Pergunakan Waktu Mudamu

  • Whatsapp

Ayat Bacaan: Mazmur 90:12

Jikalau kita hanya mempunyai satu jam lagi untuk hidup di dunia ini, apakah yang kira-kira akan kita lakukan? Apakah satu jam tersebut akan cukup untuk menyelesaikan apa yang seharusnya kita selesaikan menurut rencana Tuhan di dalam kehidupan kita masing-masing di dunia ini?

Read More

Ironisnya, mungkin kita akan mulai berpikir, “Alangkah baiknya jikalau kemarin atau setahun yang lalu aku sudah melakukan ini dan itu.” Atau lebih celaka lagi ketika kita sadar, “Ternyata saya belum melakukan apa-apa selama saya hidup ini.” Mungkin ketika itu kita baru menyadari begitu berharganya waktu yang telah Tuhan anugerahkan kepada setiap kita.

Marilah kita belajar dari Mazmur yang ditulis oleh Musa. Mazmur ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita. Semoga melalui Mazmur ini, kita dapat kembali mengerti esensi kehidupan yang dianugerahkan oleh Tuhan dalam kehidupan kita di dunia ini.

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Mazmur 90:12

Ajarlah kami menghitung hari-hari kami

Mengapa kita perlu menghitung hari-hari kita? Bayangkan jikalau di dunia ini tidak ada sistem kalender dan tidak ada definisi waktu seperti detik, menit, jam, bulan, tahun, dan seterusnya. Seperti apakah kita akan melewati waktu-waktu yang ada? Mungkin kita akan seperti orang yang dianugerahkan mata yang baik tetapi, ketimbang melihat, sengaja membuat dirinya buta. Alangkah bodohnya. Begitu juga kita jika kita memilih untuk acuh tak acuh dalam menghitung hari-hari yang ada. Tanpa disadari kita telah hanyut di dalam waktu itu sendiri.

Biasanya manusia menghitung waktu yang ada dari pagi sampai malam. Contohnya seperti hari ini: saya bangun pagi-pagi dan memulai hari saya, bersiap-siap untuk bekerja. Ketika malam tiba, sudah waktunya beristirahat dan menutup hari yang akan lewat. Apakah mungkin menghitung hari dengan cara terbalik? Kenapa tidak? Alkitab sendiri menghitung mulai dari gelap menuju terang. “Jadilah petang dan jadilah pagi, …” (Kejadian 1:5, 8, 13, 19, 23, 31). Dari sini kita dapat belajar bagaimana mempunyai perhitungan akan hari-hari yang penuh kesulitan dan susah untuk di lewati— hari-hari di mana kita perlu berjuang sekuat tenaga, baru kita berhak menuju hari-hari terang. Sungguh bertolak belakang dengan konteks sekarang ini, di mana banyak sekali orang yang hanya mau hidup enak tetapi tidak mau berjuang sedikit pun.

Bagaimanakah kita dapat menghitung hari-hari kita? Ada empat cara menghitung waktu sesuai dengan matematika:

