<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>khotbah kristen 2021 &#8211; Kerangka Khotbah Kristen</title>
	<atom:link href="https://drijie1.kokris.com/tag/khotbah-kristen-2021/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://drijie1.kokris.com</link>
	<description>Memuridkan Untuk Memberkati</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Dec 2021 07:45:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://drijie1.kokris.com/wp-content/uploads/2021/03/image-1-60x60.jpg</url>
	<title>khotbah kristen 2021 &#8211; Kerangka Khotbah Kristen</title>
	<link>https://drijie1.kokris.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>3 Maksud Allah Mengijinkan Badai Cobaan</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/3-maksud-allah-mengijinkan-badai-cobaan/</link>
					<comments>https://drijie1.kokris.com/3-maksud-allah-mengijinkan-badai-cobaan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2021 07:45:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Khotbah Tematik]]></category>
		<category><![CDATA[kerangka khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah iman]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[khotbahkristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan orang kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=2304</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: Lukas 8:22-25 Kerangka Khotbah: (22) Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Ayat Bacaan: Lukas 8:22-25</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kerangka Khotbah:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">(22) Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersamasama dengan murid-muridNya, dan Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah kita bertolak ke seberang danau.’ Lalu bertolaklah mereka. (23) Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur. Sekonyong-konyong turunlah taufan ke danau, sehingga perahu itu kemasukan air dan mereka berada dalam bahaya. (24) Maka datanglah murid-muridNya membangunkan Dia, katanya: ‘Guru, Guru, kita binasa!’ Iapun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu. Dan angin dan air itupun reda dan danau itu menjadi teduh. (25) Lalu kataNya kepada mereka: ‘Di manakah kepercayaanmu?’ Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepadaNya?</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat di atas bercerita tentang badai yang menghantam murid-murid dalam perjalanan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Jikalau kita percaya pada providensi Allah yang mengajarkan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan / diatur oleh Allah maka kita harus percaya bahwa badai yang menimpa Yesus dan murid-murid-Nya ini bukanlah suatu kebetulan. Semua itu tentu ada tujuannya. Dan karena itu pula kalau hidupmu dihantam oleh badai dan gelombang kehidupan, engkau berteriak tetapi tidak ada jawaban, Tuhan seolah-olah diam / tidur, itu tidak kebetulan. Semuanya ada tujuan!</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Lalu apa maksudnya? Inilah 3 maksud Tuhan :</strong></span></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong> TUHAN MAU AGAR MURID-MURID-NYA MENYADARI KELEMAHAN MEREKA. </strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Satu hal juga tidak kebetulan adalah bahwa peristiwa ini terjadi di danau Galilea. Ingat bahwa beberapa dari murid Yesus adalah mantan nelayan yang sudah biasa mengarungi danau Galilea. Boleh dibilang itu adalah “lapangan” mereka dan mereka sudah berpengalaman di “lapangan” itu. Tapi justru sekarang di “lapangan” mereka itulah badai dan gelombang menghantam mereka dan nyaris binasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa sebenarnya yang mau dikatakan Tuhan lewat semuanya ini? Tuhan sedang mau katakan bahwa sesungguhnya <em><strong>mereka adalah orang-orang yang lemah yang tanpa Tuhan pasti binasa</strong></em>. Ya, setiap badai kehidupan yang menghantam hidup kita sesungguhnya adalah pesan Tuhan untuk kita bahwa kita adalah makhluk lemah yang tanpa Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa Dia kita akan binasa. Kita tidak bisa mengontrol segala sesuatu agar seturut dengan keinginan kita. Kiranya setiap kita bisa menangkap pesan Tuhan lewat badai-badai yang menghantam kehidupan kita.</p>
<ol style="text-align: justify;" start="2">
<li><strong> TUHAN MAU MENGUJI DAN MENGUATKAN IMAN MURID-MURID-NYA. </strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Selain untuk menunjukkan kelemahan para murid, <em><strong>badai itu juga dimaksudkan untuk menguji dan menguatkan iman mereka</strong></em>. Ya, Tuhan mau menguji dan menguatkan iman kita melalui badai-badai hidup yang kita alami. Apakah kita tetap beriman dan berpegang pada firman-Nya? Lihatlah Ayub yang ditimpa oleh badai kehidupan. Tapi imannya tetap teguh kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayub 1:21 &#8211; katanya: &#8220;Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!</p>
<p style="text-align: justify;">Dia sudah berfirman bahwa Dia akan memelihara hidup kita. Dan untuk menguji apakah kita mempercayai-Nya dalam hal itu, Ia kirimkan badai yang menghantam / menghancurkan ekonomi / pekerjaan / bisnis kita untuk melihat apakah kita benar-benar percaya pada janji pemeliharaan-Nya?</p>
<p style="text-align: justify;">Dia sudah berfirman bahwa Dia akan melindungi kita di setiap jalan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan untuk menguji apakah kita mempercayai-Nya dalam hal itu, Ia kirimkan badai berupa bahaya yang mengancam hidup kita untuk melihat apakah kita benar-benar percaya pada janji perlindungan-Nya? Dia sudah berfirman bahwa Dia akan menyertai kita. Dan untuk menguji apakah kita mempercayai-Nya dalam hal itu, Ia kirimkan badai berupa kehilangan orang-orang yang terkasih, untuk melihat apakah kita benar-benar percaya pada janji penyertaan-Nya? Demikianlah setiap badai yang Ia kirimkan dalam hidup kita sebenarnya untuk menguji dan menguatkan iman kita. Dan karenanya biarlah kita tetap berpegang teguh pada setiap firman-Nya setiap kali badai kehidupan menerpa kita.</p>
<ol style="text-align: justify;" start="3">
<li><strong> TUHAN MAU MENUNJUKAN KUASA-NYA DAN MEMPERKENALKAN DIRI-NYA KEPADA PARA MURID. </strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Perhatikan ayat 25 :</p>
<p style="text-align: justify;">Lukas 8:25 – “&#8230;. Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepadaNya?</p>
<p style="text-align: justify;">Matius 8:27 &#8211; Dan heranlah orang-orang itu, katanya: &#8220;Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Hari itu, hari di mana murid-murid dihantam badai dan taufan, mata mereka melihat sebuah mujizat yang luar biasa bahwa angin badai, taufan, gelombang teduh seketika. Hari itu juga mereka menyadari mereka tidak sedang mengikuti seorang guru biasa. Ini lebih daripada seorang manusia. Dia Tuhan dan Allah. <em><strong>Seandainya perahu mereka tidak dihantam badai hari itu, mereka tidak berkesempatan untuk melihat mujizat yang luar biasa itu dan juga tidak mengenal Yesus dengan lebih baik.</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa Tuhan membiarkan Israel ditindas dan menderita ratusan tahun di Mesir? Supaya pada waktu Ia menyelamatkan mereka dari sana, mereka dapat melihat kuasa dan keajaiban Tuhan serta dapat mengenal-Nya dengan baik. Bandingkan :</p>
<p style="text-align: justify;">Keluaran 18:10-11 – (8) Lalu kata Yitro: &#8220;Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun. (11) Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, &#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa Tuhan membiarkan Naaman yang hebat itu terkena kusta? Supaya Ia bisa melihat kuasa Tuhan nyata atas dirinya dan mengenal Tuhan dengan benar.</p>
<p style="text-align: justify;">2 Raja-Raja 5:15 &#8211; Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu. Setelah sampai, tampillah ia ke depan Elisa dan berkata: &#8220;Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. &#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa Tuhan membiarkan anak janda Sarfat jatuh sakit dan mati? Supaya Ia bisa melihat kuasa Tuhan dan percaya pada Firman Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">1 Raja-Raja 17:24 &#8211; Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: &#8220;Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, setiap badai hidup yang menerpa kita <em><strong>sebenarnya adalah sebuah kesempatan untuk melihat kuasa / mujizat Tuhan berlaku atas kehidupan kita</strong></em>. Ini tidak berarti bahwa Tuhan selalu akan membebaskan kita dari dari setiap problem. Tidak! Itu mungkin berarti bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan kepadamu untuk menanggung problem itu. Itu juga sebuah mujizat.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian juga setiap badai hidup yang menerpa kita sebenarnya adalah sebuah kesempatan untuk mengenal Dia dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika anda tidak pernah mengalami sakit, bagaimana anda mengenal Dia sebagai Penyembuh? Jika anda tidak pernah mengalami kesedihan, bagaimana anda mengenal Dia sebagai Penghibur? Jika anda tidak pernah mengalami kekurangan, bagaimana anda mengenal Dia sebagai Pemelihara? Jika anda tidak pernah mengalami ketakutan, bagaimana anda mengenal Dia sebagai Pengawal? Jika anda tidak pernah mengalami bahaya, bagaimana anda mengenal Dia sebagai Penjaga? Jika anda tidak pernah mengalami kesendirian, bagaimana anda mengenal Dia sebagai Sahabat? Jika anda tidak pernah mengalami kebimbangan, bagaimana anda mengenal Dia sebagai Penasehat? Jika anda tidak pernah mengalami tuduhan, bagaimana anda mengenal Dia sebagai Pembela?</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu janganlah mengeluh, janganlah bersungut-sungut, janganlah kehilangan kepercayaan / iman apabila perahu kehidupanmu dihantam badai. Sebaliknya bersyukurlah karena semua diatur Tuhan untuk memberimu kesempatan melihat kuasa-Nya dan mengenal-Nya dengan lebih dalam.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://drijie1.kokris.com/3-maksud-allah-mengijinkan-badai-cobaan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>4 Arti Hidup Adalah Kristus</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/4-arti-hidup-adalah-kristus/</link>
					<comments>https://drijie1.kokris.com/4-arti-hidup-adalah-kristus/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2021 00:27:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Khotbah Tematik]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[renungan iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[renungan rohani kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=2300</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: Filipi 1:21, &#8220;Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.&#8221; Renungan/Kerangka Khotbah:&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Ayat Bacaan: Filipi 1:21, &#8220;Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.&#8221;</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Renungan/Kerangka Khotbah:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Paulus memberikan satu rumusan hidup bagi orang Kristen, bukan hanya di dalam tahun ini, tetapi di dalam tahun-tahun yang akan datang. “For me to live is Christ, and to die is gain (bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan).” Apa artinya “hidup adalah Kristus?” Paulus melihat dengan begitu tajam, dia memberikan satu landasan filsafat hidup orang Kristen. Kekristenan itu bukan hanya semata-mata tentang idea, kognitif, belief, doktrin, tapi kekristenan itu about life (mengenai hidup). Seringkali kita mempercayai Kristus sebagai Juruselamat tapi tidak sebagai Tuhan. Sebagai Penyelamat jiwa tapi bukan sebagai Penguasa hidup kita. Ketika Paulus berkata, “To live is Christ” berarti kekristenan dengan hidup ini menyatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Abraham Kuyper berkata bahwa ketika Alkitab berbicara tentang Kristus dengan umat pilihanNya/gerejaNya, selalu dibuat suatu hubungan yang organis. Alkitab mengatakan hubungan orang Kristen dengan Kristus seperti pokok anggur dan rantingnya. Ranting mengambil makanan &#8211;&gt; hubungan organis. Digambarkan juga dengan Kepala dan tubuh, kepala dan tubuh ini menjadi satu, darah mengalir, ada roh yang satu. Kristus juga mengatakan: Saya membuat suatu perjanjian yang kekal didalam perjamuan kudus: inilah tubuhKu, makanlah, inilah darahKu, minumlah. Paulus lebih jauh mengatakan di Galatia 2:20, “Bukan aku lagi yang hidup, tapi Kristus yang hidup di dalamku.” Alkitab berkata, kita di dalam Kristus, Kristus di dalam diri kita. Hidup adalah Kristus, artinya adalah mempunyai hubungan life.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lalu apa artinya, “to live is Christ”? Ada 4 hal:</strong><br />
<em><strong>1. Kita harus men-display / memanifestasikan sifat-sifat Kristus di dalam hidup kita</strong></em>. Buah-buah Roh harus muncul di dalam diri kita. Hanya Paulus, tidak ada rasul lain yang berani mengatakan, “Ikutlah teladanku, seperti aku mengikuti teladan Kristus.” Seringkali kita jadikan Kristus sebagai tameng dan excuse bagi kelemahan-kelemahan kita, “Oh jangan lihat saya, saya kan manusia, sekalipun saya hamba Tuhan, majelis, pengurus, atau aktifis, saya kan juga manusia, lihat Tuhan Yesus saja, jangan lihat saya. Jadi kalau engkau melihat kelemahan dalam hidupku, maklumlah.“ Saudara tahu? Mahatma Gandhi hampir menjadi orang Kristen, kenapa dia tidak meneruskan? Bagaimana mungkin dia menjadi orang Kristen, kalau dia melihat British Colonialisme di India begitu kejam.<br />
Kenapa Belanda yang menjajah Indonesia tidak bisa membuat Indonesia mayoritas orang Kristen? Karena tidak ada teladan hidup. Penginjilan yang paling efektif yaitu saudara dan saya menjadi teladan, C.S. Lewis mengatakan, “Yang menghalangi orang datang kepada Kristus / batu sandungan yang paling besar adalah orang Kristen.” Celakalah jikalau Saudara dan saya yang sudah tidak menginjili namun membuat orang-orang yang bertobat dari hasil KKR dari Hamba-hamba Tuhan, akhirnya orang tersebut tidak mau datang gereja lagi karena kita menjadi batu sandungan bagi mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>2. To treasure / kita melihat di dalam hidup kita bahwa yang paling berharga adalah Kristus</strong></em>. Rasul Paulus mengatakan di dalam Flp. 3:7 semua kehebatanku jika dibandingkan dengan Kristus, itu semua merupakan suatu kerugian / sampah. Bukankah Paulus seorang yang begitu pintar, berpotensi, fighting spirit begitu hebat, begitu tajam pemikirannya, belajar di bawah seorang professor yang begitu besar, namanya professor Gamaliel? Mengapa dia katakan hal seperti itu? Ada yang mengatakan, “Tuhan pilih Saulus karena Tuhan tahu Saulus banyak potensinya, dan Tuhan pilih dia supaya dia mengerjakan sesuatu untuk pekerjaan Tuhan.” TIDAK! Paulus mengatakan semuanya ini suatu kerugian. Jangan salah sangka, jikalau kita mempunyai potensi sebelum menjadi orang Kristen, HARUS digunakan bagi pekerjaan Tuhan? Ketika Paulus menuliskan Filipi 3:7, dia mengatakan bahwa potensinya adalah suatu kerugian, apa artinya? Bukankah potensinya bisa digunakan bagi pekerjaan Tuhan begitu hebat? Seringkali orang yang punya banyak potensi tidak lagi bersandar pada Tuhan namun bersandar pada kekuatan diri. Itu sebabnya Paulus dalam 1 Korintus 2:1-5 mengatakan ketika saya menyampaikan Firman Tuhan, mempresentasikan Injil, Saya tidak sekalipun mengandalkan hikmat manusia yang ada dalam diriku, tapi semata-mata adalah hikmat Kristus dengan kuasa RohNya. Ada seorang bernama C.T. Studd yang kemudian mendirikan Worldwide Evangelization for Christ (WEC), badan misi yang mengirimkan missionaris begitu banyak di seluruh Indonesia. Beliau adalah salah satu orang yang paling langka di seluruh dunia, seorang Inggris, berasal dari keluarga yang begitu kaya, termasuk salah satu dari Seven Cambridge Scholars, bukan hanya itu, atletik nomor 1 di Inggris pada saat itu. C.T. Studd ketika dia menjadi orang Kristen, dia kemudian memikirkan, kalau dia melayani Tuhan dengan semua potensi yang ada pada dia, dia merasa akan membawa banyak batu sandungan, dia kemudian berkata, Tuhan saya menyerahkan semua harta saya untuk mendirikan satu badan misi yang namanya Worlwide Evangelization for Christ. Setelah itu dia diutus menjadi misionaris oleh badan misinya sendiri, diberi uang sama dengan misionaris yang lain, uang yang begitu sedikit, harus berjuang mati hidup di situ. Di situ baru dia bertumbuh di dalam Tuhan, bergantung dan dipakai oleh Tuhan. Kira-kira ini yang dimaksudkan oleh Paulus. Sekali lagi, jangan salah tafsir, saya tidak melarang kita memiliki potensi. Semuanya harus digunakan untuk Tuhan, tapi jangan kita bergantung pada potensi, melainkan bergantung pada Tuhan saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>3. To sacrifice / Hidup adalah Kristus, bergantung kepada berapa banyak, berapa besar saya berkorban bagi Kristus</strong></em>.  Ketika Paulus berbicara tentang sacrifice, Paulus tidak hanya maksudkan pengorbanan yang pasif, apa artinya? Ketika kita menjadi orang Kristen, kita didiskriminasikan. Contohnya, naik jabatan jadi sulit. Tetapi, yang Paulus maksudkan adalah pengorbanan secara aktif, Apa artinya? 2 Korintus 12:9-10 mengatakan karena Kristus, aku akan melakukan kebenaran dan untuk itu aku harus mendapatkan satu penderitaan. Orang Kristen itu harus punya musuh. Kalau tidak punya musuh, bukan orang Kristen yang sejati, musuh kita bukan orang yang kita benci, musuh kita adalah orang yang membenci kita, kenapa dia membenci kita? Bukan karena semata-mata kita orang Kristen, tapi semata-mata karena kita menjalankan perintah Tuhan. Hidup kita tidak berkompromi dengan dosa, hidup kita penuh konsisten dengan Firman. Kebenaran kita nyatakan, disitu kemudian kita dimusuhi dan harus berkorban.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>4. To die is gain / Mati adalah keuntungan</strong></em>. Apa artinya? Orang Kristen mempunyai kekasih jiwa, yaitu Tuhan Yesus. Ketika kita meninggal, kita menghadap kepada kekasih jiwa kita. Ada seorang ibu dari teman kami. Sebelumnya dia adalah seorang Katolik tetapi menerima Kristus saat dia sakit kanker. Dia begitu kesakitan tetapi mulutnya selalu tersenyum. Anak-anaknya tahu, waktunya sudah tidak lama lagi, ibunya akan meninggal, lalu mereka menangis. Tetapi ibunya berkata, “Kenapa menangis? Kalian iri ya sama mama?” Anak-anaknya langsung menjawab, “Iri bagaimana? Mama sebentar lagi mungkin akan pergi” Mamanya menjawab, “Lho? Saya bukan pergi, saya pulang ke rumah Tuhan. Saya sebentar lagi akan bertemu dengan kekasih jiwa saya.” Lalu anak-anaknya mencucurkan air mata. Ketika Paulus menuliskan “mati adalah keuntungan.” Apakah artinya hanya sebatas itu saja? Tidak, bukan hanya itu, ada arti yang lebih dalam. Dalam 2 Timotius 4:6-8 Paulus mengatakan, darahku sudah mengalir, kematianku sudah dekat, aku telah mengakhiri pertandingan dan aku sudah mencapai garis akhir. Paulus pada akhirnya dipancung kepalanya oleh kaisar Nero, tapi bagi saya, Paulus mati bukan karena dipancung oleh Nero, Paulus mati karena kehendak Tuhan, rencana Tuhan dalam hidupnya sudah dia genapi. Amin saudara? Setiap orang Kristen yang mati harus menganggap mati itu adalah keuntungan, apa artinya? Artinya saudara dan saya sudah menggenapkan rencana Tuhan dalam hidup kita.<br />
Saat malaikat pencabut nyawa datang, tidak ada seorangpun yang dapat menghindar. Tetapi berbeda dengan Kristus, Ia adalah satu-satunya yang jikalau Dia tidak menyerahkan nyawaNya, Dia tidak mungkin mati. Walaupun kayu salib memang adalah hukuman yang sengaja dibuat agar orang menderita pelan demi pelan sebelum mati, dicatat yang paling lama berada di atas kayu salib sebelum mati adalah 12 hari. Sebelum mati, Kristus berkata, “Bapa ke dalam tanganMu, Kuserahkan nyawaKu.”<br />
Lalu “It is Finished /sudah selesai.” “Hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan.”</p>
<p><strong>TUHAN YESUS MEMBERKATI.</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://drijie1.kokris.com/4-arti-hidup-adalah-kristus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>3 Hal Cara Memuliakan Allah</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/3-hal-cara-memuliakan-allah/</link>
					<comments>https://drijie1.kokris.com/3-hal-cara-memuliakan-allah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Nov 2021 01:20:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Khotbah Tematik]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah hidup kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah tematik]]></category>
		<category><![CDATA[khotbahkristen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan renungan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan agama kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan rohani kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=2297</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: Keluaran 14:1-14 Khotbah/Renungan : Cerita ini sering kita dengar, setiap kali kita membacanya,&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Ayat Bacaan: Keluaran 14:1-14</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Khotbah/Renungan :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Cerita ini sering kita dengar, setiap kali kita membacanya, kita akan mendapatkan suatu tension yang luar biasa. Orang Israel lari dari Mesir kemudian dikejar-kejar oleh orang Mesir dan dihadapan mereka ada laut. Orang Israel dalam keadaan terdesak, dibelakang mereka dikejar-kejar oleh orang Mesir dandi depan mereka ada lautan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua hal ini membuat orang Israel ketakutan. Kita berpikir mengapakah Tuhan mengatur semuanya itu seperti itu? pada Keluaran 14: 2 dikatakan bahwa Tuhanlah yang menyuruh orang Israel balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut. Namun disini Allah mengatakan Dia akan mengeraskan hati Firaun dan akan menyatakan kemuliaan-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata kemuliaan disini yang kita akan perhatikan. Kita seringkali mendengarkan kata memuliakan Tuhan, menyatakan kemuliaan Tuhan. Tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia. Sering kali juga kita bertanya  bagaimanakah konkritnya cara untuk memuliakan Tuhan?.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan itu akan dijawab melalui bagian cerita ini. Tuhan mengatakan Aku akan mengeraskan hati Firaun dan mereka akan menyatakan kemuliaan-Ku dan mereka mengetahui bahwa Akulah Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>1.Hal pertama yang dapat kita lihat dalam hal ini adalah mengetahui dan memuliakan</strong></span>. Kita bisa memuliakan Tuhan jika kita mengetahui Tuhan, mengenal Tuhan adalah salah satu cara yang kongkrit untuk memuliakan Tuhan. Kita melihat orang Mesir dalam cerita ini baru mengetahuinya belakangan, karena terpaksa mengaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini sama seperti dalam Filipi 2:10-11 “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!. Bagi kita orang Kristen Tuhan ingin kita memuliakan Dia dengan mengenal Dia. Yesus berkata, inilah hidup yang kekal itu, hidup yang kekal itu adalah mengenal Bapa dan mengenal Anak yang diutus oleh Bapa.</p>
