Allah Turut Bekerja Melampaui Pikiran

Ayat Bacaan: Ester pasal 5 ayat 1 sampai 8

Renungan :

Kitab Ester memiliki keunikan diantara kitab dalam Alkitab, bahwa dalam kitab Ester kita tidak menjumpai satu katapun yang menyebutkan tentang Tuhan. Tentu hal ini menjadi suatu kejanggalan ketika suatu kitab yang tidak menyinggung nama Tuhan menjadi bahagian dari Alkitab. Namun, jika kita mengikuti apa yang tertulis dalam kitab ini, maka kita akan merasa takjub bahwa dibalik dari setiap kejadian ada kejanggalan yang bersifat “kebetulan”yang mewarnai kisah Ester. Bahwa ternyata Tuhan tetap turut campur tangan memakai Ester untuk menyatakan janji setia Tuhan kepada umatNya Israel. 

Melalui Ester, Allah bekerja menyelamatkan umat Israel terlepas dari hari pembantaian yang sudah ditentukan, Allah bekerja membalikkan semua keadaan seperti tertulis di Roma pasal 8 ayat 28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Dalam kitab ini juga kita akan menemukan bahwa tidak hanya nama Tuhan yang tidak ada tetapi kisah Ester diwarnai dengan pesta pora, mabuk-mabukan, pembunuhan, kemarahan. Dari sini kita belajar suatu hal yang besar tentang kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Saat ini juga banyak orang yang tidak lagi mempercayai adanya Tuhan, seperti kitab Ester yang tanpa nama Tuhan ada orang yang tidak mempercayai bahwa Tuhan itu ada, justru yang ada adalah berbagai bentuk kemerosotan moral dan ketika banyak orang yang terjebak oleh kenikmatan dunia yang sesaat. Dengan pertanyaan yang sinis ada yang bertanya “jika Tuhan itu ada, dimana Tuhan ketika peperangan, pembunuhan sadis itu terjadi?” Seperti pertanyaan orang Saduki yang tidak percaya tentang kebangkitan bertanya kepada Tuhan Yesus “Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.” – Markus pasal 12 ayat 18 sampai 27.

Melalui kitab Ester ini, kita mau belajar, bahwa sekalipun kita tidak melihat tetapi kita percaya bahwa Tuhan itu ada dan bekerja dalam kehidupan kita. Walaupun kenyataan yang terjadi dalam kehidupan kita ini sulit untuk diterima oleh hati dan pikiran kita, namun kita diajak untuk tetap berpengharapan bahwa Tuhan ada dan bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita, sebab Allah yang kita imani adalah Allah yang melampaui segala akal dan pikiran manusia – Filipi pasal 4 ayat 7. Dalam perjalanan kehidupan ini, kita percaya bahwa tidak ada yang kebetulan, tetapi kita percaya bahwa Tuhan merancangkan dengan begitu detailnya perjalanan kehidupan kita.

Dalam nas kita saat ini, salah satu yang kebetulan dari banyaknya kebetulan dalam kitab ini bahwa Raja Ahasyweros berkenan menerima Ester untuk menjumpainya. Sebab sesuai dengan undang-undang yang berlaku yaitu setiap laki-laki atau perempuan yang menghadap raja dipelataran tanpa dipanggil, maka undang-undangnya hanya satu, yaitu hukuman mati. Sekalipun Ester adalah ratu dalam istana itu, namun dia juga tidak boleh menghadap raja tanpa undangan. Ternyata raja berkenan kepada Ester dan menanyakan maksud keinginannya, bahkan raja menunjukkan keseriusannya menerima permohonan Ester sampai setengah kerajaan akan diberikan kepadanya.

Ester mengundang raja dan juga Haman yang adalah tangan kanan raja yang berniat untuk membinasakan orang Yahudi itu ke perjamuan yang disediakannya bagi raja. Singkat cerita, Ester mengundang raja ke perjamuan berikutnya dan menyampaikan keluh kesahnya bahwa bangsanya Yahudi akan segera punah dan dibinasakan oleh niat jahat seorang tangan kanan raja yaitu Haman. Dan akhirnya Haman di hukum mati. Sebelum semuanya ini terjadi, ada suatu tekat yang begitu kuat dari Ester yang berkata “sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati” – Ester Pasal 4 ayat 16.

Pelajaran yang berharga yang semakin menguatkan ketaatan kita kepada Tuhan dalam hidup ini:     
1. Kita mau belajar dari Ester, bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak dapat dibatasi oleh apapun yang ada dalam dunia ini, namun sebaliknya kita yang harus membalikkan keadaan dengan memakai apapun yang ada dalam dunia ini untuk taat kepada Tuhan. Ketaatan kita pada Tuhan sebagaimana firmanNya kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap jiwamu, akal dan budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Artinya ketaatan kita kepada Tuhan itu tidak terbatas, disemua segi kehidupan kita haruslah menjadi jalan untuk menaati dan memuliakan Tuhan.   
2. Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang melampaui akal dan pikiran manusia. Jangan sampai kita menolak Tuhan oleh karena pertimpangan hati dan pikiran kita, itulah sebabnya dikatakan “sebab bagi Allah tiada yang mustahil”. Walaupun terkadang doa kita berbeda dengan kenyataan yang kita terima, itu bukanlah alasan bagi kita untuk kecewa kepada Tuhan atau kita akhirnya menolak Tuhan. Tetapi tetaplah kita taat kepada Tuhan dengan mengimani bahwa Tuhan merancangkan yang terbaik dalam kehidupan kita.

Related posts