Memahami Rencana Tuhan

Ayat Bacaan : Kejadian pasal 17 ayat 15 sampai 27

Renungan :

Menjadikan suatu umat yang kudus dan taat kepada Tuhan bukanlah pekerjaan manusia. Tetapi Tuhan yang berkarya dengan kuasa ilahinya. Sebagaimana Kristus datang ke dunia memanggil setiap orang untuk masuk dalam kerajaan Allah.

Demikian juga dalam nas ini, bahwa pembentukan umat Allah melalui panggilan Abraham ini melatih diri kita untuk sepenuhnya percaya bahwa Tuhan bekerja dan berkarya dalam hidup ini, yang walaupun dari logika dan pikiran kita sulit untuk memahaminya. Terkadang muncul dalam pikiran kita tentang yang terbaik bagi kita, namun belum tentu itu baik bagi kita sesuai dengan maksud dan rencana Tuhan.

Tuhan setia kepada janjiNya dan pasti akan digenapiNya walaupun dalam pertimbangan pikiran manusia muncul kemustahilan. Inilah yang dapat kita lihat dari pertemuan singkat Tuhan dengan Abraham. Setelah beberapa kali Tuhan menyatakan janjiNya, maka akhirnya Tuhan kembali menyatakan kepastian akan janjiNya.
Namun tanggapan Abraham adalah “tertawa” dalam hatinya, mungkinkah pasangan yang telah berumur senja mendapatkan anak? Abraham mencoba memberikan“solusi” kepada Tuhan melalui Ismael. Hanya tinggal memberkati Ismael, maka janji Tuhan tentang Abraham akan terjadi.

Pemahaman yang salah tentang janji Tuhan bagi Abraham sangat jelas terlihat, yang mencoba dengan melakukan cara sendiri untuk mewujudkan rencana Tuhan dengan berusaha memperoleh anak melalui Hagar hambanya, yaitu Ismael. Namun Tuhan bukanlah sekecil pikiran manusia, apa yang telah dirancangkan oleh Tuhan pasti akan digenapi walaupun sangat mustahil bagi manusia. Maka Tuhan berkata kepada Abraham “yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga” (ay. 21).

Ketika kita menghadapi jalan buntu, terlintas dipikiran untuk mencari jalan pintas. Apakah itu karena ketidaksabaran, ketidaksiapan kita menghadapi sulitnya persoalan. Namun firman Tuhan ingin mengingatkan kita bahwa rancangan Tuhan bukanlah sekecil pikiran kita. Ketidaksiapan kita menghadapi kenyataan terjadi karena kekeliruan kita memahami maksud Tuhan dalam hidup kita.
Disini kita belajar, bahwa kita tidak dapat menyalkan begitu saja iman Abraham, tetapi itulah perjalanan iman yang mengalami proses pembentukan untuk semakin kuat dan semakin mengenal Tuhan dalam hidup kita. Kita juga dapat seperti Abraham yang akan menghadapi liku-liku kehidupan, terkadang kita tergoda untuk mencari jalan pintas menurut pertimbangan pikiran kita. Namun Allah dengan kasih setiaNya akan senantiasa membimbing kita untuk semakin memahami maksud dan rencanaNya dalam hidup kita.

Related posts