Kuat Dalam Kasih Karunia

  • Whatsapp

AYAT UTAMA:
2 Korintus 12:9-10 (Terjemahan Baru): Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam cemooh, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

Shalom saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Kita berada di ambang akhir sebuah tahun perjalanan. Saat kita menutup lembaran kalender ini, seringkali hati kita dipenuhi dengan campuran perasaan: syukur atas berkat, namun juga kelelahan dan mungkin sedikit rasa sakit atas segala ‘pergumulan’ yang harus kita hadapi. Kita mungkin merasa lelah setelah berlari kencang, menghadapi badai tak terduga, dan mungkin kecewa karena resolusi tahun lalu banyak yang tidak tercapai. Tahun 2024 akan segera tiba, dan refleksi akhir tahun sering kali membawa kita pada pengakuan jujur: kita tidak sekuat yang kita kira.

Read More

Injil hari ini berbicara langsung kepada keadaan kita yang lelah. Rasul Paulus, dalam pergumulannya yang besar, mengajarkan kita sebuah paradoks ilahi yang revolusioner: justru di saat kita merasa paling lemah, di situlah Kasih Karunia Tuhan bekerja paling sempurna. Renungan tutup tahun ini bukanlah tentang merayakan kekuatan kita yang tersisa, melainkan merayakan kekuatan Kristus yang memampukan kita. Mari kita melihat bagaimana pergumulan kita di tahun yang hampir usai ini adalah panggung bagi kemuliaan Kristus.

1.  Mengakui Titik Kelemahan (Pintu Masuk Kasih Karunia) (Ref: Mazmur 34:19: Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.)
Pada akhir tahun, kita cenderung membuat inventarisasi keberhasilan, namun Tuhan mengajak kita untuk jujur pada kelemahan kita. Pergumulan—baik itu pergumulan finansial, sakit penyakit, konflik keluarga, atau perjuangan melawan dosa—adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang percaya. Seringkali, kelemahan kita membuat kita malu, tetapi firman Tuhan melalui Paulus menegaskan bahwa kelemahan bukanlah akhir cerita, melainkan titik permulaan bagi campur tangan ilahi.

Pengakuan akan kelemahan adalah kunci. Paulus tidak menyembunyikan ‘duri dalam daging’ yang ia miliki; ia justru meminta Tuhan mengambilnya. Ketika Tuhan menolak permintaannya, Ia memberikan jawaban yang mengubah perspektif: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.’ Bagi kita yang merasa ‘hancur’ di akhir tahun karena kegagalan atau kerugian, pengakuan kelemahan kita membuka pintu untuk menerima anugerah yang tidak pernah habis dari Kristus, anugerah yang melebihi setiap kesulitan yang kita alami.

2. Kuasa-Nya Sempurna dalam Keterbatasan Kita (Ref: Roma 5:3-4: Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.)
Konsep ini adalah inti dari Kekristenan: Kuasa Allah tidak melengkapi kelemahan kita, melainkan bekerja melalui kelemahan kita. Jika kita kuat dalam diri kita sendiri, kita akan cenderung mengklaim kemuliaan itu untuk diri kita. Tetapi jika kita menang saat kita lemah, maka jelaslah bahwa kemenangan itu adalah pekerjaan Kristus. Ayat 2 Korintus 12:9 mengajak kita untuk ‘bermegah’ dalam kelemahan—sebuah konsep yang bertentangan dengan budaya modern yang menuntut kesempurnaan dan kesuksesan.

Pergumulan yang kita hadapi sepanjang tahun ini, mulai dari pagi hari pertama bulan Januari hingga malam terakhir bulan Desember, bukanlah hukuman, melainkan alat pembentukan. Kesulitan yang kita hadapi telah menghasilkan ketekunan dan tahan uji, seperti yang dikatakan Roma 5. Melalui setiap air mata, setiap kekalahan kecil, dan setiap kesukaran, kita belajar untuk lebih mengandalkan Kristus, sehingga ketika kita memasuki tahun yang baru, kita tidak melangkah dengan optimisme kosong, melainkan dengan iman yang kuat, yang telah ditempa oleh api Kasih Karunia-Nya.

3. Pergumulan sebagai Platform Kemenangan yang Akan Datang (Ref: Filipi 4:13: Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.)
Refleksi akhir tahun harus memotivasi kita, bukan membuat kita terpuruk. Kita tidak merayakan kegagalan masa lalu, melainkan merayakan kesetiaan Allah yang telah menopang kita MELEWATI masa lalu itu. Setiap pergumulan yang kita taklukkan tahun ini menjadi kesaksian bahwa Kristus telah menaungi kita. Ketika Paulus berkata, ‘Sebab jika aku lemah, maka aku kuat,’ ia melihat pergumulan bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai platform peluncuran bagi kuasa Kristus.

Saat kita bersiap menyambut tahun yang baru, mungkin sudah ada bayangan tantangan baru yang menanti. Tetapi kita tidak perlu takut, sebab kita memiliki jaminan Filipi 4:13. Kekuatan Kristus adalah sumber daya yang tak terbatas. Pergumulan tahun ini telah melatih kita untuk mengenali sumber kekuatan kita yang sejati. Mari kita jadikan akhir tahun ini bukan hanya sebagai penutupan bab, tetapi sebagai pengakuan iman yang teguh: apa pun yang menanti di depan, kuasa Kristus sudah cukup bagi kita.

Saudara-saudara terkasih, mari kita singkirkan beban malu atas kegagalan tahun ini. Jangan biarkan statistik atau daftar kerugian mendefinisikan iman kita. Kita mungkin lemah, tetapi Injil mengajarkan kita bahwa itu adalah kabar baik, sebab semakin kita menyadari kelemahan kita, semakin besar ruang bagi Kasih Karunia Kristus untuk bertahta dan bekerja melalui kita. Mari kita memasuki tahun yang baru dengan keberanian yang lahir dari pengakuan ini: kelemahan kita adalah kesaksian atas kekuatan Kristus yang sempurna.

Pergumulan adalah panggung bagi kuasa Kristus. Kasih karunia-Nya cukup. Janganlah kita takut pada tahun yang akan datang, sebab kekuatan kita tidak terletak pada resolusi diri, tetapi pada Kristus yang telah dan akan terus menyempurnakan kuasa-Nya dalam keterbatasan kita.

DOA PENUTUP:
Ya Tuhan, Bapa yang penuh kasih, kami bersyukur atas anugerah-Mu yang telah menopang kami hingga di penghujung tahun ini. Kami mengakui kelelahan dan kelemahan kami, kegagalan dan pergumulan yang memberatkan hati kami. Kiranya di dalam kelemahan kami itu, kuasa Kristus menjadi sempurna. Penuhi kami dengan Roh Kudus-Mu, sehingga saat kami melangkah memasuki tahun yang baru, kami berjalan bukan dengan kekuatan kami sendiri, melainkan dengan iman yang teguh bahwa Kasih Karunia-Mu sungguh-sungguh cukup bagi kami. Dalam nama Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Related posts