AYAT UTAMA
“Karena aku tahu, bahwa Engkau tidak akan meninggalkan jiwaku di dalam dunia orang mati, dan Engkau tidak akan membiarkan orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.” – Mazmur 16:10 (TB)
“Karena itu, kami tidak tawar hati; tetapi meskipun manusia luar kami semakin merosot, manusia dalam kami diperbaharui dari sehari ke sehari.” – 2 Korintus 4:16 (TB)
Pengharapan adalah sebuah kata yang seringkali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai situasi, kita mengandalkan pengharapan untuk memberikan arti dan tujuan. Ketika kita menghadapi tantangan, kita berharap akan ada jalan keluar. Ketika kita mengalami kesedihan, kita berharap akan ada kebahagiaan yang akan datang. Namun, seringkali harapan kita bersifat sementara dan bergantung pada keadaan di sekitar kita.
Di dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini, kita mungkin merasa terjebak dalam kegelapan. Namun, Alkitab mengajarkan bahwa pengharapan sejati bukanlah sesuatu yang bersifat sementara, melainkan sesuatu yang berasal dari iman kepada Tuhan. Pengharapan ini adalah jangkar bagi jiwa kita, memberikan ketenangan dan kekuatan di tengah badai kehidupan.
Ketika kita membaca Alkitab, kita menemukan banyak contoh orang-orang yang hidup dalam pengharapan. Dari Abraham yang berharap akan keturunan meskipun usianya sudah lanjut, hingga para murid Yesus yang berharap akan kebangkitan-Nya setelah kematian-Nya. Setiap kisah ini mengajarkan kita bahwa pengharapan dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan.
Di tengah pergeseran dunia yang cepat dan tantangan yang tak terhindarkan, penting bagi kita untuk memahami apa arti pengharapan yang sejati dalam iman Kristen. Mari kita menggali lebih dalam tema ini dan menemukan bagaimana pengharapan dapat memengaruhi kehidupan kita sehari-hari.
ISI KHOTBAH
Poin 1: Pengharapan Dalam Janji Tuhan
Pengharapan kita sebagai orang percaya berakar pada janji-janji Tuhan yang tertulis dalam kitab suci. Dalam Roma 15:13, tertulis, “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam imanmu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.” Janji-janji ini memberikan kita keyakinan bahwa apapun yang kita hadapi, Allah selalu memiliki rencana yang baik bagi kita.
Teologisnya, pengharapan kita bukanlah sekadar harapan kosong, tetapi merupakan keyakinan yang berdasar pada kebenaran firman Tuhan. Ketika kita menggenggam janji-janji-Nya, kita menemukan kekuatan untuk terus melangkah meski dalam situasi yang sulit. Aplikasi praktisnya adalah kita perlu mengingat dan merenungkan janji-janji Allah dalam hidup kita setiap hari, sehingga kita dapat terus berpegang pada pengharapan yang nyata.
Poin 2: Pengharapan Dalam Kesulitan
Ketika kita menghadapi masa-masa sulit, seringkali kita merasa putus asa. Namun, dalam 2 Korintus 4:8-9, Paulus menuliskan, “Dalam segala hal kami ditindas, tetapi tidak terdesak; kami bingung, tetapi tidak putus asa; kami dianiaya, tetapi tidak ditinggalkan; kami diterpa, tetapi tidak binasa.” Ini menunjukkan bahwa pengharapan kita tidak dihapuskan oleh kesulitan yang kita hadapi.
Teologisnya, kesulitan dalam hidup sering kali merupakan bagian dari pertumbuhan spiritual kita. Allah menggunakan masa-masa sulit untuk membentuk karakter kita dan menguatkan iman kita. Aplikasi praktisnya adalah saat kita mengalami kesulitan, kita perlu mencari Tuhan lebih dalam dan mengandalkan-Nya dengan sepenuh hati, karena di sanalah kita akan menemukan pengharapan yang sejati.
Poin 3: Pengharapan Dalam Kebangkitan Kristus
Pengharapan terbesar kita sebagai orang Kristen adalah kebangkitan Yesus Kristus. Dalam 1 Petrus 1:3, kita membaca, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam kemurahan-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali kepada pengharapan yang hidup, oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati.” Kebangkitan Kristus memberikan kita jaminan akan hidup yang kekal dan pengharapan yang takkan pernah sirna.
Teologisnya, kebangkitan Kristus adalah inti dari iman kita. Tanpa kebangkitan, iman kita sia-sia. Pengharapan ini memberi kita keyakinan bahwa meskipun kita menghadapi kematian, kita memiliki hidup yang kekal bersama-Nya. Aplikasi praktisnya adalah, saat kita menghadapi ketakutan akan kematian, kita harus mengingat bahwa kita memiliki pengharapan yang hidup dalam Kristus.
Poin 4: Pengharapan Dalam Komunitas
Sebagai tubuh Kristus, kita dipanggil untuk saling mendukung dan menguatkan satu sama lain dalam pengharapan. Ibrani 10:24-25 mengatakan, “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik, dan janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang.” Komunitas iman adalah tempat di mana kita dapat saling berbagi beban dan saling mengingatkan akan pengharapan dalam Tuhan.
Teologisnya, kita diciptakan untuk hidup dalam hubungan dengan orang lain. Ketika kita bersatu dalam iman, kita menjadi sumber kekuatan bagi satu sama lain. Aplikasi praktisnya adalah kita harus aktif terlibat dalam komunitas gereja, berkontribusi untuk membangun pengharapan dalam diri orang lain.
Poin 5: Pengharapan yang Menghasilkan Tindakan
Pengharapan sejati tidak hanya membuat kita pasif, tetapi mendorong kita untuk bertindak. Dalam Yakobus 2:17, kita diajarkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Ketika kita memiliki pengharapan dalam Tuhan, kita harus membagikannya kepada orang lain melalui tindakan nyata.
Teologisnya, pengharapan kita harus mendorong kita untuk menjadi sarana berkat bagi orang lain. Kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia, menyebarkan pengharapan yang kita terima kepada mereka yang berada dalam kegelapan. Aplikasi praktisnya adalah kita harus mencari cara untuk melayani dan membantu sesama, menjadi suara pengharapan di tengah dunia yang penuh keputusasaan.
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Pengharapan adalah bagian penting dari iman kita. Ia memberi kita kekuatan untuk bertahan dalam kesulitan, keyakinan akan janji Tuhan, dan dorongan untuk bertindak dalam kasih. Mari kita pegang teguh pengharapan ini, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam komunitas kita. Sebagai orang percaya, kita diundang untuk berbagi pengharapan yang telah kita terima dengan dunia di sekitar kita.
Sebagai penutup, mari kita merenungkan seberapa dalam kita mengandalkan pengharapan yang berasal dari Tuhan dalam hidup kita. Apakah kita masih terjebak dalam harapan-harapan yang bersifat sementara, ataukah kita berpegang pada pengharapan yang hidup yang telah diberikan oleh Kristus?
DOA
Ya Tuhan, kami bersyukur atas pengharapan yang Engkau berikan kepada kami. Kami berdoa agar kami dapat selalu ingat akan janji-janji-Mu dan menemukan kekuatan dalam kesulitan. Bimbing kami untuk menjadi saluran pengharapan bagi orang-orang di sekitar kami. Biarlah hidup kami mencerminkan kasih dan pengharapan yang sejati dalam Engkau. Dalam nama Yesus kami berdoa, amin.






