3 Hal Tentang Kegelisahan

  • Whatsapp

Ayat Bacaan: Yohanes 14:1-3

Yohanes 14:1-3 – (1) ‘Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu.
(2) Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (3) Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akandatang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

Read More

Renungan/ Kerangka Khotbah:

Yesus Kristus Tuhan kita naik ke surga setelah 40 hari lamanya menampakkan diri-Nya dan membuktikan bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Di dalam ayat 1 Yesus berkata : “Janganlah gelisah hatimu”. William Hendriksen maupun Leon Morris mengatakan bahwa maksud dari kata-kata ini bukanlah ‘janganlah mulai menjadi gelisah’, tetapi ‘berhentilah gelisah’,atau ‘janganlah gelisah terus’. Itu berarti bahwa pada saat itu murid-murid sementara berada dalam kegelisahan. Mengapa murid-murid gelisah? Karena dalam pasal 13 Yesus berbicara tentang penderitaan yang akan dialami-Nya segera. Dan secara khusus dalam ayat 33, 36, Yesus berkata :

Yohanes 13:33,36 (33) Hai anak-anakKu, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula Aku mengatakannya sekarang juga kepada kamu. (36) Simon Petrus berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, ke manakah Engkau pergi?’ Jawab Yesus: ‘Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.”

Memangnya ke mana Yesus hendak pergi? Ada 2 kemungkinan. Pertama, Ia akan mati atau kedua, Ia akan pergi ke surga. Yang mana pun yang benar, tetap akan terjadi perpisahan antara Yesus dan murid-murid-Nya. Hal ini menyebabkan murid-murid menjadi gelisah. Ingat bahwa mereka masih tetap mempunyai pengertian Yahudi tentang Mesias, yaitu bahwa Mesias itu akan memimpin mereka untuk mengalahkan Romawi. Sekarang, dengan adanya kata-kata Yesus di atas, mereka sangat bingung dan kecewa. Mereka sudah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus, dan sekarang Yesus akan meninggalkan mereka. Ini membuat mereka gelisah. Hal ini juga sering terjadi dalam hidup kita sebagai pengikut-pengikut Tuhan. Kita memang sudah mengikut Yesus tetapi seringkali dalam hidup ini ada banyak hal yang terjadi, lalu kita merasa bahwa Tuhan meninggalkan kita dan itu semua menyebabkan kita menjadi kecewa dan gelisah. Kepada murid-murid-Nya dan kepada setiap orang yang mengalami kegelisahan seperti ini, Yesus berkata :”Jangan gelisah hatimu”. Tetapi Yesus tidak hanya menenangkan kegelisahan murid-murid dengan menyuruh mereka tidak perlu gelisah. Ia juga mengatakan hal-hal untuk mengatasi kegelisahan mereka.

Ada 3 hal yang dibicarakan Yesus untuk menenangkan kegelisahan murid-murid :

I. YESUS BERBICARA TENTANG IMAN.

Segera setelah perkataan “jangan gelisah hatimu”, Yesus melanjutkannya dengan ide tentang iman/kepercayaan.

Yohanes 14:1 – ‘Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu.

Perhatikan bahwa kata “percayalah” muncul 2 kali dalam ayat ini. Kedua kata ‘percayalah’ ini dalam bahasa Yunaninya bisa diterjemahkan sebagai indicative / pernyataan (‘Kamu percaya kepada Allah. Kamu juga percaya kepada-Ku’) atau imperative / perintah (‘Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku’). KJV menerjemahkan yang pertama sebagai pernyataan, dan yang kedua sebagai perintah.

KJV – ‘ye believe in God, believe also in me’ (engkau percaya kepada Allah, percayalah juga kepadaKu).

Calvin memilih terjemahan ini, tetapi hampir semua penafsir mengatakan bahwa keduanya harus dalam imperative / perintah, seperti dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia, RSV, NIV, NASB.

RSV : ‘believe in God, believe also in me’ (percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku). NIV – “…Trust in God; trust also in me” (percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku).
Jadi ini adalah sebuah perintah untuk percaya. Menarik bahwa perintah ini mengharuskan murid- murid percaya kepada Allah maupun kepada Yesus. Mereka tidak diperintahkan untuk percaya kepada Allah saja atau percaya kepada Yesus saja melainkan percaya kepada kedua-Nya. Karena itu tidak ada orang bisa beriman kepada salah satu saja.

Pulpit Commentary – Begitulah hubungan antara Allah dan Kristus sehingga iman kepada yang satu melibatkan / menyebabkan iman kepada keduanya. Apakah iman mulai dari sisi manusia atau ilahi, iman itu akan mendapati dirinya mencakup Bapa dan Anak, atau tidak kedua-duanya. Demikianlah, ketika Kristus muncul dalam dunia kita, mereka yang mempunyai iman yang sejati kepada Allah dengan rela / mudah percaya kepada-Nya, dan mereka yang tidak mempunyai iman yang sejati menolak-Nya. Iman kepada Anak yang telah berinkarnasi dan yang kelihatan merupakan ujian iman kepada Bapa yang tak kelihatan dan kekal.

Kalau demikian maka orang-orang atau agama yang hanya percaya kepada Allah saja tetapi tidak percaya kepada Kristus adalah orang-orang atau agama dengan iman yang salah. Orang-orang yang mengaku percaya kepada Allah tetapi pada saat yang sama menolak, menghina atau membenci Kristus pastilah memiliki iman yang tidak beres.

Yohanes 5:23 – supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.

Ini juga sekaligus membuktikan bahwa Yesus adalah Allah. Kitab Suci melarang kita untuk percaya kepada manusia, sebaliknya menyuruh kita percaya hanya kepada Allah (Yesaya 31:1; Yeremia 17:5-8). Bahwa di sini Yesus menyuruh murid-murid-Nya percaya kepada-Nya, menunjukkan bahwa Ia adalah Allah.

Lenski – Kedua kata ‘percayalah’ itu digunakan dalam arti yang sama, menuntut kepercayaan kepada Yesus seperti kepada Allah. Keduanya sama-sama layak dipercaya, dan dasar dari hal ini adalah keilahian Yesus, 10:30; 14:9; Matius 16:16.

Thomas Whitelaw – Seseorang yang semata-mata adalah manusia (jika ia adalah orang yang baik) tidak akan pernah menghubungkan namanya dengan nama Allah seperti yang Kristus lakukan di sini. Musa tidak pernah berkata : ‘Percayalah kepada Allah dan percayalah kepadaku.’

Nah, terlepas dari semua implikasi teologis yang muncul dari pernyataan Yesus ini, tetapi kata-kata Yesus : “percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” dimaksudkan untuk menenangkan kegelisahan murid-murid. Ini berarti bahwa iman adalah obat bagi kegelisahan.

Matthew Henry – Percaya kepada Allah melalui Yesus Kristus merupakan sarana yang luar biasa baik untuk menjauhkan kegelisahan dari hati. Sukacita iman merupakan obat terbaik guna melawan perasaan sedih. (Injil Yohanes 12-21, hal. 985).

William Barclay – Dalam waktu yang pendek, hidup para murid akan ambruk. Dunia mereka akan ambruk dan kacau balau. Pada waktu yang demikian itu hanya dapat dilakukan satu perkara saja – dengan keras memegang teguh kepercayaan kepada Tuhan. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Yohanes 8-21, hal. 240).

Ya, benar sekali! Memiliki kepercayaan yang teguh kepada Tuhan adalah cara untuk menghadapi segala macam kegelisahan dalam hidup. Ini ditunjukkan dalam banyak ayat Kitab Suci :

Yoel 2:21 – Jangan takut, hai tanah, bersorak-soraklah dan bersukacitalah, sebab juga TUHAN telah melakukan perkara yang besar!

Matius 14:27 – Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

Kisah Para Rasul 18:9-10 – (9) Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! (10) Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.”

Lukas 12:7 – bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.

Jelas terlihat bahwa kepercayaan kepada Tuhan dan firman-Nya menjadi kekuatan tersendiri di dalam menghadapi kegelisahan/problem hidup. Semakin kuat kepercayaan seseorang kepada Tuhan dan firman-Nya, semakin kuat pula ia dalam menghadapi kegelisahan hidup. Ketika seseorang menghadapi kekuatiran tentang kebutuhan hidupnya, ia bisa menghadapinya dengan percaya akan janji Tuhan dalam Mat 6:26.

Matius 6:26 – Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

Ketika seseorang menghadapi kegelisahan tentang masa depannya, ia bisa menghadapinya dengan percaya akan janji Tuhan dalam Yeremia 29:11.

Yeremia 29:11 – Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Ketika seseorang menghadapi dukacita karena kematian orang-orang yang dikasihi (orang percaya), ia bisa menghadapinya dengan percaya akan janji Tuhan dalam 1 Tesalonika 4:13-14.

1 Tesalonika 4:13-14 – (13) Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. (14) Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.

Ketika seseorang menghadapi bahaya yang mengancam hidupnya, ia bisa menghadapinya dengan percaya akan janji Tuhan Mazmur 23:4.

Mazmur 23:4 – Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku

Ketika seseorang menghadapi berbagai macam musibah, ia bisa menghadapinya dengan percaya akan janji Tuhan Roma 8:28.

Roma 8:28 – Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Dan masih banyak contoh lainnya.

BACA JUGA: 4 PERINTAH SEBELUM YESUS DATANG KEDUA KALI

Mengapa 2 orang yang menerima persoalan yang sama bisa berespon secara berbeda terhadap persoalan tersebut? Misalnya mengapa ada orang yang ketika menghadapi kemalangan bisa bersyukur sedangkan yang lainnya malah mengeluh dan bersungut-sungut? Mengapa ada orang yang ketika sakit bisa tetap bernyanyi sedangkan yang lainnya malah mengutuk? Mengapa ada orang yang ketika mengalami kedukaan bisa tetap tegar sedangkan yang lain justru menjadi rapuh dan marah kepada Tuhan? Mengapa ada orang yang putus cinta bisa tetap tenang sedangkan yang lain memilih meminum baygon? Mengapa ada orang yang bangkrut bisa tetap menerima kondisi tersebut dan terus melanjutkan hidupnya dan berusaha lagi sedangkan yang lain memilih untuk mengakhiri hidupnya? Semua itu bergantung dari seberapa kuat iman/percaya mereka kepada Tuhan dan firman- Nya. Dari sini kita bisa melihat betapa urgennya iman kepada Tuhan dan firman-Nya. Tanpa kepercayaan kepada Tuhan dan firman-Nya, orang tidak bisa menghadapi kegelisahan-kegelisahan hidup sesuai kehendak Tuhan. Lalu bagaimana supaya kita bisa memiliki iman yang teguh kepada Tuhan dan firman-Nya?

Roma 10:17 – Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Kalau begitu, semakin banyak kita mendengar/belajar firman Tuhan, maka iman kita semakin bertumbuh. Sebaliknya, kalau kita jarang mengisi diri dan pikiran kita dengan firman, maka iman kita tidak bertumbuh. Dan ini membuat kita tidak tidak akan mampu menghadapi berbagai macam kegelisahan di dalam hidup kita. Karena itu, mengingat kata-kata Yesus ini maka tekunlah mendengar dan belajar firman Tuhan karena itu akan menolong kita dalam menghadapi berbagai macam kegelisahan hidup. Perlu diketahui juga bahwa kata-kata “janganlah gelisah” maupun “percayalah”, ditulis dalam bentuk present imperative (kata perintah bentuk present), yang menunjukkan bahwa Tuhan menghendaki supaya perintah ini ditaati terus menerus. Karena itu mungkin saat ini saudara berada dalam problem yang besar dan banyak, kegelapan dan kebingungan yang berlarut-larut, janganlah gelisah, tetaplah percaya kepada Tuhan sebagaimana syair sebuah lagu rohani :

Saat ku tak melihat jalan-Mu Saat ku tak mengerti rencana-Mu Namun tetap kupegang janji-Mu
Pengharapanku hanya ada pada-Mu

Hatiku percaya…hatiku percaya Hatiku percaya….s’lalu kupercaya

II. YESUS BERBICARA TENTANG SURGA.

Setelah berbicara tentang masalah iman/kepercayaan, Yesus lalu berbicara tentang surga.

Yohanes 14:2 – Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu….”

Ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara kepercayaan kepada Allah dan Yesus dengan kekekalan/kehidupan setelah kematian.

Matthew Henry – “…untuk apa mereka harus mempercayakan diri kepada Allah dan Kristus? Mempercayakan diri demi kebahagiaan yang akan datang ketika tubuh dan dunia ini sudah berlalu, dan demi kebahagiaan yang terus berlangsung selama jiwa dan dunia abadi itu tetap ada. (Injil Yohanes 12-21, hal. 985).
Bandingkan :

1 Korintus 15:19 – “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia”.

Karena itu kalau saudara hanya mempercayai Allah dan Kristus hanya untuk hidup yang sekarang ini saja (ekonomi, kesehatan, keberhasilan, kesembuhan, dll), saudara orang yang paling malang di dunia. Kepercayaan kepada Allah dan Kristus memang bisa untuk hal-hal di dunia ini tetapi yang lebih penting daripada itu adalah untuk kehidupan yang akan datang.

Yesus berkata : ‘Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal’. Adabeberapa hal yang bisa dipelajari dari kalimat Yesus ini :

a. Kata-kata ‘rumah Bapa-Ku’ jelas menunjuk pada ‘surga’. Jadi, surga digambarkan sebagai ‘rumah’. Bandingkan :
2 Korintus 5:1 – Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia”.

KJV – ‘For we know that if our earthly house of this tabernacle were dissolved, we have a building of God, an house not made with hands, eternal in the heavens’ (Karena kami tahu bahwa jika rumah dari kemah di bumi ini dihancurkan, kita mempunyai sebuah bangunan dari Allah, suatu rumah yang tidak dibuat dengan tangan, kekal di surga).

b. Yesus mengatakan bahwa di surga itu ada ‘banyak tempat tinggal’.

Ada orang-orang yang memberikan arti yang sesat untuk kata-kata ‘banyak tempat tinggal’ ini, dan mengartikannya bahwa ini menunjuk pada adanya banyak tempat untuk orang-orang dari bermacam- macam kepercayaan dan agama.

Lenski – Kata ‘banyak’ diterapkan secara salah pada waktu itu dihubungkan dengan orang- orang dari segala jenis pandangan, keyakinan, iman, dan sebagainya; karena hanya orang-orang percaya yang sejati yang bisa masuk.

J. C. Ryle – Kepercayaan modern dari beberapa ahli teologia, bahwa Tuhan kita memaksudkan bahwa surga adalah suatu tempat untuk semua jenis pengakuan dan agama, kelihatannya sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh teks ini. Dari seluruh konteks, Ia jelas sedang berbicara tentang penghiburan khusus bagi orang-orang Kristen. (Expository Thoughts on the Gospels, John Vol. III, hal. 62).
Yohanes 14:6 lebih-lebih membuang kemungkinan penafsiran sesat ini.

Yohanes 14:6 – “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”.

Ada juga yang memberi arti yang salah untuk kata-kata ‘banyak tempat tinggal’ dengan mengatakan bahwa kata-kata ini menunjuk pada adanya perbedaan tingkat kemuliaan di surga (pandangan Adam Clarke). Sekalipun di surga memang ada perbedaan tingkat kemuliaan, tetapi dasar untuk hal itu harus diambil dari ayat-ayat lain, karena kata-kata di sini jelas tidak menunjuk pada arti tersebut. Arti yang benar dari ‘banyak tempat tinggal’ ini menunjuk pada cukupnya tempat di surga bagi semua orang percaya.

Matthew Poole – Dan di sana ada banyak tempat tinggal; ada cukup ruangan untuk semua orang percaya.

William Barclay – “…di dalam sorga ada tempat bagi semua manusia. Sebuah rumah duniawi bisa menjadi terlalu padat; suatu pondok dunia terkadang harus menolak para tamu…karena tempat penginapan itu sudah padat. Tidaklah demikian dengan rumah Bapa, karena sorga itu adalah luas seperti hati Tuhan dan ada tempat bagi semua orang. Yesus berkata kepada sahabat-sahabat-Nya : “Janganlah takut! Manusia mungkin akan menutup pintu bagimu. Akan tetapi di sorga tidak seorang pun akan menghadapi pintu tertutup”. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Yohanes 8-21, hal. 243).

Matthew Henry – Di sorga ada bnayak tempat tinggal, karena ada banyak anak Allah yang akan dibawa kepada kemuliaan, dan Kristus tahu jumlah mereka dengan tepat. Dia tidak akan kekurangan tempat karena kedatangan tamu yang lebih banyak daripada perkiraan-Nya.(Injil Yohanes 12-21, hal. 987).

Karena itu jangan kuatir tidak kebagian tempat di sorga! Janganlah juga saudara tidak memberitakan Injil, dengan pemikiran bahwa kalau terlalu banyak orang yang percaya kepada Yesus, nanti kita akan berdesak-desakan di sorga! Kalau saudara banyak memberitakan Injil dan menghasilkan banyak jiwa, paling-paling kita akan berdesak-desakan di gereja, tetapi tidak di surga! Jangan juga percaya doktrin dari Saksi-Saksi Yehuwa yang berkata bahwa yang masuk surga hanya 144.000 orang, dan pada sekitar tahun 1931, pada waktu jumlah mereka melampaui 144.000 itu mereka lalu ‘menciptakan’ tempat baru, yaitu Firdaus, yang mereka katakan sebagai bumi yang akan disempurnakan nanti. Jadi, yang tidak kebagian tempat di surga, akan dimasukkan ke Firdaus ini!

c. Tempat tinggal di surga itu merupakan tempat tinggal yang permanen.

Kata ‘tempat tinggal’ dalam KJV adalah ‘mansions’, dan dalam bahasa Yunani adalah “MONAI” (bentuk jamak). Matthew Henry mengatakan bahwa kata “MONAI” berasal dari kata “MANEO”, dan berarti tempat tinggal yang kekal. Jadi, kita tidak tinggal di sana hanya untuk sementara tetapi untuk selama- lamanya. Di dunia ini kita tinggal seperti di penginapan / hotel, tetapi di surga kita mendapat tempat tinggal yang tetap.

Pulpit Commentary – Yang dipikirkan adalah hidup yang menetap dan bukannya hidup yang mengembara. Yesus tahu sepenuhnya kehidupan mengembara yang bagaimana yang akan dijalani oleh para murid-Nya, pergi ke negara yang asing dan jauh. Mereka akan pergi ke tempat di mana Ia sendiri tidak pernah pergi. Makin mereka memahami pekerjaan ke mana mereka dipanggil, makin mereka akan merasa bahwa mereka harus pergi dari satu tempat ke tempat lain, memberitakan Injil sementara mereka masih hidup. Bagi orang-orang yang terus bergerak seperti itu, janji tentang tempat istirahat yang sejati adalah janji yang mereka butuhkan.

2 Korintus 5:1 – Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia”.

d. Semua ini menunjukkan bahwa surga adalah suatu tempat / lokasi, bukan sekedar suatu kondisi.

Dalam ayat 2-3 versi Kitab Suci Indonesia, kata ‘tempat’ muncul 5 kali, dan ini menunjukkan bahwa surga betul-betul merupakan suatu tempat.

Yohanes 14:2 -3 – (2) Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (3) Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

Konsekuensinya, neraka juga pasti merupakan suatu tempat.

Wahyu 20:10 – “dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya”.

Ini perlu ditekankan karena adanya ajaran yang mengatakan bahwa bahwa surga dan neraka bukanlah ‘suatu lokasi’ tetapi hanya ‘suatu kondisi’ menunjukkan suatu kebodohan dan sikap tidak peduli pada Kitab Suci!

Pulpit Commentary – Surga adalah suatu tempat tertentu. Yesus ada di sana dalam tubuh-Nya yang telah dimuliakan.

Herman Hoeksema – Surga adalah tempat yang tertentu, dan bukan semata-mata merupakan suatu kondisi / keadaan. (Reformed Dogmatics, hal. 422).

Jadi jangan percaya pada orang-orang yang mengatakan bahwa surga dan neraka bukanlah tempat melainkan kondisi saja.

Itulah hal-hal tentang surga yang dibicarakan oleh Yesus. Tetapi, apakah hubungan pembicaraan tentang surga ini dengan kegelisahan murid-murid?

Matthew Henry – “…hal ini ditawarkan sebagai pembangkit semangat di tengah masa sekarang yang penuh kegelisahan ini, bahwa ada kebahagiaan sorga yang sangat sesuai dan sanggup memenuhi harapan manusia dengan sangat mengagumkan. (Injil Yohanes 12-21, hal. 985).Benar sekali! Di dalam hidup ini ada banyak hal yang kita alami yang menyebabkan kekecewaan dan kegelisahan, bahkan penderitaan. Tetapi dengan memikirkan kemuliaan dan kebahagiaan surga yang akan kita terima nanti, itu menjadi penghiburan bagi kita. Misalnya dalam dunia ini kita mungkin tidak mempunyai harta kekayaan atau bahkan tempat tinggal yang memadai, tetapi ketika memikirkan tentang surga, ada penghiburan bagi kita karena di sana kita tidak mungkin tidak mendapat tempat karena di rumah Bapa “banyak tempat tinggal” sebagaimana syair sebuah lagu terkenal :

Aku t’lah puas dengan hidup s’karang Harta tak banyak rumah pun hina Tetapi nanti dalam kota yang kudus Kudapat rumah indah dan megah

Sebuah istana tersedia bagiku

Di balik bukit di neg’ri se’brang
Di sana nanti kita pun akan hidup Bersama Tuhan selamanya.

BACA JUGA: MENGAKUI KELEMAHAN

Dalam dunia ini kita mungkin terlalu lelah dengan segala macam persoalan sehingga kita bernyanyi “saya capai berjalan dalam dunia yang fana…” tetapi ketika memikirkan tentang surga, ada penghiburan bagi kita karena di sana kita akan bersitrahat dengan tenang.

Wahyu 14:13 – Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

Dalam dunia ini kita mungkin menderita karena berbagai macam serangan iblis, tetapi ketika memikirkan tentang surga, ada penghiburan bagi kita karena di sana iblis tidak ada lagi. Demikian juga kita mungkin merasa kesal dengan banyaknya nabi palsu, tetapi ketika memikirkan tentang surga, ada penghiburan bagi kita karena di sana mereka tidak ada lagi.

Wahyu 20:10 – dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.

Dalam dunia ini kita mungkin merasa menderita karena ulah orang-orang jahat, tetapi ketika memikirkan tentang surga, ada penghiburan bagi kita karena di sana kita tidak bertemu dengan mereka lagi.

Wahyu 21:8 – Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang- orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.”

Efesus 5:5 – Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.

Dalam dunia ini kita mungkin merasa bersedih karena sekalipun kita sudah berniat untuk hidup suci tetapi kita masih juga jatuh bangun dalam dosa, tetapi ketika memikirkan tentang surga, ada penghiburan bagi kita karena di sana dosa sudah tidak ada lagi.

Ibrani 12:23 – “…yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Allah, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna

Dalam dunia ini kita mungkin banyak berduka dan menangis karena kematian dari kekasih-kekasih kita (orang tua, anak-anak, suami, isteri, pacar, teman, opa, oma, dll), tetapi ketika memikirkan tentang surga, ada penghiburan bagi kita karena di sana kita akan bertemu dengan mereka lagi (kalau mereka orang percaya) di samping tidak akan ada kematian lagi.

Wahyu 21:4 – Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”

Dalam dunia ini kita mungkin banyak kekurangan atau bahkan miskin sehingga makan dan minum pun sudah, tetapi ketika memikirkan tentang surga, ada penghiburan bagi kita karena di sana lapar dan haus tidak ada lagi.

Wahyu 7:16 – Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi.

Karena itu setiap kali saudara mengalami penderitaan apa pun di dalam dunia ini, selalu memikirkan tentang surga karena itu bisa menjadi penghiburan bagi kegelisahan saudara.

2 Korintus 4:16-17 – (16) Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. (17) Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala- galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

III. YESUS BERBICARA TENTANG APA YANG AKAN IA LAKUKAN DI MASA YANG AKAN DATANG.

Setelah berbicara tentang surga, sekarang Yesus berbicara tentang apa yang akan Ia lakukan selanjutnya.

Yohanes 14:2 -3 – “…Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (3) Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

Ia berkata bahwa Ia akan pergi untuk menyediakan tempat di surga bagi para murid-Nya. Apa maksudnya “pergi” di sini?

Albert Barnes – ‘Aku pergi untuk menyediakan suatu tempat bagimu’. Dengan kepergian-Nya dimaksudkan kematian-Nya dan kenaikan-Nya ke surga.

Karena itu peristiwa kematian Kristus hingga kenaikan-Nya ke surga (yang kita peringati pada hari ini) adalah satu paket dari “kepergian-Nya” dengan tujuan menyediakan tempat di surga bagi umat tebusan-Nya.

Matthew Henry – Sorga akan menjadi tempat yang belum siap bagi orang Kristen seandainya Kristus tidak berada di sana. Ia pergi untuk mempersiapkan meja bagi mereka, mempersiapkan takhta bagi mereka (Lukas 22:30). (Injil Yohanes 12-21).

Lukas 22:30 – “bahwa kamu akan makan dan minum semeja dengan Aku di dalam Kerajaan-Ku dan kamu akan duduk di atas takhtauntuk menghakimi kedua belas suku Israel”.

Memikirkan tujuan ini akan menyingkirkan kegelisahan murid-murid :

Matthew Henry – Kamu bersedih memikirkan kepergian-Ku, padahal Aku pergi untuk melaksanakan tugas demi kamu, untuk masuk sebagai perintis bagimu. Ia pergi untuk mempersiapkan tempat tinggal bagi kita. (Injil Yohanes 12-21).

Selain itu Kristus juga berkata bahwa Ia akan kembali untuk membawa murid-murid-Nya ke surga yang Ia sediakan itu.

Yohanes 14:3 – Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

Ini jelas menunjuk pada saat kedatangan Kristus yang kedua. Walaupun orang percaya yang mati langsung menuju ke surga, tetapi itu hanya jiwa / rohnya saja, tubuhnya belum. Jadi, seluruh orang itu baru betul-betul bersama-sama dengan Kristus di surga pada saat Kristus datang kembali di mana pada saat itu tubuh dibangkitkan dan dipersatukan kembali dengan jiwa / rohnya, dan masuk ke surga secara utuh.

Kata-kata dalam Yohanes 14 3c :‘membawa kamu ke tempatKu’ tidak terlalu tepat terjemahannya. NASB: ‘receive you to Myself’ (menerimamu kepada-Ku sendiri).
NIV: ‘take you to be with me’ (membawamu untuk bersama-Ku). RSV: ‘take you to myself’ (membawamu kepada-Ku sendiri).
KJV: ‘receive you unto myself’ (menerimamu kepada-Ku sendiri).

Terjemahan hurufiahnya : ‘I will take you to be face to face with me’ (Aku akan membawamu untuk berhadapan muka dengan Aku). Lalu masih disambung lagi dengan Yohanes 14 3d : ‘supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada’.

Lenski – Kepergian-Nya bukanlah merupakan suatu perpisahan yang permanen tetapi merupakan suatu langkah yang perlu untuk suatu reuni yang mulia dan kekal.

Perhatikan satu hal menarik di sini bahwa walaupun Yohanes 14:1-3 jelas berbicara tentang surga, tetapi kata “surga” tidak muncul sama sekali di sana. Sebaliknya tujuan Kristus datang kembali menjemput murid-murid-Nya dinyatakan secara jelas :

Yohanes 14:3 – Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

Jadi tujuan Tuhan sebenarnya adalah bersama-sama dengan umat tebusan-Nya di dalam kekekalan. Bandingkan :

Yohanes 17:24 – “Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama- sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu, agar mereka memandang kemuliaanKu yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan”.

William Hendriksen : Begitu ajaibnya kasih Kristus untuk milikNya sehingga Ia tidak puas dengan gagasan tentang sekedar membawa mereka ke surga. Ia harus membawa mereka ke dalam pelukanNya sendiri.

John G. Mitchell : Hal yang penting bukanlah surga. Hal yang penting adalah bersama dengan Dia.
Dari sini terlihat bahwa Tuhan begitu mementingkan persekutuan / kebersamaan dengan saudara
yang adalah orang percaya. Apakah saudara juga mementingkan persekutuan dengan Tuhan? Apakah saudara menganggap mati sebagai suatu keuntungan (Filipi 1:21) karena dengan demikian saudara akan masuk surga atau karena saudara akan bersama dengan Kristus?

Filipi 1:21,23 – (21) Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (23) … aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus — itu memang jauh lebih baik;

Apakah dalam berbakti saudara hanya ‘pergi ke gereja’ atau ‘bersekutu dengan Tuhan’? Pada waktu bersaat teduh, apakah saudara melakukan sekedar sebagai tradisi, atau karena ingin bersekutu dengan Tuhan? Apakah pada waktu berdoa saudara hanya sekedar ‘meminta sesuatu / meminta terhindar dari sesuatu’ atau ‘ingin bersekutu dengan Tuhan’? Ingat, Tuhan sangat mementingkan persekutuan. Karena itu utamakanlah persekutuan bersama dengan Tuhan.

Dari ayat 3 ini juga menunjukkan bahwa kepergian Yesus ke surga menjamin bahwa kita yang percaya juga akan masuk ke surga karena Ia pergi menyediakan tempat bagi kita. Adalah aneh kalau Kristus pergi ke surga menyediakan tempat bagi seseorang tetapi orang itu tidak jadi ke surga, malah ke neraka. Itu tidak masuk akal dan tidak mungkin terjadi. Bandingkan :

Ibrani 6:20 – “di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya”.

Calvin – Dengan kata-kata ini Kristus menunjukkan bahwa tujuan dari kepergian-Nya adalah untuk mempersiapkan suatu tempat bagi murid-murid-Nya. Dengan kata lain, Kristus tidak naik ke surga dalam kapasitas pribadi, untuk tinggal di sana sendirian, tetapi supaya surga itu bisa menjadi warisan umum bagi semua orang saleh, dan supaya dengan cara / jalan ini sang Kepala bisa dipersatukan dengan anggota-anggotaNya.

Karena itu bersyukurlah karena dengan naiknya Kristus ke sorga menunjukkan suatu kepastian bahwa saudara dan saya pun akan menuju ke sana.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.