Kekristenan Yang Mati

  • Whatsapp

Ayat Bacaan : Wahyu 3:1-6

Kerangka Khotbah:

Kota Sardis terkenal karena kekayaannya, penduduk kota Sardis hidup dengan kemakmuran oleh karena kekayaan alam berua emas. Tidak terkecuali jemaat Kristen yang ada di Sardes, mereka sama dengan penduduk lainnya yang merasakan kemakmuran kota Sardis. Sehingga jemaat di Sardis tidak seperti jemaat di daerah lainnya yang saat itu menghadapi berbagai tekanan, penganiayaan dan juga ajaran sesat. Walaupun orang Kristen di Sardis hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda kepercayaan, orang Kristen sangat di hargai di kota itu.
Namun, dibalik kenyamanan mereka sebagai orang Kristen tidak dipakai untuk pertumbuhan iman. Disinilah teguran keras disampaikan oleh Tuhan. Bahwa Tuhan melihat semua kehidupan gerejaNya, dibalik kenyamanan mereka Tuhan tidak melihat pekerjaan yang sempurna diadapanNya. Walaupun mereka hidup sebagai seorang Kristen, namun mereka mati secara rohani. Inilah yang menjadi peringatan Tuhan kepada jemaat Sardis supaya mereka bertobat dan kembali sebagaimana ketika mereka menerima Injil kebenaran Tuhan.

I.  Aku tahu segala jalanmu. Tuhan Yesus adalah Raja Gereja, yang mempersatukan setiap orang yang percaya di dalam satu persekutuan yang kudus. Yesus adalah pemilik gereja, yangtetap bekerja melalui RohNya ditengah-tengah jemaatNya. Oleh karena itu, tidak ada yang tersembunyi pengetahuan Tuhan, semuanya yang terjadi di jemaat Tuhan mengetahui.

II. Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati. Dalam Perjanjian Baru, istilah “Mati” dapat juga menggambarkan kehidupan orang yang hidup di dalam dosa (Luas 15: 24; Roma 6: 13; Efesus 2: 1, 5). Bisa saja dari fisik seseorang itu hidup, namun dari iman dia adalah mati. Hal ini menggambarkan sikap seseorang yang menjalankan rutinitas kekristenan, namun sikap dan perbuatannya bertentangan dengan firman Tuhan.

III. Bangunlah, dan bertobatlah. Kita patut bersyukur karena kasih setia Tuhan yag besar yang mengingatkan dan memberikan kesempatan bagi kita untuk bertobat. Dan kita diingatkan melalui nas ini supaya sepanjang hidup ita tetap berjaga-jaga, sehingga kita tidak terlena oleh kenikmatan dunia yang membuat iman kita mati. Jangan sampai kita tidak menyadari, kita merasa orang Kristen yang diselamatkan padahal di hadapan Tuhan kita adalah orang yang sudah mati.

IV. Yang menang yaitu yang tidak mencemarkan pakaiannya. Sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Yesus Kristus, selayaknya kita mengucap syukur dan menghargai kesematan yang telah diberikanNya pada kita. Rasa syukur kita selayaknya tidak lagi menampilkan iman yang ‘suam-suam kuku’. Jika Tuhan sudah menyucikan kita, maka jangan lagi kita mengotorinya, namun kita harus menjaganya tetap suci hingga waktunya Tuhan datang menjemput kita.

Dalam nas ini diberitakan bagaimana Tuhan sangat berbesar hati menerima orang-orang yang selalu setia menjaga kemurnian imannya. Hal ini diperlihatkan bagaimana Tuhan akan mengenakan baginya pakaian putih, tidak menghapus namanya dari kitab kehidupan dan mengakui namanya dihadapan para malaikat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 comments