AYAT UTAMA:
Efesus 5:33: “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu sama seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.”
Shalom saudara, jemaat Tuhan yang dikasihi Kristus. Kita berkumpul hari ini di bawah janji Firman yang melampaui waktu dan budaya. Sejak penciptaan, Allah telah merancang sebuah lembaga yang paling sakral dan mendasar bagi peradaban manusia: Pernikahan. Pernikahan bukanlah sekadar kontrak sosial, bukan juga hanya sebuah ikatan romantis yang diikat oleh emosi sesaat. Ia adalah Perjanjian Kudus yang didirikan oleh Allah di Taman Eden, sebuah struktur teologis yang harus mencerminkan kasih dan kesetiaan Allah sendiri kepada umat-Nya. Namun, di tengah gempuran zaman yang semakin sekuler dan individualistik, banyak pernikahan Kristen yang kehilangan makna dan arah, terseret oleh gelombang budaya yang mengajarkan bahwa segalanya adalah tentang ‘aku’.
Melalui kitab Efesus, Rasul Paulus membongkar rahasia terdalam mengenai pernikahan: bahwa ikatan suami-istri adalah metafora surgawi, sebuah drama rohani yang menggambarkan hubungan antara Kristus dan Jemaat-Nya. Jika kita ingin pernikahan kita tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan menjadi kesaksian, kita harus kembali kepada cetak biru ilahi yang diberikan dalam Firman Tuhan. Ayat kunci kita hari ini, Efesus 5:33, menyajikan dua pilar utama yang tak terpisahkan: kasih yang berkorban dari suami, dan penghormatan yang tulus dari istri.
1. Pilar Pertama: Pernikahan sebagai Cerminan Kristus dan Jemaat-Nya (Ref: Efesus 5:25: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.”)
Kasih yang dituntut Allah dalam pernikahan adalah kasih yang radikal, yang setara dengan kasih Kristus bagi Gereja. Ini adalah kasih *agape*, kasih yang tidak bergantung pada kelayakan atau timbal balik, tetapi kasih yang memilih untuk memberi dan berkorban tanpa batas. Kristus mengasihi Jemaat bahkan ketika Jemaat tidak sempurna, bahkan ketika kita gagal memenuhi standar-Nya. Ia menyerahkan seluruh diri-Nya, bahkan nyawa-Nya, demi kesucian dan keselamatan kita. Suami dipanggil untuk meneladani standar kasih yang begitu tinggi ini.
Memahami hal ini berarti kita harus membuang pandangan 50/50 yang sering dianut dunia. Pernikahan Kristen adalah panggilan 100/100. Suami harus mengasihi dengan kasih yang menyucikan dan merawat (Efesus 5:26-29), melihat istrinya bukan sebagai bawahan yang harus melayani, melainkan sebagai pribadi yang harus dihidupkan dan dikembangkan potensinya. Ketika suami mencintai dengan cara ini, dia sedang menjadi representasi Kristus yang kelihatan dalam rumah tangganya, menciptakan suasana aman dan kudus tempat istri dapat berkembang.
2. Pilar Kedua: Panggilan Suami – Mengasihi Seperti Mengasihi Diri Sendiri (Ref: Efesus 5:28: “Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.”)
Perintah untuk mengasihi istri seperti tubuh sendiri adalah ilustrasi yang sangat praktis dan mendalam. Tidak ada orang yang sengaja menyakiti tubuhnya sendiri; sebaliknya, kita akan melindungi, merawat, dan memenuhi kebutuhannya. Jika suami mengabaikan atau menyakiti istrinya, ia sesungguhnya sedang melukai dirinya sendiri, karena di mata Allah, mereka adalah satu daging (Kejadian 2:24).
Panggilan ini menuntut suami untuk proaktif dalam memelihara kesejahteraan istri, baik secara fisik, emosional, maupun rohani. Dalam konteks modern, ini berarti memimpin rumah tangga dengan kelembutan, mendengarkan dengan empati, dan menjadi kepala yang melayani (servant leadership), bukan diktator. Ketika suami menginvestasikan kasih dan perhatian pada istrinya, ia bukan hanya membuat istrinya bahagia, tetapi ia juga sedang membangun fondasi bagi kesehatan rohani seluruh keluarganya dan memastikan bahwa doanya tidak terhalang (1 Petrus 3:7).
3. Pilar Ketiga: Panggilan Istri – Penghormatan yang Membangun (Ref: 1 Petrus 3:4: “tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.”)
Jika kebutuhan terdalam suami adalah merasa dihormati dan diakui, maka panggilan bagi istri adalah memenuhi kebutuhan fundamental tersebut. Penghormatan (respect) dalam Alkitab bukan berarti ketakutan atau tunduk tanpa pendapat, tetapi mengakui peran suami sebagai pemimpin yang ditetapkan Tuhan bagi keluarga, sama seperti Gereja menghormati kepemimpinan Kristus. Penghormatan adalah tanggapan alami istri terhadap kasih yang berkorban yang telah ditunjukkan suaminya.
Penghormatan yang sejati berakar pada ‘manusia batiniah’ yang digambarkan oleh Petrus: roh yang lemah lembut dan tenteram. Kekuatan istri bukan terletak pada kemampuan mengontrol atau mendominasi, melainkan pada kerendahan hati dan keyakinan pada janji Tuhan. Ketika istri memilih untuk menghormati suaminya—bahkan ketika itu sulit—ia sedang menanam benih kedamaian dalam rumah tangga dan memimpin suaminya kembali kepada peran yang dikehendaki Allah, membimbing keluarga dengan hikmat dan doa, dan menjadi penolong yang sejati.
Saudara-saudara, pernikahan adalah sekolah seumur hidup yang dirancang oleh Guru Agung, Yesus Kristus. Ia adalah bengkel tempat karakter kita diasah, tempat keegoisan kita dipatahkan, dan tempat kita belajar menyerupai Kristus. Efesus 5:33 adalah ringkasan perintah abadi: Suami, kasihilah. Istri, hormatilah. Jika kita menjalankan kedua pilar ini dengan fokus yang benar—bukan menuntut pasangan kita berubah, melainkan berfokus pada apa yang harus kita lakukan di hadapan Tuhan—maka kita akan melihat kemuliaan Tuhan nyata dalam rumah tangga kita.
Pernikahan yang sukses bukanlah tentang menemukan pasangan yang sempurna, melainkan tentang menjadi pasangan yang dipenuhi Kristus. Mari kita kembali kepada standar Alkitab, menjadikan kasih Kristus sebagai sumber kasih kita dan otoritas-Nya sebagai dasar penghormatan kita.
DOA PENUTUP:
Ya Bapa di Surga, kami bersyukur atas anugerah perjanjian pernikahan. Kami mengakui bahwa seringkali kami gagal dalam mengasihi dan menghormati seperti yang Engkau kehendaki. Kami memohon pengampunan dan kekuatan baru. Ya Tuhan, bagi para suami, berikan hati yang berani untuk mengasihi secara berkorban, meneladani Kristus. Bagi para istri, berikan roh yang lembut dan tenteram, yang memilih untuk menghormati kepemimpinan yang Engkau tetapkan. Jadikanlah setiap rumah tangga Kristen di tempat ini sebagai cerminan nyata kasih Kristus bagi dunia. Dalam Nama Yesus kami berdoa. Amin.






