Mengalahkan Ketakutan

  • Whatsapp

Ayat Bacaan: 2 Tawarikh 20:1-4: “Setelah itu bani moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar”, yakni En-Gedi. Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota Yehuda untuk mencari TUHAN”.

Kerangka Khotbah:
Dalam kehidupan kita, seringkali kali kita mengalami ketakutan. Pemicu dari ketakutan itu beragam, baik terkait dengan pasangan hidup, ekonomi, rumah tangga, pekerjaan, bisnis, kesehatan, keturunan dan juga pelayanan.

Read More

Sebagai manusia biasa, ketika dihadapkan dengan beragam problema tersebut, seringkali kali kita menjadi ciut dan takut. Keberanian kita seakan sirna dan kekuatan seakan tidak bisa menopang kita. Apa yang bisa kita andalkan dalam situasi normal, seakan tidak dapat membantu kita ketika ada dalam masa krisis.

Yosafat adalah seorang pemimpin besar. Dia adalah raja di Israel. Tentu sebagai pemimpin, ia memiliki kemampuan, dan juga skill serta pengetahuan yang memadai. Sebagai raja, tentu ia memiliki pasukan spesial, tentara yang terlatih dan siap untuk bertempur. Ada dukungan kuat dari rakyat yang dipimpinnya, yaitu Bangsa Israel.

Dari penjelasan tersebut, maka kita bisa mengatakan bahwa sesungguhnya tidak ada alasan bagi Yosafat untuk takut. Ia punya cukup cukup keberanian dan memiliki perlengkapan yang memadai serta pasukan dan tentara yang hebat yang bisa dikerahkannya untuk menghadapi musuh yang datang menyerang mereka.

Jangan lupa baca juga ini ya: Orang Muda Yang Kaya Raya

Namun, menarik untuk kita perhatikan, bahwa semua yang bisa diandalkan, yang bisa digunakan dan bisa dikerahkan untuk menghadapi musuh, sepertinya tidak dapat dilakukan oleh Yosafat sebagai seorang raja. Pasukan elite, tentaran dan pasukan berkuda bahkan segenap bangsa Israel pun tidak membuat nyali Yosafat sebagai raja kuat.

Justru sebaliknya, ketika dia mendengar berita bahwa musuh kini datang untuk menyerang, Yosafat mengalami gangguan psikolgis dan mental yang luar biasa. Ia menjadi lemah dan dirundung oleh ketakutan. Kendati demikian, Yosafat tidak dikuasai oleh ketakutannya. Ia melakukan reaksi dan tindakan yang membawanya kepada suatu kemenangan.

Pertanyaan penting untuk direnungkan ialah: “Apa rahasianya sehingga Yosafat bisa mengalahkan ketakutannya?” Berdasarkan firman Tuhan dalam 2 Tawarikh 20:1-4, maka kita menemukan beberapa hal yang menjadi kunci kemenangan Yosafat mengalahkan rasa takutnya, yaitu:

1. Ia memutuskan untuk mencari Tuhan.
Dalam ketakutannya terhadap musuh yang sedang menuju untuk menyerangnya, Yosafat tidak panik. Ia mengumpulkan pengalaman rohaninya dan memutuskan untuk mencari Tuhan dengan segenap hatinya. “Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN”.

Sebagai seorang pemimpin dan seorang raja, dalam ketakutannya ternyata Yosafat tidak melupakan Yahweh Elohim (Tuhan Allahnya). Ia mendekatkan diri kepada Sang Sumber kekuatan sejati yang tidak bisa dikalahkan oleh apa dan siapapun. Tentu ada janji Tuhan bahwa setiap umat-Nya yang mencari Dia dengan sungguh-sungguh, maka pasti ia akan mendapatkannya.

Dalam Yesaya 55:6, yesaya menulis: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!”. Tuhan senantiasa bisa ditemui kapan pun, di mana pun dan dalam situasi dan kondisi bagaimana pun. Yosafat mengetahui akan hal itu, karenanya ia memutuskan untuk mencari Tuhan di tengah ancaman musuh yang menakutkan karena dia tahu bahwa ketika ia dekat kepada Tuhan Allahnya, maka ia akan mendapatkan kekuatan dan keberanian.

Demikian juga dengan kita, ketika kita mengalami ketakutan dalam hidup ini, jangan panik. Tapi kumpulkan segenap pengalaman rohani dan putuskanlah untuk mencari Tuhan dan mendekatkan diri kita kepada-Nya. Ketika kita melakukannya, maka kita pasti mendapatkan kekuatan dan keberanian yang kita butuhkan untuk mengalahkan rasa takut kita.

2. Ia mengajak segenap umat untuk berdoa dan berpuasa di hadapan Tuhan.
Dalam ketakutan yang dialaminya sebagai pemimpin dan raja, Yosafat selain ia memutuskan untuk mencari Tuhan secara pribadi, ia juga mengajak segenap bangsa Israel untuk berdoa dan berpuasa di hadapan Tuhan meminta pertolongan dari-Nya.

“Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN”. Yosafat tidak menyerukan supaya bangsa Israel bangkit memanggul senjata untuk berperang melawan musuh yang sedang menuju ke wilayah kekuasaanya untuk menyerang mereka. Justru Yosafat berseru memanggil umat Israel untuk ada id hadapan Tuhan, memohon belas kasihan, perkenanan dan pertolongan dari Tuhan dalam doa dan puasa yang mereka lakukan.

Yosafat tidak melakukan peperangan secara fisik. Ia tidak memerintahkan bangsa Israel untuk melawan musuh dengan kekuatan kedagingan. Tetapi, Yosafat memerintah bangsa Israel untuk berperang di alam spiritual dengan mengandalkan Yahweh Elohim sebagai sumber kekuatan, keberanian dan kemenangan. Yosafat bersama Israel mengundang Tuhan hadir di tengah-tengah mereka karena mereka tahu bahwa ketika Tuhan hadir di tengah-tengah mereka, maka sesuatu pasti terjadi.

Nabi Zefanya menulis: “TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan” – Zefanya 3:17. Tuhan adalah Pahlawan yang gagah perkasa dan sanggup memberikan kemenangan bagi umat-Nya.

Demikian juga dengan kita ketika kita mengalami ketakutan dalam hidup ini, jangan menyerah dan putus asa. Mintalah dukungan doa dan puasa dari orang lain. Bangun relasi rohani dengan sesama tubuh Kristus karena ketika kita bersatu berseru kepada Tuhan, maka kita pasti bisa mengalahkan ketakutan kita. Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 comment