AYAT UTAMA:
Kolose 3:18-19: “Hai isteri, tunduklah kepada suamumu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.”
Shalom saudara, teristimewa bagi Anda, pasangan suami istri yang dikasihi Tuhan. Saat kita berdiri di ambang penutupan tahun, ini adalah momen yang diwarnai oleh keheningan historis. Sama seperti Israel kuno melakukan perhitungan tahunan (Hesbon) atas ketaatan mereka terhadap Taurat, kita sebagai pasangan dipanggil untuk melakukan perhitungan atas ketaatan kita terhadap perjanjian suci pernikahan yang telah kita ikrarkan di hadapan Allah.
Sejak awal sejarah umat manusia, Alkitab secara konsisten menegaskan bahwa kualitas hubungan selalu berakar pada ketaatan. Janji Abraham, kemakmuran Salomo, bahkan keberadaan Gereja, semuanya adalah buah dari ketaatan—baik yang dilakukan maupun yang gagal dipenuhi. Dalam konteks pernikahan, ketaatan sering kali disalahartikan sebagai kepatuhan yang pasif, padahal dalam pandangan historis Alkitab, ketaatan adalah respons aktif yang bersemangat terhadap cinta dan otoritas ilahi yang menaungi ikatan suami istri.
Akhir tahun ini menjadi waktu yang tepat untuk kita merenungkan: Apakah ketaatan kita tahun ini lebih mirip dengan tindakan Saul, atau tindakan Daud? Kita ingat kisah Raja Saul yang, ketika diperintahkan untuk membinasakan seluruh Amalek, memilih untuk menyelamatkan ternak terbaik dengan dalih akan mempersembahkannya sebagai korban (1 Sam. 15:22). Ia mengira pengorbanan yang besar dan terlihat akan menutupi kegagalan ketaatan kecilnya. Dalam pernikahan, betapa sering kita sebagai suami atau istri melakukan ‘pengorbanan besar’—memberikan hadiah mahal, bekerja berlebihan untuk kemewahan—sementara kita gagal dalam ketaatan harian yang sederhana: mendengarkan tanpa interupsi, menggunakan nada suara yang lembut, atau meluangkan waktu intim yang konsisten.
Ketaatan dalam pernikahan bukanlah tentang mengikuti peraturan kaku yang ditetapkan oleh manusia, tetapi tentang berpegang pada cetak biru historis yang diberikan Allah. Bagi suami, ketaatan berarti setia mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi jemaat—sebuah kasih yang radikal, merendahkan diri, dan menguduskan. Bagi istri, ketaatan berarti menghormati dan menundukkan diri kepada kepemimpinan suaminya dalam Tuhan, bukan karena kelemahan, tetapi sebagai respons aktif terhadap perlindungan dan kasih yang diberikan.
Ketika ketaatan ini luntur, komunikasi menjadi kering, dan keintiman menghilang. Sebuah pasangan tidak dapat mengalami keintiman sejati – baik emosional maupun fisik – jika ada ketidaktaatan yang tersembunyi. Ketidaktaatan sering menjelma sebagai kerahasiaan finansial, keengganan untuk berbagi beban emosional, atau kekerasan lisan. Sejarah mencatat bahwa setiap perjanjian yang dilanggar akan membawa konsekuensi, dan dalam pernikahan, konsekuensi itu adalah isolasi.
Oleh karena itu, di hari-hari terakhir tahun ini, kita didorong untuk melakukan ‘perjanjian baru’ dalam pernikahan kita, bukan perjanjian baru yang kita ciptakan, tetapi sebuah pembaharuan ketaatan pada perjanjian yang sudah ada. Ketaatan suami untuk tidak berlaku kasar (Kolose 3:19) harus diuji di setiap percakapan sulit. Ketaatan istri untuk tunduk dan menghormati harus diuji di setiap perbedaan pendapat. Inilah esensi dari ketaatan alkitabiah: ia diwujudkan dalam detail-detail sehari-hari, bukan hanya dalam peristiwa-peristiwa besar.
Marilah kita tutup tahun ini dengan mengakui bahwa ketaatan adalah bentuk tertinggi dari ibadah dalam pernikahan. Saat kita berdua berkomitmen untuk taat kepada peran yang ditetapkan Tuhan, kita tidak hanya memperkuat hubungan kita, tetapi kita juga menjadi kesaksian historis yang hidup di dunia ini tentang kasih setia Kristus kepada Gereja-Nya. Keintiman sejati, damai, dan sukacita dalam pernikahan hanya akan ditemukan di jalan ketaatan yang konsisten.
PESAN & AMANAT:
Lakukan rekonsiliasi bersama atas setiap area di mana komitmen ketaatan (janji nikah atau peran alkitabiah) telah dilanggar sepanjang tahun ini.,Bagi suami: Taatilah mandat kasih dengan secara proaktif mencari tahu kebutuhan emosional dan spiritual istri Anda minggu ini.,Bagi istri: Taatilah mandat hormat dengan secara verbal meneguhkan kepemimpinan suami Anda dalam doa dan keputusan penting.,Jadikan komunikasi sebagai prioritas ketaatan harian; hindari ‘pengorbanan besar’ yang menutupi kegagalan komunikasi intim yang kecil.,Bersama-sama, tinjau kembali janji pernikahan Anda sebagai ‘Ketubah’ (dokumen perjanjian) yang harus ditaati tahun depan.
Ketaatan bukanlah beban, melainkan jalan menuju kebebasan dan keintiman. Saat kita menutup tahun, biarlah ketaatan kita kepada Firman Tuhan menjadi batu penjuru yang kokoh di mana kita membangun tahun baru. Hanya melalui ketaatan yang setia terhadap perjanjianlah kita dapat mengalami kepenuhan kasih yang dijanjikan Allah dalam pernikahan kita.
DOA PENUTUP:
Ya Bapa Surgawi, terima kasih atas anugerah perjanjian pernikahan yang Engkau tetapkan secara historis. Saat kami berdiri di akhir tahun ini, kami mengakui kegagalan kami dalam ketaatan dan kasih. Ampunilah kami. Berikanlah kami, sebagai pasangan, hati yang mau mendengar dan taat—suami taat mengasihi tanpa syarat, istri taat menghormati tanpa ragu. Biarlah Firman-Mu menjadi pelita dalam komunikasi kami dan fondasi bagi keintiman kami. Kami serahkan tahun yang akan datang ke dalam ketaatan penuh kepada kehendak-Mu. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin.