<p style="text-align: justify;">Tuhan mengenalkan dirinya bukan hanya melalui teologi tetapi melalui pengalaman berjalan bersama dengan Tuhan. Orang Mesir belajar tentang Tuhan yang benar melalui pekerjaan-Nya, karena melalui perkataan-Nya tidak cukup, Musa telah mengatakan firman Tuhan namun mereka tetap tidak mau percaya, akhirnya Tuhan memakai cara melalui pekerjaan-Nya, melalui tulah, kemudian tetap tidak mendengarkan maka Tuhan menenggelamkan orang Mesir dalam laut Teberau.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang Israel juga orang yang tidak mengenal Tuhan dengan benar dan cukup, Tuhan membawa mereka melalui firman, tetapi juga melalui pengalaman berjalan bersama dengan Tuhan. Pada waktu itu tentu saja belum ada kitab suci, Tuhan berbicara melalui Musa, dan mereka melihat bagaimana Tuhan bekerja. Dalam hidup kita, kita perlu melihat segala sesuatu dalam perspektif Tuhan sedang membawa kita mengenal Dia, bukan hanya firman tetapi pengalaman berjalan bersama dengan Tuhan, mengalami kedaulatan bersama Tuhan, mengatur segala sesuatu untuk kebaikan kita. Tuhan ingin kita belajar tentang Dia. Mengenal Tuhan bukan hanya secara kognitif saja tetapi juga melibatkan seluruh aspek hidup kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata <em>know</em> dalam bahasa Ibrani mengisyaratkan pengenalan suami istri, atau hubungan khusus suami istri, itulah pengenalan kita akan Tuhan sangat mendalam seperti relasi yang intim suami istri. Pentingnya pengenalan akan Tuhan, maka kita akan melihat begitu banyak dosa dilakukan, karena orang menghina pengenalan akan Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Kitab Hosea, Nabi Hosea mengatakan: aku menolak imam-imam karena mereka menolak pengenalan akan Tuhan, pengenalan akan Tuhan tidak ada di negeri itu. Pengenalan akan Tuhan tidak ada, hal ini dimulai dari atas, karena hamba Tuhannya tidak menekankan pengenalan akan Tuhan, hingga banyak orang Israel hanya diajarkan moralitas, akhirnya putus asa karena manusia berdosa diminta untuk berbuat baik, sehingga mendapati diri mereka tidak dapat berbuat apa-apa, dan menyerah, hingga akhirnya berbuat dosa.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>2.Hal yang kedua, mengetahui tentang Tuhan itu tidak takut</strong></span>. Takut disini dibagi menjadi dua bagian yaitu takutnya orang Mesir dan takutnya orang Israel. Apabila Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya, reaksinya bisa dua, yaitu orang yang sungguh-sungguh mengenal Tuhan dengan benar reaksinya mereka takut dengan Tuhan, hal ini dapat dilihat dalam reaksi orang Israel itu belakangan (lihat Keluaran 14:31) “Ketika dilihat oleh bangsa Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir maka takutlah bangsa itu kepada Tuhan dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu”.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita ingin memuliakan Tuhan maka kita harus takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan maka kita taat kepada Dia, takut akan Tuhan maka kita tidak mungkin melakukan dosa, karena kita tahu mata Tuhan melihat dan Roh Tuhan ada dengan kita sehingga kita takut berbuat dosa. Namun disisi lain terdapat ketakutan yang negatif. Takut akan Tuhan seperti pada Keluaran 14: 31 maka kita dapat memuliakan Tuhan, tetapi bangsa Israel bukan takut kepada Tuhan tetapi takut kepada musuh. Takut dalam hal ini berbanding terbalik dengan takut akan Tuhan. Apabila takut akan Tuhan seharusnya tidak akan takut terhadap musuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang Israel tidak takut kepada Tuhan tetapi takut kepada orang Mesir, karena mereka dahulu bertahun-tahun dibawah perbudakan di Mesir, sehingga mereka mempunyai konsep tentang diri dan Tuhan banyak sekali menjadi rusak, dan mereka benar-benar dalam keadaan yang terjepit sekali. Namun dalam keadaan seperti ini, dalam ketakutan mereka, mereka berseru kepada Tuhan. Sebelum berseru-seru kepada Tuhan mereka juga mengeluh dan menyalahkan Musa. Orang Israel takut akan musuh dan menyalahkan orang lain. Kita melihat takut yang seperti ini sama dengan yang di taman Eden. Sewaktu telah berbuat dosa, Tuhan datang Adam dan Hawa menjadi takut. Waktu takut kemudian reaksinya adalah menyalahkan orang lain. Waktu Adam takut kepada Tuhan maka dia mengatakan perempuan yang Engkau tempatkan di sisiku. Demikian pula yang dilakukan oleh orang-orang Israel, mereka menyalahkan Musa, agar membiarkan mereka dalam dosa dan perbudakan di Mesir, membiarkan mereka menikmati 400 tahun perbudak tersebut sehingga mereka telah cukup nyaman dan menikmati dalam kondisi tersebut, dan tidak mau melakukan penerobosan untuk bebas dari perbudakan. Orang yang tidak mau berubah hanya ingin menjalankan sesuatu yang begitu-begitu saja, tidak peka dengan pimpinan Tuhan yang baru, maka kita harus berhati-hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat manusia yang menyalahkan orang lain telah ada sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Ketakutan, dan tidak takut Tuhan, lalu menyalahkan orang lain, hal itu yang terjadi pada orang Israel di perbatasan, depan laut Teberau. Orang Mesir takutnya belakangan, pada waktu mereka mengejar orang Israel. Sewaktu mereka masuk laut Teberau itu, di tengah-tengah laut Tebarau, Tuhan membuat keretanya rusak dan jalannya miring, dan Alkitab menyatakan bahwa takutlah mereka, dan orang Mesir mengatakan inilah Tuhan orang Israel, ketika ingin berbalik arah, tetapi telah terlambat. Tuhan dimuliakan ketika orang Israel takut akan Tuhan dan Tuhan juga dimuliakan ketika orang kafir takut kepada Tuhan, namun takut yang terlambat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>3.Hal yang ketiga adalah Tuhan dipermuliakan dalam kepercayaan kepada Tuhan (Keluaran 14:31)</strong></span>. Tuhan dipermuliakan ketika kita percaya kepada Tuhan. Percaya disini merupakan iman. Orang Israel percaya kepada Tuhan itu terjadi belakangan. Percaya disini bukan hanya percaya tetapi percaya itu bergantung total kepada Tuhan, untuk percaya kepada Tuhan bukanlah hal yang mudah karena kecenderungan orang berdosa adalah sulit percaya. Alkitab mengatakan orang yang dipilih Tuhan menjadi percaya, untuk percaya total kepada Tuhan kita butuh anugerah dari Tuhan. Kita mau tahu kita diselamatkan oleh Tuhan, itu bukan karena tindakan iman kita, walaupun Alkitab menyatakan bahwa kita diselamatkan oleh iman, itu bukan hanya karena tindakan iman saja, yang menyelamatkan yaitu Yesus Kristus. Iman disini sebagai penerima apa yang Tuhan kerjakan, jadi Objek dari iman itulah yang menyelamatkan kita. Firman Tuhan menyatakan bahwa imanmu menyelamatkan, maksudnya dalam hal ini bukanlah berpusat pada tindakan kita untuk dapat percaya tetapi anugerah Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Percaya kepada Tuhan adalah memuliakan Tuhan, salah satu yang membuat Tuhan senang yaitu dengan sikap kita yang percaya total kepada-Nya. Percaya kepada Tuhan bukan hanya dalam keadaan lancar tetapi sebaliknya, dimana Tuhan menyatakan hal itu sebagai suatu proses membentuk kita. Tuhan telah melakukan hal itu dan dapat kita lihat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Perjanjian baru kisah tentang Lazarus yang sakit, Tuhan menunda datang hingga dua hari, orang-orang berkata bahwa Tuhan harusnya Engkau hadir lebih awal supaya dia tidak mati. Yesus menjawab, biarkan dia mati, supaya kamu belajar untuk percaya. Kalimat yang keluar dari mulut Tuhan Yesus “supaya kamu belajar untuk percaya”, percaya bahwa Aku sanggup melakukan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang tidak ada menjadi ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini merupakan suatu pengalaman kita belajar berjalan bersama dengan Tuhan, dan merupakan suatu anugerah, seperti Lazarus orang yang dikasihi Tuhan, bukan hanya diberikan doktrin tetapi orang yang dikasihi ini diberikan pengalaman bersama dengan Tuhan. Berdoalah minta anugerah dari Tuhan agar kita dapat pengalaman berjalan bersama dengan Tuhan dengan kondisi yang Tuhan tempatkan saat segala sesuatu tidak ada jalan keluarnya, sehingga kita dapat belajar bahwa Tuhan adalah Tuhan yang dapat dipercaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nampaknya Tuhan meninggalkan kita, menghadapi jalan buntu tetapi sebenarnya tidak!, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, Dia menyuruh kita maju dahulu baru kemudian kita melihat jalan terbuka. Pada saat murid-murid berada dalam badai, Tuhan Yesus berkata, dimanakah imanmu, hai orang yang kurang percaya?, Tuhan minta mereka percaya kepada-Nya secara total. Tuhan sampai memberikan perintah jangan khawatir. Akar dari kekhawatiran itu adalah ketidakpercayaan. Kita khawatir karena kita memiliki proyek sendiri, yang tidak ada kaitannya dengan Kerajaan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tuhan ingin kita percaya Dia dalam hidup yang sekarang atau hidup yang akan datang. Percaya Tuhan maka Tuhan akan pelihara, seperti Tuhan dipermuliakan selain kita tahu tentang Tuhan, kita takut akan Tuhan, kita percaya akan Tuhan tetapi juga dikatakan pada ayat ke 31 bahwa mereka percaya Musa, hamba-Nya. Peristiwa yang besar ini diadakan oleh Tuhan terjadi kepada orang Israel sehingga merekapun bisa percaya kepada Musa hamba-Nya, mereka melihat pekerjaan Tuhan dan mengkonfirmasi Musa. Ini dua hal yang dikatakan disini, apabila kita percaya kepada Tuhan maka percaya pula dengan hamba-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Perjanjian Lama ada raja Uzia, seorang yang berhasil dalam segala hal, membangun bait Allah, benteng, dll, kemudian raja Uzia memberikan persembahan ungkupan, kemudian ditegur oleh para Imam karena itu bukanlah tugas raja, tetapi dia tidak peduli karena dia merasa raja dan berkuasa, dia tetap melakukannya maka Tuhan hukum dia dengan penyakit kusta sampai mati. Tuhan menetapkan adanya ordo dalam pelayanan, yaitu percaya kepada Tuhan dan hamba-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tuhan dipermuliakan dari semuanya ini ada dua hal yang terjadi yaitu dalam keselamatan orang Israel dan kebinasaan orang Mesir, dalam pemilihan maupun dalam penolakan. Tuhan mengeraskan hati Firaun bukan dalam pengertian bahwa hati Firaun sangat lembut kemudian dikeraskan oleh Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal ini Tuhan tidak mendorong-dorong orang melakukan dosa, semua kita yang dilahirkan dari Adam dan Hawa mewarisi sifat dosa. Demikian pula Firaun, dia telah keras hatinya, maka waktu Tuhan mengeraskan hatinya, Tuhan menarik sedikit topangan anugerah-Nya. Firaun dengan sendiri-Nya, dan alamiah dia memuaskan kebencian kemarahannya kepada orang-orang Israel, pada saat inilah Tuhan mengeraskan hati Firaun dan menarik sedikit anugerah-Nya. Pada waktu orang Israel diselamatkan semata-mata ingin menyatakan kemuliaan-Nya, demikian pula pada waktu Tuhan menghancurkan orang Mesir, dibinasakan oleh Tuhan, tidak hanya semata-mata melakukan keadilan yang kudus tetapi menyatakan kemuliaan-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tuhan menyatakan kemuliakan Tuhan didalam ketakutan orang Israel kepada Tuhan dan ketakutan orang Mesir kepada Tuhan. Tuhan menyatakan kemuliaan, orang Israel lari mendekat kepada Tuhan, dan orang Mesir lari menjauh dari Tuhan. Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya membuat orang taat kepada Tuhan atau membuat mereka jauh daripada Tuhan. Pada akhirnya semua orang harus tetap harus mengaku bahwa Dia Tuhan. Maka untuk mempermuliakan Tuhan, kita belajar tahu tentang Tuhan, belajar untuk tidak takut, belajar untuk percaya, belajar untuk taat kepada Tuhan dan kepada hamba Tuhan yang Tuhan tetapkan untuk menggembalakan kita.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://drijie1.kokris.com/3-hal-cara-memuliakan-allah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>3 Prinsip Pelayan Kristus</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/3-prinsip-pelayan-kristus/</link>
					<comments>https://drijie1.kokris.com/3-prinsip-pelayan-kristus/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2021 00:37:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Khotbah Tematik]]></category>
		<category><![CDATA[kerangka khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah hidup kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah iman]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah tematik]]></category>
		<category><![CDATA[khotbahkristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan rohani kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=2293</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: Matius 4: 23-25 Setelah menetapkan 12 rasul, di perikop ini, sebelum 12 rasul&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Ayat Bacaan: Matius 4: 23-25</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menetapkan 12 rasul, di perikop ini, sebelum 12 rasul itu melayani, Tuhan memberikan prinsip pelayanan. Ada 3 (tiga) hal yang akan kita pelajari dalam prinsip pelayanan ini:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.Pertama,</strong> sifat pelayanan Tuhan Yesus adalah teologi yang berinkarnasi, ada belas kasihan. Yesus berkeliling, tidak pasif, Ia mendatangi manusia. Yosefus berkata bahwa di sekitar Galilea ada sekitar dua ratus desa. Tuhan Yesus berkeliling di desa-desa itu. Di situ Ia mengajar di rumah ibadat, memberitakan Injil Kerajaan Allah, dan melenyapkan berbagai penyakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Teologi inkarnasi adalah teologi yang berinisiatif. Jika kita melihat pelayanan dokter, itu mulia, tapi yang sakit datang. Namun dalam teologi inkarnasi, kitalah yang mendatangi orang sakit! Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan mencari Adam. Siapa butuh siapa? Bukankah seharusnya manusia berdosa yang membutuhkan Tuhan? Ketika Allah mencari Adam, dia bukan menyambut Allah, tetapi bersembunyi! Lalu ketika Adam ditanya mengapa dia makan buah di tengah-tengah taman ini? Adam menjawab, perempuan yang Kau tempatkan memberikannya kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Adam menyalahkan Tuhan! Luther berkata dosa Adam yang pertama-tama bukan ketidaktaatan, tetapi menyalahkan Tuhan! Adam salahkan Hawa, Hawa salahkan ular yang Kau izinkan masuk taman ini. Dia menyalahkan Tuhan lagi. Jadi kita melihat dalam teologi inkarnasi sudah datang malah disalahkan lagi!</p>
