Hamba Kristus Yang Melayani

  • Whatsapp

AYAT UTAMA:
Markus 10:45: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Shalom saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Ketika kita mendengar kata ‘pelayanan,’ sering kali pikiran kita tertuju pada tugas-tugas gerejawi yang terstruktur, seperti mimbar, musik, atau komite. Namun, pelayanan sejati dalam kekristenan jauh melampaui daftar tugas; pelayanan adalah identitas. Ia adalah cetak biru kehidupan yang ditinggalkan oleh Sang Guru Agung, Yesus Kristus, sebagaimana yang ditegaskan-Nya dalam ayat kunci kita. Pelayanan adalah penolakan terhadap status quo dunia yang menuntut kekuasaan dan pengakuan, dan sebuah penerimaan terhadap panggilan untuk menjadi seorang Hamba.

Read More

Injil menunjukkan kepada kita sebuah paradoks ilahi: untuk menjadi besar, kita harus menjadi pelayan; untuk memimpin, kita harus berlutut. Dalam masyarakat yang berorientasi pada ‘apa yang bisa saya dapatkan,’ Kristus mengundang kita untuk bertanya, ‘apa yang bisa saya berikan.’ Renungan kita minggu ini akan membawa kita kembali ke akar alkitabiah dari pelayanan, memanggil kita untuk memeriksa hati dan tangan kita: apakah kita sungguh-sungguh melayani, ataukah kita secara tidak sadar sedang mencari pelayanan dari orang lain? Mari kita gali tiga pilar penting yang mendefinisikan pelayanan Kristen yang sejati.

1. Pilar Pertama: Dasar Pelayanan Adalah Kerendahan Hati (Ref: Filipi 2:5-7)
Pelayanan Kristen tidak dimulai dari kapasitas atau keahlian kita, melainkan dari posisi hati kita. Rasul Paulus dengan jelas memerintahkan kita untuk memiliki pikiran dan perasaan yang sama yang dimiliki oleh Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Ini adalah konsep *kenosis*, pengosongan diri ilahi.

Kerendahan hati adalah mata uang Kerajaan Allah dalam pelayanan. Pelayanan yang didorong oleh ego, keinginan untuk dilihat, atau validasi manusia, tidak akan bertahan. Pelayanan sejati mencontoh Kristus yang mencuci kaki murid-murid-Nya—tindakan yang secara budaya dilakukan oleh budak rendahan. Pelayanan yang kuat haruslah pelayanan yang ‘tersembunyi’ dari kesombongan, di mana kita bersedia mengambil posisi terendah agar anugerah Allah yang ditinggikan, bukan nama kita.

2. Pilar Kedua: Wadah Pelayanan Adalah Karunia Roh (Ref: 1 Petrus 4:10)
Firman Tuhan menantang kita: ‘Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari anugerah Allah.’ Setiap orang percaya telah dianugerahi setidaknya satu karunia rohani, bukan untuk kepuasan pribadi, melainkan untuk pembangunan Tubuh Kristus. Karunia ini adalah wadah atau instrumen yang Allah berikan kepada kita untuk mewujudkan pelayanan yang efektif dan terfokus.

Seringkali, kita merasa tidak mampu melayani karena kita membandingkan karunia kita dengan karunia orang lain. Padahal, pelayanan yang efektif adalah tentang kesetiaan dalam mengelola apa yang sudah kita miliki, sekecil apa pun itu. Apakah itu karunia mengajar, memberi, menolong, atau berbelas kasihan, semuanya adalah manifestasi anugerah Allah. Pertanyaan bagi kita bukan ‘Apakah saya punya karunia?’, tetapi ‘Apakah saya menggunakan karunia yang sudah saya terima untuk melayani sesama dengan penuh tanggung jawab?’

3. Pilar Ketiga: Orientasi Pelayanan Adalah Kemuliaan Kristus (Ref: Kolose 3:23-24)
Mengapa kita melayani? Jawaban utama haruslah: demi kemuliaan Allah. Rasul Paulus mengingatkan jemaat Kolose bahwa apa pun yang kita lakukan, kita harus melakukannya dengan segenap hati, seolah-olah untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Jika kita melayani demi tepuk tangan manusia, kita telah menerima upah kita di dunia ini; jika kita melayani demi Kristus, upah kita adalah warisan abadi dari Tuhan.

Orientasi ini mengubah kualitas pekerjaan kita. Ketika kita melihat setiap tugas, baik yang besar maupun yang kecil, sebagai persembahan kepada Tuhan, sikap kita terhadap kesulitan dan orang yang sulit pun akan berubah. Kelelahan dalam pelayanan biasanya datang ketika kita fokus pada ekspektasi manusia. Namun, ketika fokus kita tertuju pada Kristus, pelayanan menjadi ibadah yang berkelanjutan, sebuah respon kasih yang mendalam atas penebusan-Nya.

Saudara-saudara, pelayanan bukanlah sebuah pilihan bagi orang Kristen; ia adalah sebuah keharusan, sebuah penanda identitas. Kristus tidak hanya memerintahkan kita untuk melayani; Ia mendahului kita dengan sempurna. Ia adalah standar pelayanan. Marilah kita tinggalkan mentalitas yang ingin dilayani, dan dengan kerendahan hati mengambil handuk hamba, menggunakan setiap karunia yang telah Allah berikan, dan memastikan bahwa satu-satunya tujuan kita melayani adalah untuk memuliakan Nama-Nya yang Agung.

Pelayanan sejati adalah refleksi hidup Kristus di dalam diri kita. Dimulai dari hati yang rendah (seperti Kristus), diwujudkan melalui karunia yang diberikan (oleh Roh Kudus), dan diarahkan sepenuhnya kepada kemuliaan Bapa. Jadilah hamba yang setia hari ini.

DOA PENUTUP:
Ya Bapa di Surga, kami bersyukur Engkau telah memanggil kami, bukan hanya untuk menjadi anak, tetapi juga hamba. Ampuni kami jika seringkali pelayanan kami tercemari oleh motif-motif yang mementingkan diri sendiri. Ubahlah hati kami, ya Tuhan, agar kami memiliki kerendahan hati Yesus Kristus. Kuatkanlah kami melalui Roh Kudus untuk menggunakan setiap karunia yang ada pada kami dengan bijaksana dan setia. Biarlah seluruh hidup kami, dalam perkataan dan perbuatan, menjadi pelayanan yang hidup yang hanya memuliakan nama-Mu saja. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Related posts