  • Cara tambah (+) Ini adalah cara menghitung waktu dari orang-orang yang tidak suka berpikir, yang tidak berpengetahuan, dan yang tidak Celakalah kita jikalau setiap hari umur kita bertambah, tetapi tanpa isi atau makna yang ditambahkan ke dalam hidup kita. Hari-hari hidup kita akan terus bertambah tetapi biarlah kebijaksanaan, moral, dan iman kita pun bertambah, menjadi arti atau makna di dalam hidup kita. Di antara pemimpin-pemimpin agama seperti Musa, Abraham, Budha, Yesus Kristus, Muhammad, dan di antara filsuf-filsuf besar seperti seperti Plato, Sokrates, dan Aristoteles, yang berumur paling pendek adalah Yesus Kristus; Dia mati pada umur kira-kira 33.5 tahun. Tetapi hidup manusia tidak bergantung pada panjang pendeknya umur, yang penting adalah bobotnya.
  • Cara menghitung kurang (-) Orang bijaksana bukan saja memikirkan umurnya yang bertambah, tetapi lebih memikirkan setiap tahun hidupnya sudah berkurang satu Setiap tahun kita mengganti kalender berarti kita sudah lebih dekat ke kubur satu tahun. Setiap hari kita merobek penanggalan kita, berarti hidup kita sudah berkurang satu hari lagi. Dengan pikiran demikian kita akan menjadi orang yang bijaksana.
  • Cara menghitung kali (×) Bagaimana kita menghitung atau menggunakan waktu dengan cara kali? Dengan melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu yang Salah seorang guru saya pernah melatih kelas saya untuk membiasakan diri mengingat kembali apa yang telah dipelajari di kelas ketika kita menunggu bus ataupun lampu merah. Lama-lama ini pun menjadi suatu kebiasaan. Inilah cara mengunakan waktu dengan sistem kali. Kita dapat melatih diri bagaimana dalam waktu yang terbatas bisa mengerjakan pekerjan yang lebih banyak. Kita bisa melipatgandakan penggunakan waktu kita yang terbatas; bagaimana memakai waktu yang sedikit untuk mencapai hasil yang terbesar, yang bernilai kekal. Kita harus bertanggung jawab melipatgandakan segala kemampuan, sehingga tidak menyianyiakan waktu dan anugerah Tuhan.
  • Membagi-bagikan waktu (:) Ini berarti kita harus secepatnya memberikan atau membagi-bagikan kepada lebih banyak orang segala sesuatu yang kita miliki, sehingga orang lain juga mendapatkannya, maka lebih banyak orang di dunia ini mendapatkan manfaatnya atau berkat dari

Beroleh hati yang bijaksana

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Pertama, apakah kaitan dari ayat ini? Keduanya mempunyai kaitan yang sangat erat. Musa sendiri adalah seorang yang sudah mempunyai kepintaran dan pengetahuan yang banyak ketika ia mendapatkan pendidikannya di Mesir, dan sekarang ia menuntut hal yang lain, yakni hati yang bijaksana; sehingga seimbang.

Kedua, bayangkan jikalau kita mengisi hari-hari yang ada dengan kepintaran-kepintaran yang dapat diraih, tetapi kita tidak mempunyai hati yang bijaksana. Hasilnya pasti akan destruktif daripada konstruktif. Sangat disayangkan apabila sesuatu yang seharusnya dapat membangun dan memberikan sumbangsih malah menghancurkan atau mendatangkan kerugian yang besar.

Ketiga, mengapa kita perlu menggunakan waktu dengan bijaksana? Bukankah kita masih suka mengambil ‘our own sweet time’ dalam hal penggunaan waktu? Ingatlah bahwa dalam waktu yang terbatas ini sebenarnya kita bertanggung jawab kepada Tuhan yang tidak terbatas. Therefore we are accountable with every second that we spend right now neither to our parents, our friends, nor to the most important people in this earth, but to God Himself who will judge us.

Terakhir, entah kita menggunakan waktu kita dengan bijaksana atau tidak, dampaknya di depan nanti akan tetap ada. Bedanya, apakah kita akan dilupakan sebagai orang-orang yang hanyut di dalam sejarah atau menjadi orang-orang yang menentukan dan yang mengubah sejarah? Apakah kita menjadi orang-orang yang berkenan di hadapan Allah atau menjadi orang-orang yang akan menghadapi murka Allah? Biarlah kita senatiasa berbijaksana mengingat apa yang kita kerjakan di dalam dunia yang sementara ini semata-mata untuk kemuliaan Tuhan Yesus sendiri.

Masa Muda, Masa-Masa Keemasan

Banyak orang tua berkata bahwa waktu muda itu adalah masa-masa keemasan. Banyak kesempatan luar biasa yang sekali lewat mungkin tidak akan datang kembali.

Dalam bahasa Inggris, masa-masa keemasan diterminologikan sebagai “The Golden Age”. Bagaimanakah mendefinisikan the golden age? Ketika kita melihat kembali di dalam sejarah, kita dapat melihat bagaimana ada periode-periode yang disebut sebagai the golden age. Salah satu contohnya adalah the golden age of China (618-1279) pada masa dinasti Tang. Dari sini kita dapat melihat 3 unsur:

Pertama, dinasti Tang disebut sebagai the golden age, salah satu alasannya adalah karena pada saat itu Cina berada di puncak kejayaannya dibandingkan dengan dinasti-dinasti sebelumnya dan dinasti- dinasti setelahnya.

Kedua, masa golden age tersebut hanya dipakai dalam satu periode tertentu dan bukan selama- lamanya.