<p style="text-align: justify;">Tuhan Yesus datang, dicaci maki, disalibkan, bahkan sampai mati di atas kayu salib. Bahkan keluarganya sendiri berpikir bahwa Ia gila. Maka pastilah butuh pengorbanan luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi mengapa Tuhan Yesus tetap mau datang ke dalam dunia? Pengorbanan itu didasarkan kepada cinta kasih. Jadi belas kasihan harus mendasari pelayanan kita. Kita melihat perumpamaan tentang anak yang hilang. Anak bungsu sudah kembali, lalu yang hilang adalah yang sulung. Ketika ayah menyambut anak yang bungsu, kita melihat anak yang sulung menolak untuk menerima kembali anugerah. Tapi masalah dia bukan hanya di situ, ketika anak bungsu itu hilang, anak yang sulung itu seharusnya mencari adiknya. Tetapi dia tidak melakukan itu. Ketika Tuhan Yesus dengan orang Farisi, masalah makan minum dengan orang berdosa, pemungut cukai, dan pelacur. Mereka yang seharusnya mencari orang-orang yang berdosa ini, tapi mereka tidak melakukannya, malah menggerutu. Dalam Efesus 2:1, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu”. Kita melihat dua macam dosa; pertama adalah pelanggaran-pelanggaran, dalam bahasa aslinya paraptóma artinya transgressions.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita melakukan mencuri, membunuh, berbohong, dan berzinah. Tetapi dosa kedua, dosa-dosa, aslinya <em>hamartia</em>, artinya miss the target. Kita tidak mencapai sasaran yang telah ditetapkan, maka ini adalah dosa. Tuhan telah menetapkan kebaikan sebagai target, lalu kita tidak mencapai target kebaikan itu, maka kita telah berdosa. Jadi dosa bukan hanya melakukan kejahatan saja, tetapi tidak mencapai kebaikan yang telah Tuhan tetapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa dengan cara berbuat jahat, tetapi juga dengan tidak berbuat baik yang telah ditargetkan. Jadi ketika kita tidak menginjili, itu adalah dosa. Ketika tidak melayani Tuhan, itu dosa. Ketika tahu ada perbuatan jahat, kita diam, maka kita telah berdosa. Ketika kita melihat saudara kita tidur di pinggir jurang, kita tidak bangunkan dia, lalu dia jatuh dan mati, maka kita berdosa. Setelah Kain membunuh adiknya, Habel, Tuhan tanya kepada Kain, “Dimanakah adikmu?” Dia jawab, “Aku tidak tahu”, ini dosa yang pertama. Lalu dia mengatakan, “Akukah penjaga adikku?” Ini dosa yang kedua.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau anak kita berbuat jahat, kita tidak menegur, itu dosa. Ketika kita tidak punya belas kasihan, kita sudah berdosa. Kita ingat pertobatan Saulus, ketika Tuhan Yesus datang kepada Ananias dan berkata pergilah doakan yang namanya Saulus, sekarang dalam keadaan buta. Lalu Ananias berkata Tuhan tidak tahukah Engkau dia begitu jahat kepada jemaat Tuhan? Ketika tidak ada belas kasihan itu dosa!</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Saulus kurang bisa diterima oleh rasul-rasul yang lain. Jika ini pertobatan yang sejati, maka boleh saja. Tetapi ada hal kedua, mengapa mereka tidak begitu menerima Paulus? Karena orang ini sudah berdosa, menganiaya orang Kristen, ketika Stefanus dirajam, dia adalah saksi yang pertama. Kita sudah berdosa, jika tidak punya belas kasihan. Ada seorang hamba yang berhutang kepada raja sepuluh ribu talenta, ini begitu banyak, kira-kira 20 tahun yang lalu, jumlahnya 45 milyar rupiah. Hamba ini tidak bisa bayar, dan raja kasihan maka dihapus semua hutangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu setelah itu hamba itu keluar, ada hamba lain yang hutang kepada dia hanya 100 dinar, 20 tahun yang lalu, jumlahnya hanya 75 ribu rupiah. Seharusnya dia begitu mudah menghapus hutang hamba  itu. Tetapi dia malah mencekik hamba ini, lalu menjebloskan hamba ini ke dalam penjara. Maka  terdengar oleh raja, maka raja memanggil hamba itu dan dia mengatakan dalam Matius 18:33, “Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?”</p>
<p style="text-align: justify;">Jikalau kita adalah orang Kristen yang sudah ditebus oleh Tuhan, maka kita juga harus mengampuni sesama kita. Lalu raja memanggil hamba itu dan menjebloskan dia ke dalam penjara. Ini bukan berarti keselamatan itu bisa hilang. Tetapi arti dari cerita ini adalah hamba ini sebetulnya belum pernah ditebus, hutangnya yang begitu besar belum pernah diampuni.</p>
<p style="text-align: justify;">Jikalau hutangnya dihapus oleh Tuhan, maka dia seharusnya mempunyai hati untuk berbelas kasihan. jika kita melihat sepuluh Hukum Taurat, jangan membunuh, jangan berzinah, dan seterusnya. Ini bukan etika anak! Tuhan Yesus berkata, hukum yang terutama dari semua kitab para nabi adalah kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kunci kita menjawab sepuluh Hukum Taurat itu adalah kita harus mengasihi! Kita tidak cukup hanya dengan tidak berbuat jahat, tetapi kita harus mengasihi mereka. Ketika mereka berbuat jahat, kita harus menegur dan membawa mereka kepada jalan Tuhan. Inilah teologi inkarnasi. Teologi yang memiliki satu pengorbanan yang didasarkan oleh belas kasihan. Tuhan Yesus berkeliling untuk mengajar dan memberitakan Kerajaan Allah, serta melenyapkan penyakit.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.Kedua,</strong> Tuhan Yesus ingin mengajarkan tentang metode pelayananNya yang mencakup tiga hal pengajaran, penginjilan dan penggembalaan. Ini adalah tiga pilar dari pelayanan Tuhan Yesus. John Calvin berkata bahwa gereja itu seperti ibu yang melahirkan anak. Gereja bukan hanya penginjilan dengan melahirkan anak. Tetapi gereja juga harus mendidik anak itu dengan pengajaran firman Tuhan. Tetapi bukan hanya itu, gereja juga harus menggembalakan. Dalam Efesus 4:11, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar”. Rasul dan nabi sudah selesai. Tetapi kita melihat di sini ada penginjil, penggembala dan ada pengajar, ini menjadi tugas gereja dan semua orang Kristen. Ketiga hal ini harus terkait. Dalam pelayanan penting bagi kita untuk mengenal Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Markus 1:35-38, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata, semua orang mencari Engkau. JawabNya, marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang”. Kita melihat Tuhan Yesus begitu lelah, dari pagi sudah mengajar di rumah ibadat, lalu menyembuhkan orang sakit, Ia tidak sempat tidur siang, lalu sampai malam orang banyak antri untuk disembuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka sudah larut malam, Ia tidur dan bangun pagi-pagi benar, lalu pergi ke tempat yang sepi untuk berdoa! Doa adalah untuk menambah kekuatan untuk menjalani pelayanan. Tetapi ada lagi satu fungsi doa. Ketika Tuhan Yesus mengatakan amin, murid-murid sudah mencari Dia, karena banyaknya orang yang sakit, kerasukan setan, dan seterusnya. Tetapi Tuhan Yesus mengatakan, kita berhenti pelayanan di sini, kita pergi ke tempat lain. Tadi di Kapernaum, sekarang kita pergi ke desa-desa lain di Galilea.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu ini bukan lagi penggembalaan, menyembuhkan orang sakit, dan lainnya, tetapi sekarang kita harus melakukan penginjilan di sana. Jadi doa itu bukan hanya memberikan kekuatan bagi kita, tetapi kita mencari kehendak Tuhan. Setelah selesai Ia berdoa, di situ dia tahu kehendak Tuhan. Ia harus tinggalkan daerah itu. Sampai sekarang pun orang sakit ada di antara kita, tidak mungkin habis. Tetapi masalahnya apakah itu kehendak Tuhan atau bukan kita melayani di sini atau di sana? Kepekaan itu didapatkan melalui doa, bukan hanya firman Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita juga melihat di sini bahwa pelayanan itu bukan market oriented, artinya ada kebutuhan lalu kita isi. Tetapi kita harus sesekali membuat satu kebutuhan! Bagaikan anak yang sakit, dia tidak mau minum obat yang pahit, tetapi Tuhan tahu obat itu yang bisa menyembuhkan dia. Kehendak Tuhan itulah yang kita taati. Pak Tong berkata bahwa kita bukan hanya menjawab tantangan dunia, tapi kita harus menantang dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelayanan harus sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan market oriented. Tapi sebaliknya pelayanan jika sesuai dengan kehendak Tuhan, bukannya kemauan kita saja, kita harus membedakan beban dan interest! Kita seringkali berkata saya punya beban di dalam pelayanan ini, tetapi kenyataannya itu  adalah sesuatu yang kita suka, yang sesuai dengan bidang kita, bukan sesuai dengan kehendak Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika itu kehendak Tuhan, maka itu pasti menjadi satu beban, artinya itu sesuatu yang kita tidak mau lakukan karena itu berat. Meski Tuhan Yesus berkata datanglah kepadaKu, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Sehingga jika kita begitu senang di dalam pengajaran, mungkin Tuhan pimpin kita di dalam penggembalaan. Jadi kita sudah kuat di satu hal, harus ada keseimbangan di hal yang lain. Hamba Tuhan di gereja ini harus ketiganya jalan, sekali pun ada yang menonjol di salah satu bidang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.Ketiga,</strong> fokus dari pelayanan Tuhan Yesus. Target pelayanan Tuhan Yesus adalah jiwa manusia. Ketika</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mengajar di Bait Allah, melenyapkan penyakit, juga memberitakan Injil Kerajaan Allah, Ia bersentuhan langsung dengan jiwa manusia. Di dalam gereja, kita bersyukur ada pelayanan admin, tapi juga harus mempunyai visi untuk melayani umat Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tyndall adalah orang yang pertama menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Inggris. Dia mengatakan bahwa khotbah dan mencuci piring adalah satu kesatuan. Dia mau mengatakan bahwa hamba Tuhan yang berkhotbah jangan lupa siapa yang menyiapkan makanan paginya, mencuci bajunya, menjaga anak-anaknya? Maka dia mengatakan itu adalah satu kesatuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita melakukan pekerjaan admin, bukan hanya fokus kepada pekerjaan itu, tapi juga harus terlibat di dalam penginjilan, penggembalaan dan pengajaran. Kita harus ikut juga di dalam KKR Regional. Ini langsung bersentuhan langsung dengan jiwa. Kita mengajak orang datang ke seminar, kita membesuk orang sakit dan kita membantu orang berkekurangan. Di sini Tuhan Yesus mempunyai target pelayanan jiwa manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada seorang bernama Sir Christopher Wren yang mendirikan Katedral St. Paul, di kota London. Satu hari dia menyamar dan mendatangi tukang-tukang batunya, lalu dia bertanya kepada mereka, apa yang sedang engkau lakukan? Tukang yang pertama menjawab, sedang mencari makan. Yang kedua menjawab saya sedang bersiap menjadi orang kaya baru, saya ingin mengadopsi teknik yang digunakan di sini, lalu saya ingin mendirikan yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang ketiga menjawab saya punya visi yang besar untuk membantu Christopher Wren membangun gedung yang megah untuk kemuliaan Tuhan, saya mengasah batu dengan hati-hati, untuk menghasilkan bangunan yang begitu tinggi melambangkan transenden Allah yang begitu agung, sehingga begitu orang masuk gereja ini mereka akan merasakan keagungan Tuhan. Dia punya visi sampai kepada kemuliaan Tuhan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Apa yang Tuhan maksudkan dengan Injil Kerajaan Allah? </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama</strong>, Ia sedang memberitakan misiNya yang utama datang ke dalam dunia adalah untuk mati di kayu salib, menghancurkan kuasa setan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>,  melihat manusia secara holistik, bukan hanya spiritual tapi juga mencukupkan jasmani kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga</strong>, tidak berhenti di dalam diri kita, tetapi biarlah kemuliaan Tuhan dinampakkan melalui diri kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tujuan kita diselamatkan bukan hanya untuk masuk surga, tetapi supaya kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui hidup kita. Kita sudah menjadikan Bangka sebagai pilot project, ini tidak mudah, hanya melayani 4000 jiwa, tidak bisa dibandingkan dengan Ambon yang jumlahnya, 65000 orang. Tetapi kita menjadikan Bangka ini tempat dimana kita bukan hanya melakukan penginjilan, hit and run. Tetapi kita akan terus melihat ada perkembangan di situ, ada seminar teologi, pendidikan, keluarga dan lainnya. Kita belajar sifat, metode dan target pelayanan dari Tuhan Yesus.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://drijie1.kokris.com/3-prinsip-pelayan-kristus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>4 Cara Membangun Kasih Persaudaraan</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/4-cara-membangun-kasih-persaudaraan/</link>
