Mengatasi Masalah Kehidupan

  • Whatsapp

Ayat Bacaan : Yohanes 17:3, Matius 6:25-32

Kerangka Khotbah:

Banyak orang menjadi frustasi dalam persoalan yang dia hadapi karena semakin kuat dia berusaha untuk menyelesaikan, semakin kuat pula persoalan itu melilitnya. Seolah-oleh seluruh energi dan waktu yang dihabiskan tetap tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Hal ini tidak jarang membuat seseorang putus asa dan merasa Tuhan tidak adil kepada dirinya.

Bagaimana cara mengatasi masalah hidup itu?

  1. Perbaiki relasi dengan Tuhan

Ada kalanya kita mengalami kegagalan di jalan hidup yang kita tempuh. Kita gagal menyenangkan hati Tuhan. Kita gagal hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Kita gagal menaati firman Tuhan. Dalam keterpurukan semacam itu, kita mengalami hambatan untuk dekat dan berkomunikasi dengan Tuhan. Relasi kita dengan Tuhan menjadi terhambat. Banyak permasalahan menimpa kita sebagai konsekuensi logis dari kegagalan yang kita lakukan.
Bila itu juga masalah yang Anda hadapi, jangan kecil hati. Masih ada kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk memperbaiki diri. Bangun kembali relasi dengan Tuhan karena Dia selalu menerima kita kembali pada saat kita sadar dan datang kepada-Nya.

Barangsiapa membereskan hubungan antara dirinya dengan Allah, niscaya Allah akan membereskan hubungan antara dia dan manusia semuanya. Lantas bagaimanakah seharusnya menghadapi urusan-urusan dunia yang menyulitkan tersebut? Apakah kita bisa menghindarinya? Atau apakah semua itu memang harus dijalani?

Dalam pandangan Allah, segala urusan yang kita khawatirkan dan takutkan adalah mudah bagi-Nya. Seringkali kita berusaha menjalani itu semua dengan kekuatan diri sendiri, merasa sebagai superman yang mampu menghadapi segala-galanya. Dan Allah ingin menunjukkan bahwa sebenarnya kita tidak bisa apa-apa.

Dalam Injil Matius, Yesus mengatakan: “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” – Matius 11:28.

  1. Bangun semangat hidup

Ketika kita gagal dalam hidup ini, semangat dan daya juang kita menjadi menurun. Kita terpenjara di dalam kegagalan kita. Gairah hidup seakan sirna oleh kegagalan itu. Harapan terasa sangat jauh. Hidup berjalan terseok-seok. Ingatlah bahwa selama kita masih hidup, maka persoalan itu selalu ada. Mengeluh, marah, putus asa tidak dapat menyelesaikan masalah.

Oleh karena itu, kita harus bangkit dan tumbuhkan kembali semangat dan motivasi serta gairah hidup yang sempat menurun karena kegagalan. Ingat kegagalan itu hanya sementara dan tidak permanen. Kegagalan itu bisa diperbaiki dengan membangun kembali semangat dan daya juang kita untuk meraih apa yang menjadi impian kita.

Pada waktu kita bersemangat, maka persoalan macam apapun yang menimpa kita, kita tidak akan menyerah. Kita bisa menanggungnya. Berpikirlah selalu positif. Buang semua pikiran negatif. Kembangkan sikap mental pemenang. Ada Tuhan bersama kita yang selalu siap menolong kita untuk bangkit kembali. Di dalam Tuhan, dan bersama dengan Tuhan, kita cakap menanggung segala sesuatu. Rasul Paulus menulis demikian: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada-Ku” – Filipi 4:13.

  1. Belajar bersyukur dan rekreasi

Masalah membuat kita mengalami ketegangan. Hidup menjadi panik. Hormon-horman negatif bermunculan. Denyut nadi dan jantung meninggi. Tensi darah juga ikut-ikutan menaik. Situasi semacam ini dialami oleh kita semua.

Belajar bersyukur dan melakukan rekreasi merupakan langkah penting yang harus kita lakukan untuk menenangkan hati dan pikiran serta jiwa kita. Di dalam bersyukur kita belajar untuk melihat Tuhan bahwa Dia lebih besar dari permasalahan hidup kita. Di dalam rekreasi kita belajar untuk menikmati hidup sebagai pemberian Tuhan dan menikmati alam ciptaan Tuhan sebagai penenang jiwa kita. Oleh sebab itu kita butuh relaksasi. Beristirahat di alam terbuka. Berkunjung ke tempat-tempat wisata. Bertamasya ke lokasi yang kondusif. Jalan-jalan ke tempat-tempat yang menyenangkan. Berolahraga dan lain sebagainya. Semua aktivitas tersebut merupakan upaya kita untuk mengatasi masalah hidup kita. Rasul Paulus menulis demikian: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” – 1 Tesalonika 5:18

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment