3 Prinsip Pelayan Kristus

  • Whatsapp

Ayat Bacaan: Matius 4: 23-25

Setelah menetapkan 12 rasul, di perikop ini, sebelum 12 rasul itu melayani, Tuhan memberikan prinsip pelayanan. Ada 3 (tiga) hal yang akan kita pelajari dalam prinsip pelayanan ini:

Read More

1.Pertama, sifat pelayanan Tuhan Yesus adalah teologi yang berinkarnasi, ada belas kasihan. Yesus berkeliling, tidak pasif, Ia mendatangi manusia. Yosefus berkata bahwa di sekitar Galilea ada sekitar dua ratus desa. Tuhan Yesus berkeliling di desa-desa itu. Di situ Ia mengajar di rumah ibadat, memberitakan Injil Kerajaan Allah, dan melenyapkan berbagai penyakit.

Teologi inkarnasi adalah teologi yang berinisiatif. Jika kita melihat pelayanan dokter, itu mulia, tapi yang sakit datang. Namun dalam teologi inkarnasi, kitalah yang mendatangi orang sakit! Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan mencari Adam. Siapa butuh siapa? Bukankah seharusnya manusia berdosa yang membutuhkan Tuhan? Ketika Allah mencari Adam, dia bukan menyambut Allah, tetapi bersembunyi! Lalu ketika Adam ditanya mengapa dia makan buah di tengah-tengah taman ini? Adam menjawab, perempuan yang Kau tempatkan memberikannya kepadaku.

Adam menyalahkan Tuhan! Luther berkata dosa Adam yang pertama-tama bukan ketidaktaatan, tetapi menyalahkan Tuhan! Adam salahkan Hawa, Hawa salahkan ular yang Kau izinkan masuk taman ini. Dia menyalahkan Tuhan lagi. Jadi kita melihat dalam teologi inkarnasi sudah datang malah disalahkan lagi!

Tuhan Yesus datang, dicaci maki, disalibkan, bahkan sampai mati di atas kayu salib. Bahkan keluarganya sendiri berpikir bahwa Ia gila. Maka pastilah butuh pengorbanan luar biasa.

Tetapi mengapa Tuhan Yesus tetap mau datang ke dalam dunia? Pengorbanan itu didasarkan kepada cinta kasih. Jadi belas kasihan harus mendasari pelayanan kita. Kita melihat perumpamaan tentang anak yang hilang. Anak bungsu sudah kembali, lalu yang hilang adalah yang sulung. Ketika ayah menyambut anak yang bungsu, kita melihat anak yang sulung menolak untuk menerima kembali anugerah. Tapi masalah dia bukan hanya di situ, ketika anak bungsu itu hilang, anak yang sulung itu seharusnya mencari adiknya. Tetapi dia tidak melakukan itu. Ketika Tuhan Yesus dengan orang Farisi, masalah makan minum dengan orang berdosa, pemungut cukai, dan pelacur. Mereka yang seharusnya mencari orang-orang yang berdosa ini, tapi mereka tidak melakukannya, malah menggerutu. Dalam Efesus 2:1, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu”. Kita melihat dua macam dosa; pertama adalah pelanggaran-pelanggaran, dalam bahasa aslinya paraptóma artinya transgressions.

Kita melakukan mencuri, membunuh, berbohong, dan berzinah. Tetapi dosa kedua, dosa-dosa, aslinya hamartia, artinya miss the target. Kita tidak mencapai sasaran yang telah ditetapkan, maka ini adalah dosa. Tuhan telah menetapkan kebaikan sebagai target, lalu kita tidak mencapai target kebaikan itu, maka kita telah berdosa. Jadi dosa bukan hanya melakukan kejahatan saja, tetapi tidak mencapai kebaikan yang telah Tuhan tetapkan.

Bisa dengan cara berbuat jahat, tetapi juga dengan tidak berbuat baik yang telah ditargetkan. Jadi ketika kita tidak menginjili, itu adalah dosa. Ketika tidak melayani Tuhan, itu dosa. Ketika tahu ada perbuatan jahat, kita diam, maka kita telah berdosa. Ketika kita melihat saudara kita tidur di pinggir jurang, kita tidak bangunkan dia, lalu dia jatuh dan mati, maka kita berdosa. Setelah Kain membunuh adiknya, Habel, Tuhan tanya kepada Kain, “Dimanakah adikmu?” Dia jawab, “Aku tidak tahu”, ini dosa yang pertama. Lalu dia mengatakan, “Akukah penjaga adikku?” Ini dosa yang kedua.

Kalau anak kita berbuat jahat, kita tidak menegur, itu dosa. Ketika kita tidak punya belas kasihan, kita sudah berdosa. Kita ingat pertobatan Saulus, ketika Tuhan Yesus datang kepada Ananias dan berkata pergilah doakan yang namanya Saulus, sekarang dalam keadaan buta. Lalu Ananias berkata Tuhan tidak tahukah Engkau dia begitu jahat kepada jemaat Tuhan? Ketika tidak ada belas kasihan itu dosa!

Ketika Saulus kurang bisa diterima oleh rasul-rasul yang lain. Jika ini pertobatan yang sejati, maka boleh saja. Tetapi ada hal kedua, mengapa mereka tidak begitu menerima Paulus? Karena orang ini sudah berdosa, menganiaya orang Kristen, ketika Stefanus dirajam, dia adalah saksi yang pertama. Kita sudah berdosa, jika tidak punya belas kasihan. Ada seorang hamba yang berhutang kepada raja sepuluh ribu talenta, ini begitu banyak, kira-kira 20 tahun yang lalu, jumlahnya 45 milyar rupiah. Hamba ini tidak bisa bayar, dan raja kasihan maka dihapus semua hutangnya.

Lalu setelah itu hamba itu keluar, ada hamba lain yang hutang kepada dia hanya 100 dinar, 20 tahun yang lalu, jumlahnya hanya 75 ribu rupiah. Seharusnya dia begitu mudah menghapus hutang hamba  itu. Tetapi dia malah mencekik hamba ini, lalu menjebloskan hamba ini ke dalam penjara. Maka  terdengar oleh raja, maka raja memanggil hamba itu dan dia mengatakan dalam Matius 18:33, “Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?”

Jikalau kita adalah orang Kristen yang sudah ditebus oleh Tuhan, maka kita juga harus mengampuni sesama kita. Lalu raja memanggil hamba itu dan menjebloskan dia ke dalam penjara. Ini bukan berarti keselamatan itu bisa hilang. Tetapi arti dari cerita ini adalah hamba ini sebetulnya belum pernah ditebus, hutangnya yang begitu besar belum pernah diampuni.

Jikalau hutangnya dihapus oleh Tuhan, maka dia seharusnya mempunyai hati untuk berbelas kasihan. jika kita melihat sepuluh Hukum Taurat, jangan membunuh, jangan berzinah, dan seterusnya. Ini bukan etika anak! Tuhan Yesus berkata, hukum yang terutama dari semua kitab para nabi adalah kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Kunci kita menjawab sepuluh Hukum Taurat itu adalah kita harus mengasihi! Kita tidak cukup hanya dengan tidak berbuat jahat, tetapi kita harus mengasihi mereka. Ketika mereka berbuat jahat, kita harus menegur dan membawa mereka kepada jalan Tuhan. Inilah teologi inkarnasi. Teologi yang memiliki satu pengorbanan yang didasarkan oleh belas kasihan. Tuhan Yesus berkeliling untuk mengajar dan memberitakan Kerajaan Allah, serta melenyapkan penyakit.

2.Kedua, Tuhan Yesus ingin mengajarkan tentang metode pelayananNya yang mencakup tiga hal pengajaran, penginjilan dan penggembalaan. Ini adalah tiga pilar dari pelayanan Tuhan Yesus. John Calvin berkata bahwa gereja itu seperti ibu yang melahirkan anak. Gereja bukan hanya penginjilan dengan melahirkan anak. Tetapi gereja juga harus mendidik anak itu dengan pengajaran firman Tuhan. Tetapi bukan hanya itu, gereja juga harus menggembalakan. Dalam Efesus 4:11, “Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar”. Rasul dan nabi sudah selesai. Tetapi kita melihat di sini ada penginjil, penggembala dan ada pengajar, ini menjadi tugas gereja dan semua orang Kristen. Ketiga hal ini harus terkait. Dalam pelayanan penting bagi kita untuk mengenal Tuhan.

Dalam Markus 1:35-38, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata, semua orang mencari Engkau. JawabNya, marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang”. Kita melihat Tuhan Yesus begitu lelah, dari pagi sudah mengajar di rumah ibadat, lalu menyembuhkan orang sakit, Ia tidak sempat tidur siang, lalu sampai malam orang banyak antri untuk disembuhkan.

Maka sudah larut malam, Ia tidur dan bangun pagi-pagi benar, lalu pergi ke tempat yang sepi untuk berdoa! Doa adalah untuk menambah kekuatan untuk menjalani pelayanan. Tetapi ada lagi satu fungsi doa. Ketika Tuhan Yesus mengatakan amin, murid-murid sudah mencari Dia, karena banyaknya orang yang sakit, kerasukan setan, dan seterusnya. Tetapi Tuhan Yesus mengatakan, kita berhenti pelayanan di sini, kita pergi ke tempat lain. Tadi di Kapernaum, sekarang kita pergi ke desa-desa lain di Galilea.

Lalu ini bukan lagi penggembalaan, menyembuhkan orang sakit, dan lainnya, tetapi sekarang kita harus melakukan penginjilan di sana. Jadi doa itu bukan hanya memberikan kekuatan bagi kita, tetapi kita mencari kehendak Tuhan. Setelah selesai Ia berdoa, di situ dia tahu kehendak Tuhan. Ia harus tinggalkan daerah itu. Sampai sekarang pun orang sakit ada di antara kita, tidak mungkin habis. Tetapi masalahnya apakah itu kehendak Tuhan atau bukan kita melayani di sini atau di sana? Kepekaan itu didapatkan melalui doa, bukan hanya firman Tuhan.

Kita juga melihat di sini bahwa pelayanan itu bukan market oriented, artinya ada kebutuhan lalu kita isi. Tetapi kita harus sesekali membuat satu kebutuhan! Bagaikan anak yang sakit, dia tidak mau minum obat yang pahit, tetapi Tuhan tahu obat itu yang bisa menyembuhkan dia. Kehendak Tuhan itulah yang kita taati. Pak Tong berkata bahwa kita bukan hanya menjawab tantangan dunia, tapi kita harus menantang dunia.

Pelayanan harus sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan market oriented. Tapi sebaliknya pelayanan jika sesuai dengan kehendak Tuhan, bukannya kemauan kita saja, kita harus membedakan beban dan interest! Kita seringkali berkata saya punya beban di dalam pelayanan ini, tetapi kenyataannya itu  adalah sesuatu yang kita suka, yang sesuai dengan bidang kita, bukan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Jika itu kehendak Tuhan, maka itu pasti menjadi satu beban, artinya itu sesuatu yang kita tidak mau lakukan karena itu berat. Meski Tuhan Yesus berkata datanglah kepadaKu, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Sehingga jika kita begitu senang di dalam pengajaran, mungkin Tuhan pimpin kita di dalam penggembalaan. Jadi kita sudah kuat di satu hal, harus ada keseimbangan di hal yang lain. Hamba Tuhan di gereja ini harus ketiganya jalan, sekali pun ada yang menonjol di salah satu bidang.

3.Ketiga, fokus dari pelayanan Tuhan Yesus. Target pelayanan Tuhan Yesus adalah jiwa manusia. Ketika

Ia mengajar di Bait Allah, melenyapkan penyakit, juga memberitakan Injil Kerajaan Allah, Ia bersentuhan langsung dengan jiwa manusia. Di dalam gereja, kita bersyukur ada pelayanan admin, tapi juga harus mempunyai visi untuk melayani umat Tuhan.

Tyndall adalah orang yang pertama menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Inggris. Dia mengatakan bahwa khotbah dan mencuci piring adalah satu kesatuan. Dia mau mengatakan bahwa hamba Tuhan yang berkhotbah jangan lupa siapa yang menyiapkan makanan paginya, mencuci bajunya, menjaga anak-anaknya? Maka dia mengatakan itu adalah satu kesatuan.

Ketika kita melakukan pekerjaan admin, bukan hanya fokus kepada pekerjaan itu, tapi juga harus terlibat di dalam penginjilan, penggembalaan dan pengajaran. Kita harus ikut juga di dalam KKR Regional. Ini langsung bersentuhan langsung dengan jiwa. Kita mengajak orang datang ke seminar, kita membesuk orang sakit dan kita membantu orang berkekurangan. Di sini Tuhan Yesus mempunyai target pelayanan jiwa manusia.

Ada seorang bernama Sir Christopher Wren yang mendirikan Katedral St. Paul, di kota London. Satu hari dia menyamar dan mendatangi tukang-tukang batunya, lalu dia bertanya kepada mereka, apa yang sedang engkau lakukan? Tukang yang pertama menjawab, sedang mencari makan. Yang kedua menjawab saya sedang bersiap menjadi orang kaya baru, saya ingin mengadopsi teknik yang digunakan di sini, lalu saya ingin mendirikan yang sama.

Yang ketiga menjawab saya punya visi yang besar untuk membantu Christopher Wren membangun gedung yang megah untuk kemuliaan Tuhan, saya mengasah batu dengan hati-hati, untuk menghasilkan bangunan yang begitu tinggi melambangkan transenden Allah yang begitu agung, sehingga begitu orang masuk gereja ini mereka akan merasakan keagungan Tuhan. Dia punya visi sampai kepada kemuliaan Tuhan.

Apa yang Tuhan maksudkan dengan Injil Kerajaan Allah?

Pertama, Ia sedang memberitakan misiNya yang utama datang ke dalam dunia adalah untuk mati di kayu salib, menghancurkan kuasa setan.

Kedua,  melihat manusia secara holistik, bukan hanya spiritual tapi juga mencukupkan jasmani kita.

Ketiga, tidak berhenti di dalam diri kita, tetapi biarlah kemuliaan Tuhan dinampakkan melalui diri kita.

Tujuan kita diselamatkan bukan hanya untuk masuk surga, tetapi supaya kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui hidup kita. Kita sudah menjadikan Bangka sebagai pilot project, ini tidak mudah, hanya melayani 4000 jiwa, tidak bisa dibandingkan dengan Ambon yang jumlahnya, 65000 orang. Tetapi kita menjadikan Bangka ini tempat dimana kita bukan hanya melakukan penginjilan, hit and run. Tetapi kita akan terus melihat ada perkembangan di situ, ada seminar teologi, pendidikan, keluarga dan lainnya. Kita belajar sifat, metode dan target pelayanan dari Tuhan Yesus.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 comments

  1. sangat menjadi berkat rohani bagi kami di pesesaan,semoga lebih banyak literatur seperti ini setiap hari 🙏