					<comments>https://drijie1.kokris.com/4-cara-membangun-kasih-persaudaraan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Nov 2021 04:31:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kerangka khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah hidup kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah iman]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah tematik]]></category>
		<category><![CDATA[khotbahkristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan agama kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan orang kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan rohani kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=2290</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: Filemon 1:1-21 Renungan/Khotbah:  Kasih persaudaraan merupakan sifat paling unik dan istimewa yang Kristus&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Ayat Bacaan: Filemon 1:1-21</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Renungan/Khotbah: </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kasih persaudaraan merupakan sifat paling unik dan istimewa yang Kristus Yesus ingin tanamkan didalam hidup kita para murid-Nya. Kita harus bertumbuh dalam kasih persaudaraan ini. Cara satu-satunya untuk bertumbuh dalam kasih persaudaraan adalah dengan mempraktekkan kasih persaudaraan itu sendiri. Kitab Filemon mengajarkan kita bagaimana caranya mempraktekkan kasih persaudaraan dengan menerima saudara yang telah melukai dan menyakiti hati kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tujuan Surat Rasul Paulus kepada Filemon adalah untuk membangun dan mengembangkan kasih persaudaraan di dalam diri Filemon dengan cara menerima Onesimus, budaknya, yang telah mengecewakan dan menyakitkan hatinya. Kata Paulus, &#8220;&#8230; sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan,Filemon 1:9 tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu.&#8221; (Filemon 1:8-9).</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut cara menerima saudara seiman dalam kasih persaudaraan sebagaimana nasehat Rasul Paulus kepada Filemon.</p>
<p><strong>I. Terimalah Saudara Seiman Selama-lamanya (Filemon</strong><strong>1:15a)</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Paulus menasehati Filemon agar menerima Onesimus selama-lamanya &#8220;Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya.</li>
<li>Persaudaraan di dalam Kristus Yesus itu abadi, seabadi persekutuan kita dengan Kristus Yesus. Namun demikian, kita harus menunjukkan secara persaudaraan itu secara praktis dengan cara menerima atau tidak menolak orang yang telah menyakiti dan mengecewakan kita.</li>
<li>Tidak selamanya saudara seiman itu merugikan kita. Pertumbuhan imannya dalam Kristus Yesus pasti merubah hidupnya, sedemikian rupa sehingga dia menjadi berguna bagi kita. Paulus meyakinkan Filemon bahwa Onesimus telah berubah dan berguna bagi Filemon (1:11). Paulus sendiri mengalami ini dalam hubungannya dengan Markus yang telah mengecewakannya, namun pada akhirnya menjadi sangat berguna dalam hidup dan pelayanannya.</li>
</ol>
<p><strong>II. Terimalah sebagai saudara yang kekasih (1:15b-16)</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Rasul Paulus juga meminta Filemon untuk menerima Onesimus sebagai saudara yang kekasih. Kata Paulus, &#8221; terimalah dia &#8230;bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih&#8221;</li>
<li>Tentunya berat sekali bagi Filemon sebagai seorang tuan dan majikan untuk menerima Onesimus, budaknya, sebagai SAUDARA yang kekasih. Tapi demikianlah seharusnya sikap kasih di dalam Kristus dinyatakan di mana tidak ada lagi tuan dan hamba, meskipun ini bukan menjadi alasan untuk menghindar dari tugas dan tanggung jawab yang menjadi kewajiban.</li>
<li>Jika kita mau mengasihi sesama dalam kasih persaudaraan, kita harus berhenti menganggap rendah sesama kita orang percaya di dalam Kristus, oleh karena posisi dan status kita di bumi yang lebih.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>III. Terimalah dengan rasa hormat (Filemon 1:17) </strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Rasuli Paulus juga menghendaki Filemon menerima Onesimus, budaknya, dengan rasa hormat seperti sikapnya terhadap Paulus sendiri. Tulis Paulus, &#8220;bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan. 1:17 Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.</li>
<li>Tidak gampang dan bahkan cenderung mustahil rasanya bagi seorang tuan dan majikan untuk menerima budaknya dengan rasa hormat. Tapi, kehadiran Roh Kristus di dalam diri setiap orang percaya di dalam Kristus Yesus menjadi alasan kita untuk menunjukkan kasih persaudaraan dengan cara menerima dengan rasa hormat. Onesimus adalah seorang budak, namun dia mulia karena ketaatannya kepada Kristus Yesus. Menghormati Onesimus karena kepatuhan dan ketundukannya kepada Kristus Yesus berarti menghormati Roh Kristsus Yesus sendiri yang ada di dalam dia.</li>
<li>Bagaimanapun juga, rasa hormat kepada sesama di dalam Kristus Yesus harus kita kembangkan. Kita sebenarnya bukanlah siapa-siapa, tapi TUHAN sendiri telah membeli kita dengan darah Anak-Nya yang mahal, maka itu berarti kita sangat berharga di mata TUHAN. Karenanya kitapun harus menghargai nilai sesama saudara seiman, terlebih lagi mereka yang menunjukkan kepatuhan dan ketundukkan kepada Kristus Yesus.</li>
</ol>
<p><strong>IV. Terimalah dalam Pengampunan (Filemon</strong><strong>1:18-19)</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Rasul Paulus ingin Filemon menerima Onesimus dengan pengampunan. Tulis paulus, &#8220;Dan kalua dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku &#8212; aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya&#8211;agar jangan kukatakan: &#8220;Tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!&#8221; &#8211;karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.&#8221;</li>
<li>Entah apa kesalahan Onesimus terhadap tuannya Filemon sehingga dia dulu dianggap tidak berguna lagi. Pastinya, Onesimus telah menimbulkan kerugian (kesannya keuangan) bagi Filemon. Onesimus harus membayar ganti rugi itu!! Namun demikian, nasehat Rasul Paulus agar Filemon menerima Onesimus dalam kasih persaudaraan berarti Filemon harus mengampuni hutang Onesimus itu, dan Rasul Paulus mau menanggung ganti ruginya.</li>
<li>Menerima dalam kasih persaudaraan terhadap orang yang telah bersalah kepada kita sesungguhnya merupakan sebuah pengorbanan. Ada yang pengorbanan, ketika pengampunan terjadi. Kristus Yesus harus mengorbankan diri-Nya ketika Dia mengampuni dan menyucikan kita. Jika kita ingin menerima saudara seiman dalam kasih persaudaraan, kita harus rela menanggung akibat kesalahannya pada kita dan tidak menuntut balasan atau bayaran. Itulah kasih persaudaaraan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>KESIMPULAN/PENERAPAN</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Kita harus menerima sesama anak-amak Tuhan dalam kasih persaudaraan dengan cara menerimanya selama-lamanya sebagai saudara dengan rasa hormat dan dalam pengampunan.</li>
<li>Rasul Paulus yakin Filemon mempraktekkannya &#8220;Ya saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburkanlah hatiku di dalam Kristus! Dengan percaya kepada ketaatanmu, kutuliskan ini kepadamu. Aku tahu, lebih dari pada permintaanku ini akan kaulakukan.&#8221; (Filemon 1:20-21).</li>
<li>Kasih persaudaraan adalah perintah utama Kristus Yesus, Tuhan kita, kepada murid-murid-Nya menjelang kematian, kebangkitan, dan kenaikkan-Nya</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://drijie1.kokris.com/4-cara-membangun-kasih-persaudaraan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>6 Ciri Murid Kristus</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/6-ciri-murid-kristus/</link>
					<comments>https://drijie1.kokris.com/6-ciri-murid-kristus/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2021 00:40:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Khotbah Tematik]]></category>
		<category><![CDATA[ayat emas hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[kerangka khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah hidup kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[renungan agama kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[renungan pagi kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=2286</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: “Dalam hal inilah BapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Ayat Bacaan: </strong>“Dalam hal inilah BapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu.” (Yohanes 15:8).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Renungan Kerangka Khotbah: </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Amanat Agung yang diperintahkan Kristus untuk dilakukan oleh para Rasul dan setiap orang Kristen dalam Matius 28:19 adalah untuk “menjadikan murid,” bukan hanya sekedar untuk “membaptiskan” seseorang menjadi anggota gereja dari denominasi Kristen tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Baptisan adalah merupakan salah satu proses dalam rangka untuk menjadikan seseorang menjadi murid. Baptisan bukanlah merupakan akhir dari perintah Kristus dalam Matius 28:29. Bahkan baptisan bukanlah merupakan “jaminan” bahwa seseorang sudah menjadi murid yang sesungguhnya. Sebab ternyata ada banyak anggota gereja yang sudah menerima baptisan, bahkan sudah puluhan tahun menjadi anggota gereja tetapi ternyata belum menjadi murid yang sebenarnya, oleh karena mereka belum menjadi anggota gereja yang bertanggung jawab (meminjam istilah Peter Wagner seorang ahli pertumbuhan gereja), mereka hanya sebagai penonton bukan menjadi murid yang sesungguhnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>I.Definisi Murid</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sangat disayangkan bahwa saat ini, “Kekristenan” lebih identik dengan “agama” bukan dengan “hubungan,” dan kata “Kristen” saat ini nampaknya bukanlah merupakan kata yang paling tepat untuk menyatakan seseorang itu sebagai pengikut Kristus, meskipun memang kata “Kristen” pada zaman KeKristenan yang mula-mula, dulu pernah merupakan kata yang paling tepat untuk menyatakan pengikut dan murid Kristus (Kisah Para Rasul 11:26)</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Larry Moore dalam tulisannya Growing Disciple! A Handbook for Discipleship bahwa <em><strong>pengertian dasar dari kata “murid” ialah “seseorang yang menerima, menuruti, dan menolong untuk menyebarkan ajaran dari gurunya.”</strong></em> Dari definisi ini jelaslah bahwa seorang murid Kristus (pengikut Kristus) yang saat ini lebih dikenal dengan sebutuan Kristen, menuntut lebih dari hanya sekedar pernyataan iman kepercayaan Kristiani. Menjadi seorang pengikut atau murid Kristus memerlukan suatu perubahan hidup, nilai-nilai hidup, cara berfikir, cara berbicara dan cara bertindak.</p>
<p style="text-align: start;"><span style="text-align: justify;">Berikut uraian 6 (enam) kualitas dari seseorang yang benar benar merupakan seorang murid Kristus: </span></p>