Ketiga, saat itu block printing diciptakan sehingga tulisan-tulisan dapat disebarluaskan kepada lebih banyak orang, sehingga literatur dan seni dapat berkembang dengan pesat.

Begitu juga dengan masa muda kita. Masa muda kita dapat digambarkan sebagai puncak hampir segala hal. Inilah masa di mana kita memiliki energi yang meluap-luap, aktif dan kuat dalam hal intelektual, fisik, dan sebagainya. Hal-hal yang dikerjakan pun kemungkinan besar jauh lebih efisien daripada 10 tahun yang lalu atau 50 tahun mendatang. Inilah masa di mana hal-hal yang kita kerjakan sekarang dapat menjadi ‘tabungan’ sehingga kita boleh menjadi orang yang lebih kaya dalam aspek tertentu nantinya. Inilah masa di mana kita mendapatkan dan mampu menyerap paling banyak kelimpahan baik dari studi, dunia professional, maupun dunia informasi.

Tips Mudah Untuk Membagi Waktu

Ada baiknya jika kita dapat mengerjakan sesuatu yang important & urgent. Terkadang sesuatu itu important tetapi belum tentu urgent dan sesuatu itu urgent tetapi belum tentu important. Tentunya sesuatu yang tidak important dan tidak urgent menjadi prioritas yang terakhir. Terkadang kita belum memberikan respon yang tepat terhadap waktu.

Contohnya ketika bos menyuruh kita melakukan sesuatu, kita mengadopsi sikap seolah-olah tugas itu sangat important dan urgent walaupun belum tentu tugas itu important dan urgent. Tetapi ketika kita diberikan kesempatan untuk berbagian di dalam pekerjaan kerajaan Allah, responnya lambat sekali.

Kehidupan Tokoh Kristen

Salah satu tokoh Kristen yang mempunyai disiplin diri yang sangat tinggi adalah Jonathan Edwards. Beliau mempunyai resolusiresolusi yang baik dalam mempergunakan waktu atau bahkan melalui gaya hidupnya. Kebiasaan-kebiasaan baik itu dibahas oleh John Piper dalam “Reflections on the Ministry of Jonathan Edwards”. Beliau mempunyai resolusi “Never to lose one moment of time, but to improve it in the most profitable way I possibly can.”

Beliau juga digambarkan sebagai berikut: “He was a great believer in doing what you could in the time you have, rather than putting things off till a more convenient time.”

Bahkan di dalam hal dietnya, beliau sangat ketat dan percaya untuk makan makanan yang “light” sehingga lebih mudah untuk dicerna. Beliau meyakini bahwa dengan gaya hidup yang seperti itu, ia dapat bepikir lebih jernih dan memiliki lebih banyak waktu.

Ilustrasi Waktu dan Musik

Terakhir sebelum mengakhiri tulisan ini, mari kita melihat kesamaan antara musik dan waktu ketika dibandingkan dengan kehidupan kita dan waktu. Musik merupakan sesuatu yang dapat dikaitkan erat dengan waktu. Jika ada suatu simfoni di mana ketukan pertama itu “re”, dan dua ketukan selanjutnya “la”, tetapi simfoni tersebut tidak dimainkan sesuai ketukan atau tempo yang telah diberikan, bisa-bisa lagunya menjadi kacau balau.

Begitu juga dalam pengunaan waktu. Janganlah sampai kita terlambat untuk mengerjakan sesuatu yang seharusnya 5 menit yang lalu sudah dikerjakan. Jangan juga kita terlalu terburuburu mengerjakan sesuatu yang seharusnya membutuhkan 1 jam tetapi hanya dikerjakan dalam 1 menit.

Kehidupan kita kalau dibayangkan adalah seperti suatu simfoni yang ditulis oleh Allah sendiri. Setiap detik kehidupan kita itu seperti not yang telah dirancang sedemikian hingga keseluruhan hidup kita merupakan simfoni yang indah. Alangkah indahnya jikalau kita mengerjakan apa yang Tuhan kehendaki menurut waktu yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Kiranya Tuhan memberikan kekuatan dan kesadaran kepada setiap kita untuk baik-baik memakai salah satu harta yang paling penting yang kita miliki, yakni waktu hidup kita. Tuhan Yesus Memberkati.

Sumber: Dari berbagai sumber

Related posts

Leave a Reply