Harga Sebuah Integritas

  • Whatsapp

AYAT UTAMA:
Amsal 11:3: “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.”

Shalom saudara yang dikasihi Tuhan. Kita hidup di tengah budaya yang sangat menghargai performa dan citra. Seberapa baik kita terlihat di media sosial, seberapa sukses karier kita di mata publik, dan seberapa mampu kita menunjukkan kemakmuran, seringkali menjadi tolok ukur utama. Namun, bagi Tuhan, standar pengukuran-Nya jauh lebih dalam: Ia menilai karakter, dan pondasi dari karakter yang benar adalah integritas. Integritas (keutuhan) adalah kondisi di mana tidak ada perpecahan antara apa yang kita katakan, apa yang kita yakini, dan apa yang kita lakukan. Itu adalah kesatuan diri seutuhnya.

Read More

Dalam dunia yang sarat dengan kepalsuan, di mana sering kali ada jarak lebar antara janji dan kenyataan, antara wajah publik dan wajah privat, panggilan untuk hidup dalam integritas terasa semakin mendesak. Kita melihat tokoh-tokoh besar jatuh karena celah kecil dalam karakter mereka. Ayat hari ini mengingatkan kita bahwa integritas bukanlah sekadar sifat yang bagus untuk dimiliki, tetapi ia adalah pemandu hidup kita menuju keselamatan dan kehormatan. Sebaliknya, ketiadaan integritas adalah penyebab utama kehancuran. Mari kita pelajari tiga dimensi penting dari harga sebuah integritas.

1. Integritas Adalah Kesatuan Diri: Hidup Tanpa Topeng (Ref: Mazmur 15:1-2: “Ya TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya.”)
Dimensi pertama dari integritas adalah keutuhan batiniah. Ini berarti kita adalah orang yang sama di kantor, di gereja, di rumah, maupun saat kita sendirian di depan layar komputer. Mazmur 15 menjelaskan kualifikasi untuk mendekat kepada hadirat Tuhan: hidup ‘tidak bercela,’ yang secara harfiah berarti ‘tidak ada cacat,’ atau utuh. Kerohanian yang bercela adalah kerohanian yang terpecah—di luar terlihat suci, tetapi di dalam hati penuh kompromi dan hipokrisi. Tuhan tidak mencari kesempurnaan performa, tetapi mencari keutuhan hati.

Memiliki integritas berarti berkomitmen pada kebenaran bahkan ketika kebenaran itu merugikan kita secara finansial atau sosial. Kita harus jujur tentang perjuangan kita dan tidak membangun citra palsu. Kehidupan Kristen sejati harus meniru Kristus, yang adalah Kebenaran itu sendiri. Mari kita buang topeng-topeng yang kita kenakan di hadapan manusia, dan biarkan hidup kita menjadi persembahan yang murni di hadapan Allah. Jangan biarkan ada jurang antara iman yang kita proklamasikan di mimbar dan etika yang kita praktikkan di pasar.

2. Integritas Menghasilkan Bimbingan dan Rasa Aman (Ref: Amsal 10:9: “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.”)
Ayat kunci kita (Amsal 11:3) mengatakan, ‘Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya.’ Ini adalah janji yang luar biasa. Integritas bukanlah beban, melainkan kompas dan pelindung. Ketika hati kita lurus di hadapan Tuhan, keputusan kita menjadi jelas. Kita tidak perlu menghabiskan energi untuk menutupi jejak atau mengingat kebohongan apa yang telah kita katakan. Kehidupan yang lurus secara moral memberikan ketenangan batiniah yang sejati, karena kita berjalan dalam terang.

Selain bimbingan internal, integritas membangun kepercayaan eksternal. Di dalam keluarga, integritas orang tua membangun rasa aman pada anak-anak. Di tempat kerja, pemimpin yang berintegritas menghasilkan kesetiaan tim. Dan yang terpenting, di hadapan Tuhan, integritas membuka pintu bagi kemurahan dan dukungan ilahi. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan orang yang berjalan dalam ketulusan (Mazmur 84:12). Rasa aman kita tidak terletak pada kekayaan atau kedudukan, melainkan pada keutuhan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.

3. Integritas Diuji dalam Penderitaan dan Kesunyian (Ref: Ayub 2:3: “Lalu firman TUHAN kepada Iblis: ‘Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tidak ada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap berpegang pada integritasnya, sekalipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.’”)
Ujian terbesar integritas terjadi bukan ketika kita berada di tengah sorotan, tetapi saat kita berada di tengah badai penderitaan, atau saat tidak ada mata manusia yang melihat. Kisah Ayub adalah monumen bagi integritas. Meskipun kehilangan segala sesuatu—harta, anak, kesehatan—Ayub menolak untuk mencela Tuhan. Integritasnya terbukti otentik karena ia tidak bersandar pada berkat Tuhan, tetapi pada karakter Tuhan.

Bagi kita, ujian kesunyian muncul setiap kali kita dihadapkan pada godaan untuk mengambil jalan pintas, untuk berbuat curang dalam laporan, atau untuk memfitnah orang lain secara rahasia. Ingatlah Yusuf di rumah Potifar; ia memilih kehormatan (integritas) di atas kenikmatan sesaat, karena ia berkata, ‘Bagaimana mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berdosa terhadap Allah?’ (Kej. 39:9). Integritas bukanlah apa yang kita lakukan sekali, melainkan keputusan yang kita buat setiap hari, berulang kali, untuk memilih jalan Kristus, terlepas dari konsekuensi atau pengamatan manusia.

Saudara-saudara, integritas memiliki harga yang mahal; harganya adalah penolakan terhadap kompromi dunia, penundukan ego, dan penyerahan total kepada standar Kristus. Namun, harga yang dibayar untuk ketiadaan integritas jauh lebih mahal—kehilangan kedamaian, kehancuran reputasi, dan yang paling parah, rusaknya hubungan dengan Tuhan. Hari ini, mari kita periksa hati kita. Adakah bagian dalam hidup kita yang terpisah dari kebenaran? Adakah keretakan antara apa yang kita yakini di Minggu pagi dan bagaimana kita hidup di Senin sore? Tuhan memanggil kita untuk kembali kepada keutuhan sejati.

Integritas adalah mahkota karakter seorang percaya. Itu adalah kesaksian hidup yang paling kuat. Marilah kita terus berjalan lurus, dipandu oleh ketulusan kita, sehingga kita dapat menjadi umat yang jujur dan utuh, mencerminkan Kristus, Sumber Keutuhan itu sendiri.

DOA PENUTUP:
Tuhan Yesus, kami bersyukur atas Firman-Mu yang menantang dan memimpin kami. Ampunilah kami jika kami sering membiarkan hidup kami terbagi, mengenakan topeng di hadapan sesama. Kami berdoa, berikanlah kami anugerah dan kekuatan Roh Kudus untuk menjadi orang yang sama, baik dalam terang maupun dalam gelap, dalam kelimpahan maupun dalam penderitaan. Biarlah integritas menjadi pemandu hidup kami, agar kami berjalan aman dan berkenan di hadapan-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Related posts