<p><strong>I. Memiliki kasih yang sangat besar kepada Kristus.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Injil Lukas 14:26 mencatat mengenai kualitas pertama dari seorang murid yang sesungguhnya ini dengan mengatakan: “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anak-nya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sepintas ayat diatas bukan hanya tidak masuk akal, tetapi nampaknya ayat itu bertentangan dengan semua ajaran-ajaran Kristus yang lainnya. Tapi sebenarnya ayat ini jika kita teliti, sebenarnya hanyalah untuk menekankan bahwa untuk menjadi seorang murid Kristus, maka tingkat dan kualitas kasih kita kepada Kristus haruslah lebih besar dari tingkat dan kualitas kasih kita kepada hubungan kita kepada orang lain, apakah itu orangtua, istri, suami, abang, kakak bahkan terhadap diri sendiri. Sebenarnya kasih kita yang sangat besar kepada Kristus tidak akan meniadakan kasih kita kepada orang lain. Malah sebaliknya, jika kita memiliki kasih yang begitu dalam kepada Kristus maka secara otomatis kasih saya kepada yang lainnya akan semakin dalam pula, sebagaimana Kristus mengasihi saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sering sekali kita berkata, “Saya sangat mengasihi Kristus.” Tapi tunggu dulu, “Apakah saya benar- benar sangat mengasihiNya?” Dalam cara apakah saya tunjukkan kasih saya ini? Berapa lama saya menyediakan waktu untuk bersama-sama dengan Dia? Kapan terakhir kali saya gunakan waktu saya sehari penuh bersama-sama dengan Dia? Apakah Kristus mendapat tempat yang utama dalam hidup saya? Dalam bank account saya? Dalam rekreasi saya?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kita menyadari bahwa kasih yang besar kepada Kristus memerlukan banyak waktu untuk bersama dengan Dia, merenungkan Dia, melayani Dia, dan bekerja untuk Dia. Apakah Kristus mendapat tempat yang pertama dalam hidup kita? Apakah kita sering mengadakan pergaulan yang intim dengan Dia?</p>
<p><strong>II. Total Komitmen.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kualitas kedua dari seorang murid yang sesungguhnya dicatat dalam Injil Lukas 14:27 “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengkikut Aku, Ia tidak dapat menjadi murid- Ku.” Salib adalah merupakan lambing kematian. Yesus dengan sukarela telah memberikan hidup-Nya untuk kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menjadi murid Kristus, masing-masing kita harus mati untuk semua kepentingan diri kita dan kita harus hidup untuk Dia. Mengikuti seseorang adalah merupakan lambang dari penyerahan diri. Sebagai seorang murid masing-masing kita harus menyerahkan kemauan kita, sikap kita, keinginan kita, impian kita, tujuan kita, hidup kita dan segala sesuatunya untuk Kristus. Semuanya ini memerlukan komitmen total dari masing-masing kita kepada Kristus</p>
<p style="text-align: justify;">Rasul Paulus adalah merupakan murid yang memiliki kualitas ini, dia berkata: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:19,20) . Apakah masih ada suatu daerah di dalam hidup kita ini yang belum kita serahkan secara total kepada Kristus? Apakah kita sudah mematikan kepentingan diri kita dan menyerahkan diri kita secara total kepada Kristus?</p>
<p><strong>III. Pengorbanan yang Lengkap (Komplit)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kualitas ketiga dari seorang murid yang sesungguhnya dicatat dalam Injil Lukas 14:33 “Demikian pulalah tiap-tiap orang diantara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Untuk menjadi murid Kristus memerlukan pengorbanan yang komplit.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini berarti, agar menjadi seorang murid Kristus yang sesungguhnya saya harus mempersembahkan istri saya, anak-anak saya, rumah saya, mobil saya, pakaian saya, bank account saya, hobby saya. Segalanya! Tetapi mengapa? Mengapa saya harus menyerahkan dan mengorbankan segalanya?</p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali orang bertanya-tanya, Untuk menjadi murid Kristus saya sudah menyerahkan diri saya, tapi kenapa sekarang saya disuruh untuk mempersembahkan semua harta milik saya? Apakah menyerahkan diri saya kepada Kristus belum cukup? Apa salahnya saya memiliki semua harta benda ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah John Bunyan menolong saya untuk dapat mengerti Lukas 14:33 ini. Diceritakan Pendeta John Bunyan adalah merupakan seorang pendeta di sebuah gereja kecil, merupakan seorang pengkhotbah yang sangat berkuasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari utusan pemerintah datang menemui John dan berkata bahwa setiap pendeta harus memiliki izin untuk berkhotbah agar dia dapat berkhotbah. Setelah berfikir untuk beberapa saat lamanya, John bertanya, apakah surat izin yang akan diberikan itu juga akan menentukan mana yang dapat di khotbahkan dan mana yang tidak dapat dikhotbahkan? Utusan pemerintah itu berkata, ya! Kemudian John menolak untuk mendapatkan surat izin itu sambil berkata, hanya Allah saja yang dapat menentukan mana yang dapat saya khotbahkan dan mana yang tidak dapat saya khotbahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Utusan pemerintah itu berkata kepada John bahwa surat izin ini bukanlah merupakan pilihan tetapi adalah merupakan keharusan, dan jika tidak memiliki surat izin ini John tidak akan dapat berkhotbah dan malah John akan dimasukkan ke dalam penjara. Kemudian John berkata, “Kamu boleh memasukkan saya ke penjara, tetapi aku tidak akan mengambil surat izin itu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Utusan pemerintah itu mengingatkan agar John berfikir secara hati-hati sebelum mengambil keputusan itu. Sebab bisa jadi dia akan dimasukkan ke penjara Bedford, suatu penjara yang sangat mengerikan, dingin dan kotor. Biasanya orang-orang yang dipenjarakan di Bedford mengalami penyakit arthritis dan pneumonia. Mereka kembali menanyakan John apakah dia memang mau dimasukkan ke dalam penjara. Kemudian John berkata, “Saya tidak mau masuk penjara, tetapi saya juga tidak mau menerima surat izin itu.’</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita akhirnya John dimasukkan ke penjara Bedford. Setelah beberapa bulan berada disana, utusan pemerintah itu datang lagi kepada John dan berkata bahwa anggota jemaatnya sudah tidak mendukungnya lagi. Mereka tidak lagi pergi ke gereja. Kemudian utusan pemerintah itu berkata, “Mengapa kamu tidak ambil saja surat izin ini lalu kamu kembali lagi kepada anggota jemaatmu?” John berkata: “Saya mau untuk kembali kepada anggota jemaatnya tetapi dia tidak mau menerima surat izin itu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa tahun telah berlalu, utusan pemerintah itu berkata kepada John, “Gerejamu sudah ditutup. Pintu-pintu dan jendelanya sudah ditutup. Mengapa kamu tidak menerima surat izin itu? Sekali lagi John berkata bahwa dia tidak dapat menerima surat izin itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu waktu pegawai pemerintah itu kembali menemui John, kemudian dia melemparkan surat izin itu ke lantai penjara yang sangat kotor itu dan berkata, “Jika kamu mau hanya mengambil surat izin itu saja dari lantai kamu dapat pergi dan dibebaskan.” Akhirnya ngengat memakan surat izin itu karena John tidak kunjung mengambil surat izin itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Utusan pemerintah itu kemudian menemui istri John dan berkata sekiranya istri John dapat menemui John dan meminta agar John mengambil surat izin itu. Kemudian istri John berkata, suamiku tidak akan mau mengambil surat izin itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lima tahun lebih lamanya, utusan pemerintah itu kembali menemui John dan berkata bahwa putri John sangat sakit dan hampir mati. Mereka kembali meminta John untuk mengambil surat izin itu kemudian dia dapat ke rumah dan menemui putrinya yang sudah hampir mati itu. John hanya memiliki seorang anak saja, yaitu seorang wanita yang saat ini hampir mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Putri John ini adalah seorang buta dan menderita penyakit epilepsi. John berusaha untuk mengalahkan emosinya dan akhirnya dia berkata: “Saya mengasihi putri saya lebih dari mengasihi hidup itu sendiri, Tetapi saya lebih mengasihi Allah dari pada mengasihi putri saya, Saya tidak akan mengambil surat izin itu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam bukunya Pilgrim’s Progress yang ditulisnya di penjara Bedfor itu, John Bunyan menulis: “Orang Kristen, orang Kristen, dapatkah engkau mendengarkan saya orang Kristen? Sudahkah engkau menghitung harganya? Dengarkanlah saya orang Kristen.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kita sudah menghitung harganya? Apakah masih ada lagi yang belum kita serahkan kepada Kristus?</p>
<p><strong>IV. Menuruti Perintah Kristus.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Injil Yohanes 8:31 mencatat kualitas keempat dari seorang murid yang sesungguhnya, “Maka kataNya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar- benar adalah muridKu.” Implikasi dari ayat ini, “tetap dalam firmanKu” berarti “menurut segala perintah Kristus.”</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah yang harus dilakukan oleh para pengikut Kristus pada saat mereka berusaha untuk melakukan Amanat Agung itu, yakni “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Mataius 28:20) Inilah bukti bahwa kita mengasihi Kristus, yaitu “Jika kamu mengasihi Aku, turutilah segala perintahKu.” (Yohanes 14:15)</p>
<p style="text-align: justify;">Berjalan dalam penurutan berarti hidup kita akan sesuai dengan lidah kita. Itu juga berarti bahwa tindakan kita akan sesuai dengan perkataan kita. Apakah yang merupakan standar penurutan kita? Apakah kita dapat berkata sama seperti rasul Paulus, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” (1Korintus 11:1)</p>
<p><strong>V. Memiliki Kasih yang tidak tergantung kepada keadaan kepada orang lain.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kualitas kelima dari seorang murid yang sesungguhnya terdapat dalam Yohanes 13:34,35 yang berbunyi “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Matius 22:39 Yesus telah berkata bahwa kita harus mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Tetapi sekarang, Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi orang lain seperti Dia mengasihi kita. Bagaimana Kristus mengasihi kita? Jawabnya: Tidak tergantung kepada keadaan! (Unconditionally) Dalam kasih Kristus tidak ada keadaan, tidak ada “jika” Mengasihi orang lain tanpa tergantung kepada keadaan adalah merupakan suatu pekerjaan yang sulit.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengasihi orang lain seperti Kristus mengasihi kita adalah mengasihi dengan “tindakan dan dalam kebenaran” bukan hanya mengasihi melalui “kata-kata.” Tidak cukup hanya mengatakan “Saya mengasihi engkau.” Harus ada tindakan!! Untuk menjadi murid yang sesungguhnya kita harus memiliki kasih yang tidak tergantung kepada keadaan kepada setiap orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kita sudah mengasihi orang lain sama seperti Kristus mengasihi kita?</p>
<p><strong>VI. Memiliki Buah untuk Dipanen.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kualitas keenam dari seorang murid yang sesunggunya terdapat dalam Yohanes 15:8 “Dalam hal inilah BapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Apa artinya berbuah banyak? Beberapa orang berkata bahwa hal itu berhubungan dengan buah-buah Roh yang dinyatakan dalam hidup kita. Yang lainnya berkata bahwa hal itu berhubungan dengan jiwa-jiwa yang kita bawa kepada Kristus. Sebenarnya hal itu berhubungan dengan keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keseluruhan konsep dari berbuah banyak adalah menggambarkan hidup kita, proses hidup kita, kualitas hidup kita. Jika saya adalah seorang murid Kristus akan ada proses untuk menjadi seperti Dia di dalam hidup saya. Saat yang sama saya juga akan memiliki kerinduan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa bagi Kristus. Jika saya adalah seorang murid Kristus yang sesungguhnya, saya akan selalu aktif mencari jiwa-jiwa yang hilang dan berusaha aktif didalam menjadikan semua bangsa menjadi murid Kristus.</p>
<p style="text-align: justify;">Saudara, apakah kita sudah turut ambil bagian dalam menjadikan murid? Buah yang bagaimanakah yang ada dalam kehidupan kita?</p>
