan Gomora yang sangat jahat. Tetapi Lot tidak berupaya untuk memberitakan kebenaranya ditengah-tengah orang-orang jahat itu. Bila ada, pastilah upayanya diberkati Tuhan dan membuahkan hasil. Nyatanya, setelah Tuhan Allah memusnahkan kota Sodom dan Gomora hanya ada satu orang benar yakni Lot. Seandainya Lot memberitakan kebenaran seperti Yunus memberitakan penghukuman atas Niniwe, pastilah ada yang bertobat. Mari kita jangan puas hanya menderita karena hidup benar, tetapi mari kita juga rela menderita karena kebenaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