<p style="text-align: justify;">Pekerjaan sebagai seorang murid sangat jelas diberikan. Tetapi sangat dibutuhkan seseorang untuk menjadikan seseorang. Sangat dibutuhkan untuk menjadi murid yang sesunguhnya agar kita dapat menghasilkan murid. Artinya kalau kita mau menjadikan murid, kita harus lebih dahulu menjadi murid yang sesungguhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah masing-masing kita adalah seorang “murid” yang sesungguhnya? Apakah kita memiliki kasih yang sangat besar kepada Kristus? Sudahkah kita memiliki total komitmen kepadaNya? Apakah kita sudah menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Dia?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kita sudah menuruti perintahNya? Sudahkah kasih kita kepada orang lain bebas dari pengaruh keadaan? Dan Sudahkah kita berbuah banyak? Apakah kita sudah menjadi murid yang sesungguhnya? Saudara, jawaban yang benar hanya diketahui oleh saudara sendiri! Tuhan Yesus Memberkati</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://drijie1.kokris.com/6-ciri-murid-kristus/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pergunakan Waktu Mudamu</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/pergunakan-waktu-mudamu/</link>
					<comments>https://drijie1.kokris.com/pergunakan-waktu-mudamu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2021 00:37:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Khotbah Tematik]]></category>
		<category><![CDATA[kerangka khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[renungan agama kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[renungan orang kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=2281</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: Mazmur 90:12 Jikalau kita hanya mempunyai satu jam lagi untuk hidup di dunia&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ayat Bacaan: Mazmur 90:12</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jikalau kita hanya mempunyai satu jam lagi untuk hidup di dunia ini, apakah yang kira-kira akan kita lakukan? Apakah satu jam tersebut akan cukup untuk menyelesaikan apa yang seharusnya kita selesaikan menurut rencana Tuhan di dalam kehidupan kita masing-masing di dunia ini?</p>
<p style="text-align: justify;">Ironisnya, mungkin kita akan mulai berpikir, “Alangkah baiknya jikalau kemarin atau setahun yang lalu aku sudah melakukan ini dan itu.” Atau lebih celaka lagi ketika kita sadar, “Ternyata saya belum melakukan apa-apa selama saya hidup ini.” Mungkin ketika itu kita baru menyadari begitu berharganya waktu yang telah Tuhan anugerahkan kepada setiap kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Marilah kita belajar dari Mazmur yang ditulis oleh Musa. Mazmur ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Semoga melalui Mazmur ini, kita dapat kembali mengerti esensi kehidupan yang dianugerahkan oleh Tuhan dalam kehidupan kita di dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” </em>Mazmur 90:12</p>
<h4 style="text-align: justify;">Ajarlah kami menghitung hari-hari kami</h4>
<p style="text-align: justify;">Mengapa kita perlu menghitung hari-hari kita? Bayangkan jikalau di dunia ini tidak ada sistem kalender dan tidak ada definisi waktu seperti detik, menit, jam, bulan, tahun, dan seterusnya. Seperti apakah kita akan melewati waktu-waktu yang ada? Mungkin kita akan seperti orang yang dianugerahkan mata yang baik tetapi, ketimbang melihat, sengaja membuat dirinya buta. Alangkah bodohnya. Begitu juga kita jika kita memilih untuk acuh tak acuh dalam menghitung hari-hari yang ada. Tanpa disadari kita telah hanyut di dalam waktu itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya manusia menghitung waktu yang ada dari pagi sampai malam. Contohnya seperti hari ini: saya bangun pagi-pagi dan memulai hari saya, bersiap-siap untuk bekerja. Ketika malam tiba, sudah waktunya beristirahat dan menutup hari yang akan lewat. Apakah mungkin menghitung hari dengan cara terbalik? Kenapa tidak? Alkitab sendiri menghitung mulai dari gelap menuju terang. “Jadilah petang dan jadilah pagi, &#8230;” (Kejadian 1:5, 8, 13, 19, 23, 31). Dari sini kita dapat belajar bagaimana mempunyai perhitungan akan hari-hari yang penuh kesulitan dan susah untuk di lewati— hari-hari di mana kita perlu berjuang sekuat tenaga, baru kita berhak menuju hari-hari terang. Sungguh bertolak belakang dengan konteks sekarang ini, di mana banyak sekali orang yang hanya mau hidup enak tetapi tidak mau berjuang sedikit pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimanakah kita dapat menghitung hari-hari kita? Ada empat cara menghitung waktu sesuai dengan matematika:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Cara tambah (+) Ini adalah cara menghitung waktu dari orang-orang yang tidak suka berpikir, yang tidak berpengetahuan, dan yang tidak Celakalah kita jikalau setiap hari umur kita bertambah, tetapi tanpa isi atau makna yang ditambahkan ke dalam hidup kita. Hari-hari hidup kita akan terus bertambah tetapi biarlah kebijaksanaan, moral, dan iman kita pun bertambah, menjadi arti atau makna di dalam hidup kita. Di antara pemimpin-pemimpin agama seperti Musa, Abraham, Budha, Yesus Kristus, Muhammad, dan di antara filsuf-filsuf besar seperti seperti Plato, Sokrates, dan Aristoteles, yang berumur paling pendek adalah Yesus Kristus; Dia mati pada umur kira-kira 33.5 tahun. Tetapi hidup manusia tidak bergantung pada panjang pendeknya umur, yang penting adalah bobotnya.</li>
<li>Cara menghitung kurang (-) Orang bijaksana bukan saja memikirkan umurnya yang bertambah, tetapi lebih memikirkan setiap tahun hidupnya sudah berkurang satu Setiap tahun kita mengganti kalender berarti kita sudah lebih dekat ke kubur satu tahun. Setiap hari kita merobek penanggalan kita, berarti hidup kita sudah berkurang satu hari lagi. Dengan pikiran demikian kita akan menjadi orang yang bijaksana.</li>
<li>Cara menghitung kali (×) Bagaimana kita menghitung atau menggunakan waktu dengan cara kali? Dengan melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu yang Salah seorang guru saya pernah melatih kelas saya untuk membiasakan diri mengingat kembali apa yang telah dipelajari di kelas ketika kita menunggu bus ataupun lampu merah. Lama-lama ini pun menjadi suatu kebiasaan. Inilah cara mengunakan waktu dengan sistem kali. Kita dapat melatih diri bagaimana dalam waktu yang terbatas bisa mengerjakan pekerjan yang lebih banyak. Kita bisa melipatgandakan penggunakan waktu kita yang terbatas; bagaimana memakai waktu yang sedikit untuk mencapai hasil yang terbesar, yang bernilai kekal. Kita harus bertanggung jawab melipatgandakan segala kemampuan, sehingga tidak menyianyiakan waktu dan anugerah Tuhan.</li>
<li>Membagi-bagikan waktu (:) Ini berarti kita harus secepatnya memberikan atau membagi-bagikan kepada lebih banyak orang segala sesuatu yang kita miliki, sehingga orang lain juga mendapatkannya, maka lebih banyak orang di dunia ini mendapatkan manfaatnya atau berkat dari</li>
</ul>
<h3 style="text-align: justify;">Beroleh hati yang bijaksana</h3>
<p style="text-align: justify;">“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama, </strong>apakah kaitan dari ayat ini? Keduanya mempunyai kaitan yang sangat erat. Musa sendiri adalah seorang yang sudah mempunyai kepintaran dan pengetahuan yang banyak ketika ia mendapatkan pendidikannya di Mesir, dan sekarang ia menuntut hal yang lain, yakni hati yang bijaksana; sehingga seimbang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua, </strong>bayangkan jikalau kita mengisi hari-hari yang ada dengan kepintaran-kepintaran yang dapat diraih, tetapi kita tidak mempunyai hati yang bijaksana. Hasilnya pasti akan destruktif daripada konstruktif. Sangat disayangkan apabila sesuatu yang seharusnya dapat membangun dan memberikan sumbangsih malah menghancurkan atau mendatangkan kerugian yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga</strong>, mengapa kita perlu menggunakan waktu dengan bijaksana? Bukankah kita masih suka mengambil ‘our own sweet time’ dalam hal penggunaan waktu? Ingatlah bahwa dalam waktu yang terbatas ini sebenarnya kita bertanggung jawab kepada Tuhan yang tidak terbatas. Therefore we are accountable with every second that we spend right now neither to our parents, our friends, nor to the most important people in this earth, but to God Himself who will judge us.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Terakhir,</strong> entah kita menggunakan waktu kita dengan bijaksana atau tidak, dampaknya di depan nanti akan tetap ada. Bedanya, apakah kita akan dilupakan sebagai orang-orang yang hanyut di dalam sejarah atau menjadi orang-orang yang menentukan dan yang mengubah sejarah? Apakah kita menjadi orang-orang yang berkenan di hadapan Allah atau menjadi orang-orang yang akan menghadapi murka Allah? Biarlah kita senatiasa berbijaksana mengingat apa yang kita kerjakan di dalam dunia yang sementara ini semata-mata untuk kemuliaan Tuhan Yesus sendiri.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Masa Muda, Masa-Masa Keemasan</h3>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang tua berkata bahwa waktu muda itu adalah masa-masa keemasan. Banyak kesempatan luar biasa yang sekali lewat mungkin tidak akan datang kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam bahasa Inggris, masa-masa keemasan diterminologikan sebagai “The Golden Age”. Bagaimanakah mendefinisikan the golden age? Ketika kita melihat kembali di dalam sejarah, kita dapat melihat bagaimana ada periode-periode yang disebut sebagai the golden age. Salah satu contohnya adalah the golden age of China (618-1279) pada masa dinasti Tang. Dari sini kita dapat melihat 3 unsur:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama, </strong>dinasti Tang disebut sebagai the golden age, salah satu alasannya adalah karena pada saat itu Cina berada di puncak kejayaannya dibandingkan dengan dinasti-dinasti sebelumnya dan dinasti- dinasti setelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>, masa golden age tersebut hanya dipakai dalam satu periode tertentu dan bukan selama- lamanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga, </strong>saat itu block printing diciptakan sehingga tulisan-tulisan dapat disebarluaskan kepada lebih banyak orang, sehingga literatur dan seni dapat berkembang dengan pesat.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga dengan masa muda kita. Masa muda kita dapat digambarkan sebagai puncak hampir segala hal. Inilah masa di mana kita memiliki energi yang meluap-luap, aktif dan kuat dalam hal intelektual, fisik, dan sebagainya. Hal-hal yang dikerjakan pun kemungkinan besar jauh lebih efisien daripada 10 tahun yang lalu atau 50 tahun mendatang. Inilah masa di mana hal-hal yang kita kerjakan sekarang dapat menjadi ‘tabungan’ sehingga kita boleh menjadi orang yang lebih kaya dalam aspek tertentu nantinya. Inilah masa di mana kita mendapatkan dan mampu menyerap paling banyak kelimpahan baik dari studi, dunia professional, maupun dunia informasi.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Tips Mudah Untuk Membagi Waktu</h4>
<p style="text-align: justify;">Ada baiknya jika kita dapat mengerjakan sesuatu yang important &amp; urgent. Terkadang sesuatu itu important tetapi belum tentu urgent dan sesuatu itu urgent tetapi belum tentu important. Tentunya sesuatu yang tidak important dan tidak urgent menjadi prioritas yang terakhir. Terkadang kita belum memberikan respon yang tepat terhadap waktu.</p>
<p style="text-align: justify;">Contohnya ketika bos menyuruh kita melakukan sesuatu, kita mengadopsi sikap seolah-olah tugas itu sangat important dan urgent walaupun belum tentu tugas itu important dan urgent. Tetapi ketika kita diberikan kesempatan untuk berbagian di dalam pekerjaan kerajaan Allah, responnya lambat sekali.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Kehidupan Tokoh Kristen</h4>
<p style="text-align: justify;">Salah satu tokoh Kristen yang mempunyai disiplin diri yang sangat tinggi adalah Jonathan Edwards. Beliau mempunyai resolusiresolusi yang baik dalam mempergunakan waktu atau bahkan melalui gaya hidupnya. Kebiasaan-kebiasaan baik itu dibahas oleh John Piper dalam “Reflections on the Ministry of Jonathan Edwards”. Beliau mempunyai resolusi “Never to lose one moment of time, but to improve it in the most profitable way I possibly can.”</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga digambarkan sebagai berikut: “He was a great believer in doing what you could in the time you have, rather than putting things off till a more convenient time.”</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan di dalam hal dietnya, beliau sangat ketat dan percaya untuk makan makanan yang “light” sehingga lebih mudah untuk dicerna. Beliau meyakini bahwa dengan gaya hidup yang seperti itu, ia dapat bepikir lebih jernih dan memiliki lebih banyak waktu.</p>
<h4 style="text-align: justify;">Ilustrasi Waktu dan Musik</h4>
<p style="text-align: justify;">Terakhir sebelum mengakhiri tulisan ini, mari kita melihat kesamaan antara musik dan waktu ketika dibandingkan dengan kehidupan kita dan waktu. Musik merupakan sesuatu yang dapat dikaitkan erat dengan waktu. Jika ada suatu simfoni di mana ketukan pertama itu “re”, dan dua ketukan selanjutnya “la”, tetapi simfoni tersebut tidak dimainkan sesuai ketukan atau tempo yang telah diberikan, bisa-bisa lagunya menjadi kacau balau.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga dalam pengunaan waktu. Janganlah sampai kita terlambat untuk mengerjakan sesuatu yang seharusnya 5 menit yang lalu sudah dikerjakan. Jangan juga kita terlalu terburuburu mengerjakan sesuatu yang seharusnya membutuhkan 1 jam tetapi hanya dikerjakan dalam 1 menit.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan kita kalau dibayangkan adalah seperti suatu simfoni yang ditulis oleh Allah sendiri. Setiap detik kehidupan kita itu seperti not yang telah dirancang sedemikian hingga keseluruhan hidup kita merupakan simfoni yang indah. Alangkah indahnya jikalau kita mengerjakan apa yang Tuhan kehendaki menurut waktu yang telah ditetapkan oleh-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan kesadaran kepada setiap kita untuk baik-baik memakai salah satu harta yang paling penting yang kita miliki, yakni waktu hidup kita. Tuhan Yesus Memberkati.</p>
<h6 style="text-align: justify;"><em>Sumber: Dari berbagai sumber</em></h6>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://drijie1.kokris.com/pergunakan-waktu-mudamu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Kematian Itu?</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/apakah-kematian-itu/</link>
					<comments>https://drijie1.kokris.com/apakah-kematian-itu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2021 22:58:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kerangka khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah hidup kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah iman]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah tematik]]></category>
		<category><![CDATA[khotbahkristen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan renungan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan agama kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[renungan orang kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan pagi kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan rohani kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=2274</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: Mazmur 17:15 Kematian tidak mengenal umur, usia, tempat dan waktu. Jika kematian menjenguk&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ayat Bacaan: Mazmur 17:15</p>
<p>Kematian tidak mengenal umur, usia, tempat dan waktu. Jika kematian menjenguk seseorang, maka orang tersebut menyerah menghadapinya. Bahkan tidak ada obt anti maut dan kematian. Karena itu kita perlu tahu apa itu kematian dan bagaimana menghadapinya.</p>
<p>1. <strong>Apakah Kematian itu?</strong></p>
<p>&#8211; Kematian adalah perpisahan dari tubuh yang fana dan roh yang baka (Pkh. 12:7)<br />
&#8211; Kematian adalah tempat dimana segala kegiatan dan aktifitas berhenti (Pkh 9:10)<br />
&#8211; Kematian adalah istirahat dari segala kepenatan jasmani (Ayub 14:12)<br />
&#8211; Kematian adalah jembatan emas yang menghubungkan yang sementara dengan sesuatu yang kekal (Yohanes 3:16)<br />
&#8211; Kematian adalah bukti bahwa Allah tidak berdusta (Kejadian 2:17)</p>
<p>2. <strong>Bagaimana menghadapi kematian?</strong></p>
<p>&#8211; Hadapi dengan tabah, karena idak ada seorangpun yang berkuasa pada hari kematian (Pkh 8:8)<br />
&#8211; Kematian manusia tidak beda dengan makhluk yang lain, tetapi membuat kematian seseorang itu berharga kalau ia percaya kepada Allah dalam Yesus Kristus (Mazmur 116:15)<br />
&#8211; Hadapi kematian dengan pengharapan, karena ada kebangkitan orang mati (1 Tes 4:16)</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://drijie1.kokris.com/apakah-kematian-itu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dosa Kesombongan</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/dosa-kesombongan/</link>
					<comments>https://drijie1.kokris.com/dosa-kesombongan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Oct 2021 05:32:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[ilustrasi khotbah agama kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kerangka khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah hidup kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah tematik]]></category>
		<category><![CDATA[khotbahkristen]]></category>
		<category><![CDATA[merenungkan alkitab]]></category>
		<category><![CDATA[renungan iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[renungan kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[renungan orang kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan rohani kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=2270</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: Amsal 11:2 Kesombongan adalah dosa pertama yang kita tahu. Melalui kesombonganlah malaikat jatuh&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ayat Bacaan: Amsal 11:2</strong></p>
<p>Kesombongan adalah dosa pertama yang kita tahu. Melalui kesombonganlah malaikat jatuh kedalam dosa dan dikucilkan dari sorga. Demikian juga kesombongan telah menyeret nenek moyang kita Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa melalui bisikan Iblis: “Kamu akan sama seperti Allah” (Kejadian 3:5). Kesombongan telah menyeret banyak orang dalam tingkah laku yang mendatangkan kehinaan, yang menempatkan kita pada posisi bermusuhan dengan Allah (Yesaya 2:11; Matius 23:12) Karena itu kita harus waspada dengan dosa kesombongan.</p>
<p><strong>I. Darimanakah datangnya dosa kesombongan?</strong></p>
<p>* Kesombongan berasal dari hati manusia (Matius 7:22)<br />
&#8211; Hati yang tidak memiliki kasih (1 Kor. 13:4)<br />
&#8211; Hati yang menyenangi perkara yang sia-sia (1 Timotius 6:20; Efesus 5:4)<br />
&#8211; Hati yang tidak dapat mengampuni (Matius 6:12; 14-15)<br />
&#8211; Hati yang senang menghakimi orang lain (Matius 7:1-5)<br />
&#8211; Hati yang tegar tengkuk(Keluaran 32:9)<br />
&#8211; Hati yang tidak memiliki roh penundukan diri (2 Timotius 3:1-5)<br />
&#8211; Hati yang tidak tahu berterima kasih (2 Timotius 3:1-5)</p>
<p><strong>II. Apakah yang dikerjakan dosa kesombongan bagi kita?</strong></p>
<p>&#8211; Kesombongan menghancurkan hubungan kita dengan Allah (Yakobus 4:6)</p>
<p>&#8211; Kesombongan menghancurkan hubungan kita dengan sesama (Yesaya 2:11;17)</p>
<p>&#8211; Kesombongan menghancurkan diri sendiri, karena membuat kita mudah tersinggung, mudah putus asa, dan ingin mati kalau ada tantangan dan masalah (Ayub 3:3-16; Yeremia 20:14-18)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://drijie1.kokris.com/dosa-kesombongan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siapakah Pelayan Tuhan?</title>
		<link>https://drijie1.kokris.com/siapakah-pelayan-tuhan/</link>
					<comments>https://drijie1.kokris.com/siapakah-pelayan-tuhan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Yoga Adi Candra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Oct 2021 01:27:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Iman Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[kerangka khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah hidup kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah iman]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen 2021]]></category>
		<category><![CDATA[khotbah kristen update]]></category>
		<category><![CDATA[khotbahkristen]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan renungan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan agama kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan iman kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan orang kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan pagi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan pagi kristen]]></category>
		<category><![CDATA[renungan rohani kristen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://drijie1.kokris.com/?p=2266</guid>

					<description><![CDATA[Ayat Bacaan: Yohanes 13:15  “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga&#160;[&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Ayat Bacaan: Yohanes 13:15</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Siapakah yang dimaksud pelayan Tuhan? Apakah hanya Gembala, Pendeta dan Majelis Gereja? Tidak terbatas itu ! Setiap orang yang mencintai Yesus adalah sebenarnya pelayan Tuhan. Pelayan Tuhan tidak terbatas di dalam ruang ibadah, di gereja. Pelayan Tuhan adalah pelayanan yang kita lakukan kepada sesama. Bisa keluarga kita, bisa teman sekuliah kita, bisa kawan sekantor kita, tetapi bisa juga setiap orang yang kita temui dalam hidup ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>KEPADA SIAPA PERINTAH YESUS DI ATAS DISAMPAIKAN?</strong> Bukan hanya kepada murid muridNya. Seperti kita telah membaca kisah kehidupan Yesus, pelayananNya ditujukan kepada semua orang. Bukan saja Yesus melayani orang orang yang dikenalNya, tetapi kepada setiap orang yang dijumpaiNya. Bahkan, Yesus sengaja datang ke kuburan di Gerasa untuk menjumpai orang gila yang dirasuk setan. Berjam jam, Yesus memakai waktuNya untuk menjelaskan tentang hidup ini kepada perempuan Samaria diperigi Yakub yang memiliki banyak suami, hingga akhirnya bertobat. Yesus mencari orang orang yang perlu ditolong sehingga akhirnya mereka dapat diselamatkan, bukan saja tubuhnya tetapi juga jiwa dan rohnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap orang yang percaya kepada Nya, dipanggil untuk melayani sesamanya? Jenis pelayanan yang dipercayakan kepada kita beragam. Tergantung kepada panggilan dan keadaan kita. Orang orang yang harus kita layani juga berbeda sifat dan karakter. Ada orang kaya tetapi ada juga orang miskin. Ada orang pandai tetapi ada juga orang biasa. Mungkin bawahan atau teman sekantor, tetapi kadang Tuhan minta kita melayani atasan atau majikan kita. Bukan hanya keluarga kita, Tuhan juga meminta kita melayani tetangga kita. Bisa teman dekat yang banyak membantu kita tetapi mungkin juga musuh yang telah merugikan kita. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap yang sesuai Alkitab yang harus dimiliki untuk mengerjakan tugas yang Tuhan minta supaya berhasil.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ada beberapa sikap dasar yang mutlak kita miliki jika pelayanan yang Tuhan bebankan kepada kita berdampak atas orang yang kita layani</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>SIKAP MENGASIHI</strong>, Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat – Roma 12:9-10. Mengasihi adalah syarat utama dalam melayani pekerjaanNya. Setiap orang bisa melayani, tetapi apa gunanya jika tanpa kasih? Pelayanan kita tidak akan membawa dampak atau pengaruh apapun jika dilakukan tanpa kasih. Pelayanan yang dilakukan karena terpaksa tidak akan dilakukan dengan hati. Pelayanan seperti ini tidak akan memuliakan Tuhan Yang terjadi hanya terbatas karena tugas dan kewajiban. Seharian anda bekerja dirumah, mengurus keluarga, karena kewajiban sebagai ibu rumah tangga, bukan pelayanan kepada Tuhan. Pemahaman seperti itu tidak akan membawa dampak yang berarti bagi keluarga anda. Apa bedanya dengan pembantu rumah tangga? Tetapi jika kita melakukannya dengan dasar sedang melayani Tuhan, dengan kasih ,keluarga akan merasakan bedanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>LAKUKAN DENGAN SUKACITA, </strong>Ketika anda bekerja mencari nafkah dari pagi buta hingga tengah malam jika anda melakukannya dengan pengertian sedang melayani keluarga seperti yang Tuhan inginkan, dengan penuh kasih, anda akan menjalaninya dengan suka cita. Menyelesaikan pekerjaan dikantor juga harus dilakukan dengan pengertian kita sedang mengerjakannya bagi Tuhan. Kita akan melakukannya dengan senang hati, penuh kasih. Tidak akan ada keluhan dan omelan. Semuanya akan jadi berkat !</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>&#8220;Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia&#8221; – Kolose 3:23.</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://drijie1.kokris.com/siapakah-pelayan-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>5</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
